Tradis Manis di Balik Pabrik Gula

Mentari pagi di Kersana, Brebes, merayap malu di antara rimbun daun tebu yang menjulang gagah. Embun masih setia mendekap pucuk–pucuk daun, Bagai permata yang berkilauan sebelum sirna ditelan kehangatan. Tanah Kersana, sebagai saksi bisu zaman kolonial, kembali berdenyut menyambut musim panen. Inilah saatnya “Metikan” tiba, sebuah perayaan syukur yang telah berurat akar dalam jiwa Masyarakat.

Di sebuah gubuk sederhana di tepi ladang, Pak Dilah, dengan kerutan di wajahnya yang menyimpan segudang kisah panen, Tengah menyeruputi kopi manisnya. Di hadapannya, duduklah Nisa, cucunya seorang gadis remaja yang matanya berbinar tajam menantikan gemerlap Metikan.

Kowe ngerti, Nduk, Metikan iki dudu mung pasar malem biasa,” ujar Pak Dilah, suaranya serak namun penuh makna. “Iki jantunging Kersana sing bedheg deg-degan saben panen tebu teka.” (Kamu tahu, Nak, Metikan ini bukan hanya pasar malam biasa. Ini jantungnya Kersana yang berdebar-debar setiap panen tebu tiba.)

Nisa mengangguk antusias. “Iya, Mbah. Kaya mantenan agung, tapi sing dirayakke dudu panganten manungsa, nanging panganten tebu.” (Iya, Mbah. Seperti pernikahan agung, tapi yang dirayakan bukan pengantin manusia, melainkan pengantin tebu.)

Pak Dilah tersenyum bangga. “Bener, Nduk. Tebu-tebu kuwi dirias koyo penganten, lanang wadon. Iku lambang kesuburan bumi Kersana sing wes menehi rejeki marang awake dhewe.” (Bener, Nak. Tebu-tebu itu dihias seperti pengantin, laki-laki dan perempuan. Itu melambangkan kesuburan bumi Kersana yang sudah memberi rezeki kepada kita.)

Tak lama kemudian, suara gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat. Iring-iringan “Manten Tebu” mulai jalan dari area Pabrik Gula Tersana. Dua batang tebu pilihan, bermahkota janur kuning dan bergaun untaian bunga, diusung dengan khidmat. Mereka adalah simbol harapan, agar penggilingan tebu berjalan dengan lancar dan manisnya gula membawa kesejahteraan bagi seluruh warga.

Di belakang iring-iringan, “Metikan” mulai menggeliat. Lapangan luas di dekat pabrik gula bertransformasi menjadi panggung kehidupan semalam. Lampu-lampu warna-warni menari di kegelapan, menciptakan lukisan cahaya yang memukau. Aroma sosis dan baso bakar yang menggoda bercammpur dengan manisnya arum manis, menciptakan simfoni bau yang khas.

“Mbah, ayo ndang nang pasar malam!” Nisa menarik tangan kakeknya dengan tidak sabar. Pak Dilah ngguyu. “Sabar, Nduk. Pasar malam iki ombak rejeki kanggo wong cilik koyo awake dhewe. Akeh wong dodolan, akeh wong seneng-seneng, Pak Dilah terkekeh “(Sabar, Nak. Pasar mala mini ombak rezeki untuk orang kecil seperti kita, Banyak orang berjualan, banyak orang bersenang-senang.)

Mereka berbaur dengan lautan manusia. Para pedagang menjajakan dagangan mereka dengan suara riuh rendah, menawarkan pelangi barang dari pakaian hingga perabot rumah tangga. Anak-anak tertawa riang menaiki komedi putar, wajah-wajah mereka adalah bulan sabit dibawah rembulan buatan. Panggung dangdut berdentum, irama musiknya adalah denyut nadi malam itu.

Nisa terkesima melihat semua itu, “Mbah, kok rame banget koyo ngene?” (Mbah, kok ramai sekali seperti ini?) “Iki wujud Syukur, Nduk,” jawab Pak Dilah sambil mengamati keramaian. “Metikan iki dudu mung seneng-seneng, nanging uga jembatan silaturahmi. Kabeh wong Kersana kumpul dadi siji, ngrayakke berkahing bumi,” (Ini wujud Syukur, Nak. Metikan ini bukan hanya bersenang-senang, tetapi juga sebagai jembatan silaturahmi. Semua orang Kersana berkumpul menjadi satu, merayakan berkahnya bumi.)

Malam semakin larut, namun semangat Metikan tak kunjung padam. Di tengah gemerlap lampu dan riuhnya tawa, tradisi terus berlanjut, menjahit erat hubungan antara manusia, alam dan sejarah di bumi Kersana. Bagi Pak Dilah dan Nisa, Metikan bukan hanya sekedar pasar malam, melainkan memori yang akan terus diwariskan dari generasi ke generasi, sebuah cinta yang bersemi setiap kali tebu siap dipanen.(*)

Oleh Ismi Maesarah