Mitos Makam Mbah Boyong

Cuaca panas yang menyengat hari itu membuat aku ingin meminum air dingin, aku keluar kamar dan melihat kulkas ternyata ibu tidak membuat air es. Tanpa pikir Panjang, aku mengambil uang Rp. 2000 yang terletak di atas kulkas dan memberanikan diri  keluar rumah untuk membeli es, yang dikenal sebagai es cekek. Es cekek merupakan minuman es yang dijual warung rumahan dengan harga murah, yakni Rp.1000. 

Baru saja aku keluar dari rumah, matahari jam 13.00 WIB perlahan membakar kulitku. Karena tidak tahan dengan matahari yang menyegat, aku memutuskan untuk lari ke warung rumahan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediamanku. Aku memanggil penjualnya dengan sebutan Budhe. “Budhe… beli” aku berkata, sekali aku memanggilnya Budhe belum juga keluar rumah. Aku memanggilnya sekali lagi namun Budhe juga tetap belum keluar. Budhe baru keluar saat aku memanggilnya ke lima kalinya.

“Iyaa, mau beli apa?” Budhe bertanya pada ku bersamaan Budhe keluar dari rumah. “Teh jus gula batu, Budhe, es batunya banyakin ya, Dhe” jawabku. 

Budhe pun mulai membuatkan minuman yang aku pesan seraya bertanya “kamu udah pulang sekolah jam segini?” karena biasanya aku sekolahku baru keluar pukul 14.00 WIB dan pukul 16.00 WIB aku baru sampai rumah. Aku menjawab pertanyaan Budhe dengan berkata bahwa hari ini sekolah pulang cepat.

Selesai minuman es ku, rencana nya aku ingin langsung pulang ke rumah, namun teman ku si Nurul mengajak aku untuk main ke rumah Mama Iyan, Mama Iyan merupakan tetangga ku dan nurul yang biasanya kita kunjungi untuk berbincang dan bercanda Bersama. Namun tak jarang juga kami membantu pekerjaan rumah Mama Iyan seperti memasak. Aku menyetujui ajakan Nurul untuk bermain, namun sebelum itu aku mengunci pintu rumah terlebih dahulu karena kedua orangtua ku sedang bekerja.

“Assalamualaikum, Mama Iyan,” kami memberi salam Ketika memasuki rumahnya dan di sambut hangat dengan Mama Iyan 

“Eh kakak/kakak. Ayo sini masuk, Kak.” 

Setelah Mama Iyan berkata, kami pun masuk dan melihat Sofia, anak perempuan Mama Iyan yang saat itu masih balita sedang bermain. Kami pun dengan sigap menyapa Sofia dan bermain dengan adik manis itu.

Di rumah Mama Iyan kami bermain dan bercanda, dan Azan mulai berkumandang. Aku dan Nurul bersepakat untuk sholat Bersama di rumah Mama Iyan dan mulaimengambil air wudhu. Kami salat di kamar belakang rumah Mama Iyan yang konon katanya ada kepala gantung yang menempati kamar tersebut, saat itu aku masih berumur 13 tahun dan mempercayai bahwa itu benar adanya. Aku menepis semua dugaan buruk yang terlintas di kepalaku dan mulai membaca niat Salat Asar. Selesainya aku sholat, aku dengan terburu-buru melipat mukena Mama Iyan yang sedang ku pinjam karena aku sudah merasakan merinding Ketika Kembali bahwa di kamar itu terdapat hal yang semacam itu.

Nurul yang menyadari dengan ketakutan ku mulai meledekku, akum alu karena Mama Iyan, Nurul, dan Iyan menertawakan aku. Aku mengelak bahwa itu tidak benar adanya. Dan dalam sekejap Nurul menghentikan tawanya dan berkata, “Tahu nggak, aku dengar katanya kalau kamu lewat makam Mbah Boyong pada malam Jumat, kamu pasti bakal disesatin di sana.” 

Aku, Mama Iyan, dan Iyan tidak memercayai adanya hal tersebut.

Tak terasa, waktu berjalan dengan cepat saat itu, waktu Magrib sudah dekat yang berarti Ibu juga akan segera pulang. Aku berpamitan kepada Mama Iyan. 

Setibanya aku di rumah, aku mulai menyalakan lampu dan televisi seraya bersiap siap untuk mandi. Suara televisi aku kecangkan, karena aku terus terbayang dengan apa yang dikatakan Nurul dan tebersit dalam pikiranku bagaimana makam tersebut terlihat dari luar jalan.

Karena dari luar jalan, makam tersebut dikelilingi oleh pohon besar yang rindang yang membuatnya terlihat sedikit menyeramkan, aku membayangkan bagaimana jika tersesat dalam hutan tersebut malam-malam, dan seluruh keluargaku tidak ada yang tau bahwasanya aku tersesat kedalam hutan rindang tersebut. (*)     

Oleh Imamah Nur Pambudi Wangi