Silaturahmi dalam Tradisi Ngarak Barong Bekasi

Kota Bekasi adalah suatu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, yang memiliki sebuah tradisi khas, yaitu Ngarak Barong. Ngarak Barong adalah tradisi parade masyarakat yang biasanya dilakukan setelah hari pertama atau kedua Lebaran, dan umumnya dilaksananakan pada minggu pertama setelah Idulfitri. Tujuan utamanya adalah mempererat tali silaturahmi antara warga dan saudara. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para seniman lokal di Bekasi, dan diwujudkan melalui penampilan sepasang Barong laki-laki dan perempuan yang menggunakan topeng berwajah garang dan menyeramkan.

Walaupun tradisi Ngarak Barong sudah ada sejak lama, tradisi ini baru masuk ke Bekasi sekitar tahun 1940. Menurut almarhum kakek saya, sekitar zaman itu Ngarak Barong dilakukan sebagai ritual penolak bala  dengan tujuan untuk mengusir wabah yang bisa merusak pertanian. Namun, urbanisasi mengurangi lahan pertanian yang lama kelamaan mengubah konteks pelaksanaan tradisi ini. Sejak tahun 1970-an, fungsi dan bentuk tradisi mengalami pergeseran. 

Kini, Ngarak Barong di Bekasi lebih berfokus sebagai bentuk silaturahmi masyarakat, yang digelar seminggu setelah Idulfitri. Tradisi ini tetap mempertahankan nilai-nilai gotong royong, berbagi, dan mempererat tali persaudaraan antarwarga. 

Tradisi ini sempat menghilang sepenuhnya pada tahun 1980-an setelah wafatnya salah satu pelopor tradisi ini yang bernama Mang Samin Boing. Namun, sekitar tahun 2016 pemerintah Bekasi dan warga lokal mulai mempraktikan lagi tradisi ini sebagai cara melestarikan budaya lokal. Mereka mengadaptasi apa yang dulu digunakan sebagai penolak bala menjadi cara untuk menyatukan rakyat dan mengubah Ngarak Barong menjadi sebuah pertunjukan budaya tradisional. 

Pelestarian tradisi tradisional ini juga menjadi lebih mudah dengan persebaran dan meningkatnya teknologi. Sekarang, warga dapat menggunakan media sosial untuk menyebar tradisi ini ke seluruh Indonesia, tidak hanya Jawa saja. Bahkan, beberapa buku dan penelitian akademik sudah membahas tradisi ini, yang menandakan bahwa tradisi ini sudah mulai bangkit lagi dan akan lebih mudah untuk dilestarikan. Tradisi ini adalah bukti bahwa tradisi tradisional dapat tetap relevan, dan bahkan memperkaya kehidupan sosial di masa kini.(*)

Oleh Rifky Fathuzaman