Oleh Farah Rahma Calista
Udara pagi Magelang yang sejuk menyambut kami saat berkumpul di rumah Amel yang kami jadikan sebagai titik temu. Aku, bersama tiga sahabatku sudah siap dengan pakaian olahraga dan tas punggung kecil. Sebagai warga Magelang, kami malu sendiri karena baru kali ini memiliki keberanian untuk mencoba mendaki gunung yang setiap hari terlihat dari kejauhan rumah kami.
Tujuan kami adalah Gunung Andong melalui Basecamp Sawit. Karena kami semua adalah pemula yang baru pertama kali menanjak, kami sepakat untuk melakukan pendakian tektok atau langsung pulang tanpa menginap. Tepat pukul tujuh pagi, setelah melakukan registrasi, kami mulai melangkahkan kaki dengan semangat yang menggebu-gebu.
Sebelum benar-benar memasuki pintu rimba, kami berhenti sejenak di sebuah tikungan jalan. Di sana terdapat sebuah kaca cembung. Kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama di kaca tersebut, mengabadikan wajah-wajah ceria kami sebelum nantinya akan bermandi keringat di jalur pendakian.
Langkah awal terasa menyenangkan karena kami memilih untuk melewati jalur lama. Sebagai penyemangat, Septi menyalakan pengeras suara kecil dari tasnya. Alunan lagu Hindia yang berjudul “Kita Ke Sana” mengiringi setiap langkah kami, liriknya seolah menjadi suntikan semangat bagi kami berempat yang sedang mencoba menaklukkan rasa takut pada ketinggian.
Jalur lama ini membawa kami menuju Pos 1 yang bernama Watu Pocong. Napasku mulai terdengar pendek-pendek saat jalur tanah mulai menanjak tajam. Kami sering kali berhenti hanya untuk sekadar mengambil napas, menyadari bahwa meskipun kami orang lokal, fisik kami tetap perlu beradaptasi dengan kemiringan medan.
Perjalanan berlanjut menuju Pos 2, yaitu Watu Gambir. Di sini, rimbunnya pepohonan pinus memberikan keteduhan yang luar biasa. Kami saling menyemangati satu sama lain, sesekali bersenandung mengikuti nada lagu yang masih setia mengiringi perjalanan kami melewati akar-akar pohon yang menonjol.
Tantangan sebenarnya terasa saat menuju Pos 3, Watu Wayang. Jalur semakin terbuka dan angin mulai berembus kencang, membawa aroma tanah pegunungan yang segar. Zulfa yang awalnya paling pendiam mulai banyak bercanda untuk menutupi rasa lelahnya, membuat suasana pendakian pertama kami ini terasa sangat berkesan.
Pukul setengah sepuluh pagi, kami akhirnya sampai di Puncak Utama Gunung Andong. Rasa lelah seolah menguap saat melihat pemandangan Desa Ngablak dari ketinggian. Di puncak ini, mata kami dimanjakan oleh barisan gunung-gunung besar yang berdiri gagah di sekeliling kami.
Perut yang mulai keroncongan membawa kaki kami menuju salah satu warung yang berdiri di dekat puncak utama. Kami memesan empat porsi mi instan rebus lengkap dengan telur. Menikmati mi instan panas di tengah udara pegunungan yang dingin adalah kenikmatan sederhana yang tidak ada tandingannya bagi pendaki pemula seperti kami.
Setelah tenaga pulih dan perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan singkat menyusuri punggungan gunung menuju Puncak Alap-alap. Jalurnya sempit dan menantang, namun pemandangan di sana jauh lebih tenang karena tidak terlalu ramai oleh pendaki lain. Kami mengambil beberapa foto lagi sebagai bukti bahwa kami berhasil mencapai titik ini.
Karena waktu sudah siang, kami memutuskan untuk segera turun. Namun, kami tidak kembali lewat jalur saat naik tadi. Kami memilih untuk turun melalui jalur via Pendem untuk merasakan suasana yang berbeda. Jalur Pendem ternyata memiliki karakteristik yang lebih landai namun cukup panjang memutar.
Selama perjalanan turun, kami lebih banyak tertawa dan mengobrol tentang betapa konyolnya persiapan kami yang sempat merasa gugup tadi malam. Lagu “Kita Ke Sana” kembali kami putar, namun kali ini dengan perasaan yang lebih lega karena misi utama kami hampir selesai.
Sekitar pukul dua siang, kami akhirnya tiba di basecamp via Pendem. Meskipun kaki terasa mulai pegal dan gemetar, perasaan bangga menyelimuti hati kami berempat. Ternyata mendaki gunung tidak semenakutkan yang kami bayangkan sebelumnya selama dilakukan bersama sahabat.
Dari basecamp Pendem, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju area parkir di Sawit. Perjalanan menyusuri jalan aspal desa ini terasa cukup jauh di bawah terik matahari siang yang mulai menyengat. Keringat kembali bercucuran di dahi kami saat melewati ladang-ladang milik penduduk setempat.
Keajaiban seolah muncul saat kami kembali tiba di depan pintu rimba via Sawit. Di sana terdapat seorang penjual es krim yang sedang mangkal. Tanpa pikir panjang, kami langsung menyerbu penjual tersebut dan membeli es krim untuk mendinginkan tenggorokan yang kering.
Rasa dingin dan manis dari es krim tersebut menjadi penutup yang sempurna untuk petualangan tektok kami hari ini. Sambil duduk di pinggir jalan, kami menikmati setiap jilatan es krim dengan penuh kemenangan. Kami adalah pemula, namun hari ini kami berhasil membuktikan bahwa kami bisa mencapai puncak.
Sore itu, kami pulang ke rumah masing-masing dengan pakaian kotor dan kaki yang lelah, namun dengan cerita baru yang luar biasa. Pendakian Gunung Andong ini mengajarkan kami bahwa keindahan alam Magelang jauh lebih bermakna saat dinikmati dengan perjuangan kaki sendiri.(*)