Danyang Dusun Delok

Pada abad ke-14, saat Kerajaan Majapahit mulai meredup dan Kerajaan Demak Bintoro mulai menampakkan kejayaannya, terjadi sebuah peristiwa penting yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah komunitas di dekat wilayah yang kini dikenal sebagai Mrapen. Sebuah rombongan dari Majapahit dikirim menuju Demak, membawa berbagai peralatan dan bahan material untuk pembangunan Keraton Demak. Di antara para pengiring, terdapat seorang perempuan tua yang dikenal sebagai dukun bayi dan perawat bayi.

Perjalanan yang panjang membuat rombongan tersebut harus beristirahat di suatu tempat yang saat itu belum bernama, namun dikenal memiliki sumber api yang menyala terus-menerus. Lokasi itu kini disebut Mrapen. Saat rombongan beristirahat, sang perempuan tua merasa bahwa tempat tersebut memiliki hawa yang cocok untuk menetap. Ia memutuskan untuk tinggal di sekitar lokasi tersebut, tidak mengikuti rombongan ke Demak.

Perempuan tua itu kemudian dikenal oleh warga sekitar sebagai Mbah Bayi, karena keahliannya membantu persalinan dan merawat bayi. Keberadaannya sangat membantu warga di desa-desa sekitar yang saat itu masih terpencar-pencar. Banyak ibu-ibu dari kampung datang meminta pertolongannya. Ia tinggal di sebuah wilayah yang kemudian dinamakan Delok.

“Mbah, mbah! Tolong istri saya. Sudah waktunya melahirkan!” teriak seorang pria sambil membawa istrinya yang kesakitan.

Dengan tenang, Mbah Bayi menjawab, “Tenang, Nak. Serahkan padaku. Bayimu akan lahir dengan selamat.”

Setelah beberapa tahun menetap, kehadiran Mbah Bayi menarik perhatian banyak orang. Warga mulai berdatangan dan menetap di sekitar tempat tinggalnya. Mereka mendirikan rumah, membuka lahan, dan hidup berdampingan. Lambat laun, terbentuklah sebuah dukuh kecil yang hidup harmonis. Nama Delok mulai dikenal sebagai tempat yang ramai dan penuh kehidupan.

Beberapa tahun kemudian, datanglah seorang utusan dari Kerajaan Demak bernama Mpu Supo, seorang empu pembuat keris dan pusaka. Ia memilih Mrapen sebagai lokasi untuk membuat pusaka karena adanya api abadi yang menyala besar tanpa pernah padam. Api ini memudahkan prosesi penempaan logam, sesuatu yang sangat penting dalam pembuatan keris.

Setiap kali Mpu Supo membuat pusaka, warga sekitar berkumpul untuk menonton. Anak-anak disekitar mrapen juga ikut menyaksikan dengan penuh rasa ingin tahu. Warga menyebut kegiatan ini dengan istilah “Delok”, yang dalam bahasa Jawa berarti melihat atau mengamati sambil berkata-kata. Dari sinilah nama tempat itu semakin melekat. Delok, tempat orang-orang menyaksikan prosesi sakral pembuatan pusaka.

“Mpu, kok bisa ya apinya tidak padam-padam?” tanya seorang bocah kecil dengan mata berbinar.

Mpu Supo tersenyum, “Itulah anugerah alam, Nak. Api ini bukan sembarang api. Ini titisan energi leluhur yang menjaga negeri.”

Waktu terus berjalan. Mbah Bayi wafat dalam usia lanjut dan dimakamkan sekitar 300 meter dari pusat api abadi Mrapen. Warga yang mengenangnya dengan hormat terus merawat makam tersebut. Hingga kini, makam Mbah Bayi berada tepat di depan kantor Kecamatan Kebonagung dan sering diziarahi oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dianggap berjasa membuka dan membangun wilayah Ndelok.

Begitulah kisah terbentuknya dukuh Delok, yang berawal dari persinggahan sebuah rombongan Majapahit, diwarnai dedikasi seorang dukun bayi, hingga datangnya empu supo dari Demak. Kisah ini menjadi bagian penting dalam sejarah lokal yang tak hanya mengandung nilai budaya, tetapi juga nilai spiritual dan sosial yang tinggi.(*)

Oleh Maya Salsabila