Tradisi Cucurak Masyarakat Sunda Jawa Barat dalam Menyambut Bulan Ramadan

Cucurak adalah tradisi khas masyarakat Sunda, khususnya di wilayah Bogor, Jawa Barat. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-menurun dan masih dipertahankan hingga kini sebagai bagian penting dari budaya lokal Sunda. 

Cucurak berasal dari kata Sunda “curak-curak” yang artinya bersenang-senang atau bergembira bersama keluarga dan kerabat. Tujuan utama tradisi cucurak adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diterima, mempererat silahturahmi, sebagai tanda datangnya bulan Ramadan dan persiapan sebelum menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Di Desa Singasari tinggallah warga dengan berbagai macam kegiatan dan profesi warganya sehari-hari. Nevy merupakan salah satu anak di desa itu, ia merupakan mahasiswa di salah satu Universitas di Semarang. Sepulangnya ia dari perantauan dia sudah diberikan janji oleh ibunya untuk mengantar ke pasar dalam menyiapkan berbagai macam suguhan dan hidangan yang akan disajikan pada saat acara Cucurak yang akan diselenggarakan di desanya. Sesampainya di rumah Nevy pun langsung menghampiri ibunya.

“Ibu, kita jadi ke pasar?”

“Jadi dong. Kamu tunggu di depan ya sambil manasin motor.”

Setelah bersiap Nevy dan ibunya pun bergegas pergi ke pasar pada sore hari. Pasar yang dituju memang berkegiatan utama saat malam hari, dan yang ingin membeli berbagai macam sayur-mayur bisa datang pada sore hari karena keadaan sayur masih segar. Di perjalanan Nevy pun bertanya kepada ibunya mengenai acara Cucurak yang akan diselenggarakan besok di rumahnya.

“Bu kenapa sih tiap tahun desa kita selalu mengadakan acara Cucurak ini?”

“Oh tentu ini merupakan tradisi yang sudah melekat di budaya kita dalam menyambut bulan suci tentunya.”

“Berarti acara tradisi ini merupakan hal yang penting ya, Bu?”

“Betul sekali. Walaupun memang tidak ada kewajiban dalam hukum islam mengenai tradisi ini, namun yang bisa dipahami adalah tradisi ini merupakan hal yang baik dalam menyambut bulan suci Ramadan yang akan segera datang dan juga di dalamnya terdapat hal yang baik seperti bermaaf-maafan salah satunya.”

“Oh jadi gitu ya, Bu.”

“Oh iya, ini tidak sekadar prosesi tradisi, tapi juga bagaimana kita sebagai warga desa melestarikan tradisi yang begitu baik itu agar tetap lestari.”

Setelah membeli semua kebutuhan yang akan diperlukan untuk acara cucurak, Nevy dan ibunya pun kembali ke rumah untuk mempersiapkan suguhan yang akan dihidangkan. Nevy pun sedikit heran melihat banyak daun pisang. 

“Bu, kenapa sih daun pisang ini selalu ada dan menjadi alas hidangan?”

“Oh itu karena nilai daun pisang ini begitu dalam maknanya untuk mengajarkan kita arti dalam kebersamaan karena nantinya daun pisang ini akan diletakkan bersama-sama dalam satu area yang besar. Para tamu undangan yang akan memakannya juga dengan cara bersama-sama dalam satu wadah yang sama, yaitu dengan daun pisang.”

Setelah diceritakan oleh ibunya, Nevy pun akhirnya tahu bagaimana makna dari daun pisang dari salah satu acara prosesi yang ada dalam Cucurak. 

Keesokan hari pun tiba dengan para tamu undangan warga desa pun datang ke rumah Nevy. Pak Kades pun juga hadir dan memberikan sepatah dua patah kata untuk sambutan dalam acara Cucurak tersebut. Dalam sambutannya Pak Kades berterima kasih kepada seluruh warga yang sudah bisa hadir dalam mengikuti acara Cucurak dan tentunya mengharapkan tradisi ini dapat dilaksanakan dengan baik. 

“Para warga desa sekalian, tentu acara Cucurak ini bukan sekadar seremonial tapi dapat kita jadikan sebagai tradisi dan budaya kita untuk dipertahankan.” 

Acara yang dinantikan pun tiba. Tradisi cucurak semakin menyenangkan dengan adanya hidangan makanan sederhana seperti nasi liwet, tahu, tempe, ikan asin, serta lalapan dan sambal yang disajikan di atas daun pisang. Hidangan itu kemudian dinikmati bersama-sama secara lesahan dengan penuh kegembiraan. (*)

Oleh Nevyana Putri Kirania