Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Pekalongan, terdapat sebuah sungai besar nan deras bernama Kali Sengkarang. Sungai ini mengalir membelah hutan lebat dan perbukitan, membawa kesuburan ke tanah-tanah di sekitarnya. Konon, Kali Sengkarang bukan hanya aliran air biasa. Ia adalah jelmaan dari seekor naga putih yang ditugaskan para leluhur untuk menjaga keseimbangan alam di wilayah utara Pulau Jawa.
Di tepi sungai itu berdirilah sebuah desa kecil bernama Bener. Nama desa ini dipercaya berasal dari kata “banar” atau “benar,” karena penduduknya selalu menjunjung tinggi kejujuran dan kelurusan hati. Bener dikenal sebagai tempat bermukimnya para petapa dan empu zaman dahulu. Konon, pada malam-malam tertentu, suara gamelan halus terdengar dari dasar sungai, seolah para leluhur tengah mengadakan kenduri gaib.
Beberapa kilometer dari Bener, ada desa tua bernama Pencongan. Nama “Pencongan” berasal dari bentuk tanahnya yang menjorok dan terbelah oleh anak sungai Sengkarang. Menurut cerita turun-temurun, tanah itu dulu ditarik oleh makhluk halus penjaga sungai saat marah karena ada manusia yang melanggar larangan mandi saat malam Jumat Kliwon. Sejak saat itu, warga Pencongan tidak berani mencuci kaki di sungai setelah matahari tenggelam.
Kisah mistis lainnya menyebutkan bahwa Kali Sengkarang dahulu dijaga oleh tiga sosok gaib yang disebut Tiga Penjaga: Nyai Sengkar, Joko Wulung, dan Mbah Gatut. Nyai Sengkar dipercaya sebagai penunggu bagian hulu sungai dan sering menampakkan diri sebagai perempuan berbaju putih di tepian bambu. Joko Wulung adalah makhluk tinggi besar yang menjaga bagian tengah sungai, sementara Mbah Gatut dipercaya bermukim di muara dan bertugas menenangkan arwah yang hanyut.
Pada masa penjajahan Belanda, daerah Bener dan Pencongan menjadi tempat persembunyian para pejuang. Mereka memanfaatkan aliran sungai dan gua-gua kecil di sepanjang Kali Sengkarang. Namun, sering kali para pejuang menghilang secara misterius. Masyarakat percaya bahwa sungai memilih siapa yang boleh lewat dan siapa yang akan ‘diambil’ karena hati yang tidak bersih.
Secara geografis, Kali Sengkarang memang memiliki aliran yang cukup deras saat musim hujan dan bisa menyebabkan banjir. Namun, airnya sangat jernih saat musim kemarau, hingga masyarakat percaya bahwa air dari sungai ini bisa digunakan untuk pengobatan. Bahkan hingga kini, beberapa warga masih mengambil air dari sumber mata air Sengkarang untuk membuat ramuan tradisional.
Ada pula kisah tentang batu besar di tengah sungai yang dinamakan “Batu Aji.” Batu ini hanya muncul saat bulan purnama dan dipercaya sebagai tempat bertapa para leluhur. Siapa pun yang bisa duduk di atasnya saat malam satu Suro konon akan diberi petunjuk hidup dari alam gaib. Tapi, banyak pula yang hilang dan tidak kembali saat mencoba mencapainya.
Anjuran leluhur menyebutkan bahwa siapa pun yang melewati Desa Bener dan Pencongan harus menjaga ucapannya. Dilarang bersiul di dekat sungai, karena akan memanggil penunggu air. Dan jangan pernah mengambil benda apapun yang terlihat mencurigakan di sekitar sungai, karena bisa jadi itu adalah “penanda” gaib yang hanya boleh disentuh oleh keturunan tertentu.
Kini, meski zaman telah berubah dan desa-desa tersebut mulai dipenuhi teknologi dan kendaraan, kisah-kisah tentang Kali Sengkarang masih hidup. Anak-anak kecil masih mendengarkan cerita para sesepuh sambil duduk di bawah pohon waru. Mereka tahu, bahwa sungai bukan hanya air yang mengalir, tapi juga tempat bersemayamnya sejarah, jiwa, dan pesan dari masa lalu yang tak boleh dilupakan.(*)
Oleh Naura Sahda Auralia