Pada zaman dulu, ketika Walisongo masih berdakwah di Nusantara, mereka mendakwahkan agama Islam dengan melalui beragam metode dan cara, sehingga kemudian masyarakat mudah menerima dan memeluk islam. Salah satu diantara Walisongo itu adalah Sunan Kudus yang mendakwahkan Islam di daerah Kudus, dia mendakwahkan agama islam dengan lemah lembut dan penuh rasa toleran terhadap masyarakat yang pada saat itu kebanyakan masih beragama Hindu.
Dia mendakwahkan Islam dengan cara yang bijaksana, salah satunya adalah ketika salat sering menunggangi seekor sapi dan menambatkannya di luar masjid. dia juga membangun menara disamping masjid yang kemudian menjadi tempat adzan, dan menara tersebut memiliki kemiripan dengan arsitektur bangunan Hindu, sehingga kemudian masyarakat menjadi tertarik dengan ajaran yang dia bawa dan banyak diantara mereka yang kemudian masuk Islam dan menjadi pengikut atau santrinya.
Kabar tentang kesuksesan Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam dan banyaknya masyarakat yang menjadi pengikutnya ini kemudian terdengar sampai ke telinga seseorang yang dianggap sakti di Jawa Timur yang bernama Ki Ageng Kedu. Dia sebagai orang yang sakti merasa penasaran, dan dia pun kemudian segera pergi ke Kudus dengan menaiki sebuah tampah untuk mengadu kesaktiannya dengan Sunan Kudus.
Ketika sampai Kudus, Ki Ageng Kedu tidak langsung turun menemui Sunan Kudus, namun dia berputar-putar diatas mengelilingi Kudus dengan tampah yang dinaikinya untuk menunjukkan kesaktiannya sambil berteriak memanggil-manggil nama Sunan Kudus. Masyarakat Kudus yang melihat hal itu segera melaporkan dan memberitahukan hal tersebut kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus yang diberitahu oleh masyarakat kemudian keluar ke suatu tempat yang di sekitarnya memiliki tanah yang becek.
Melihat Sunan Kudus, Ki Ageng Kedu tertawa terbahak-bahak dan menantang Sunan Kudus untuk beradu kesaktian dengannya. Sunan Kudus tidak menanggapi, namun dia hanya menunjuk dan mengarahkan jarinya ke arah Ki Ageng Kedu dan kemudian ketika Sunan Kudus mengarahkan telunjuknya ke bawah, tiba-tiba angin kencang berembus dan tampah yang dinaiki Ki Ageng Kedu terpelanting jatuh ke tanah yang becek.
Ki Ageng Kedu segera menyadari bahwa yang dia hadapi bukan orang sembarangan, kemudian dia pun pergi dari tempat itu, dan mencari tempat untuk membersihkan dirinya. Kemudian setelah dia mendapatkan tempat untuk membersihkan diri, dia turun dan membersihkan dirinya yang penuh lumpur.
Setelah membersihkan diri, pada mulanya Ki Ageng Kedu berniat untuk pergi menemui Sunan Kudus, namun karena malam telah tiba, dia mencari tempat untuk menginap terlebih dahulu. Kemudian keesokan harinya, Ki Ageng Kedu menemui Sunan Kudus dan kemudian dia pun berguru dan menjadi murid dari Sunan Kudus. Dan daerah bertanah becek tempat jatuhnya Ki Ageng Kedu tadi kemudian dinamai dengan nama Jember, yang diambil atau berkembang dari kata “ngecember”, yaitu kata yang menggambarkan keadaan yang becek. (*)
Oleh Rizqi Fauzan D.H.