Tugumuda yang Dulu Hanya Tempat untuk Dilewati

Oleh Akbar Satria Pratama

Jujur, selama bertahun-tahun saya lewat Tugumuda, saya nggak pernah benar-benar memperhatikannya. Buat saya waktu itu, ya cuma bundaran biasa. Ada tugu batu di tengahnya, agak ketinggalan zaman, warnanya abu-abu tua. Sampai suatu hari guru sejarah saya bercerita dengan suara yang sedikit bergetar. Sejak itu, saya mulai melirik tugu itu dengan cara yang berbeda.

Tugumuda lokasinya persis di jantung kota Semarang. Tepat di perempatan besar antara Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda. Kalau dari arah Simpang Lima, tinggal jalan lurus terus nggak belok-belok. Dari sini, kita bisa lihat Lawang Sewu di seberangnya, juga kantor gubernur yang megah itu. Tugu sendiri sebenarnya tidak besar. Tingginya mungkin cuma sekitar 8 meter. Mudah sekali dilewatkan kalau kita lagi buru-buru.Nama “Muda” di situ bukan berarti tugu ini masih muda umurnya. Tapi untuk mengenang pertempuran lima hari di Semarang, tepatnya tanggal 14 sampai 19 Oktober 1945. Waktu itu para pemuda berperang melawan tentara Jepang. Banyak yang gugur. Saya pernah dengar cerita dari nenek saya yang waktu itu masih kecil. Beliau bilang, selokan-selokan di sekitar Lawang Sewu warnanya merah. Saya nggak tahu persis, tapi setiap kali dengar cerita itu, bulu kuduk saya merinding.

Secara bentuk, tugu ini agak unik. Bagian bawahnya lebar, lalu semakin ke atas semakin runcing. Di keempat sisinya ada relief atau gambar timbul yang menggambarkan suasana pertempuran. Sayangnya, sekarang gambar-gambar itu sudah mulai aus. Ada yang tertutup lumut, ada yang coretan-coretan nggak jelas. Saya pernah mendekat dan mencoba menebak bentuk aslinya, tapi susah.

Sekarang ini, banyak orang yang datang ke Tugumuda bukan untuk belajar sejarah. Kebanyakan anak muda duduk-duduk di taman sambil main HP. Ada yang bawa skateboard, ada yang jualan mainan gelembung. Keluarga-keluarga juga sering datang, biasanya sambil membawa makanan ringan. Saya sendiri kadang ikut duduk di sana kalau sore, cuma menikmati angin sambil lihat lalu-lalang kendaraan.

Kenangan yang paling saya ingat adalah waktu kelas 5 SD. Sekolah saya mengadakan jalan sehat dan garis finisnya tepat di Tugumuda. Waktu itu saya sangat kepanasan, hampir pingsan, lalu duduk di tangga tugu itu sambil minum es teh yang dibungkus plastik. Ibu guru saya menegur, katanya jangan buang sampah sembarangan karena tempat itu sakral. Waktu itu saya cuma manggut-manggut. Sekarang baru saya memahami maksudnya.

Bagi masyarakat Semarang, Tugumuda sebenarnya punya peran yang cukup penting. Tempat ini jadi titik kumpul kalau ada demo atau unjuk rasa. Jadi, titik kumpul juga ada saat peringatan Hari Pahlawan setiap tahun. Bahkan banyak pasangan yang mau nikah memilih lokasi ini untuk foto prewedding. Tugu ini sudah seperti “halaman depan” kota Semarang, meskipun tidak resmi.

Dulu, sebelum tahun 2018, kawasan Tugumuda cukup kumuh. Lampu penerangan minim, banyak sampah berserakan, dan tidak sedikit orang gelandangan yang tidur di sekitar monumen. Malam hari rasanya nggak nyaman kalau lewat sendirian. Sekarang sudah banyak berubah. Ada taman yang rapi, lampu hias warna-warni, bahkan air mancur menari. Tapi saya sedikit sedih juga karena tugu aslinya jadi kelihatan kecil di antara semua hiasan yang ramai itu.

Masalahnya sekarang, perawatan tugu ini kurang maksimal. Relief-reliefnya makin rusak karena polusi udara dan lumut. Beberapa bagian sudah tidak jelas lagi bentuknya. Selain itu, banyak pengunjung yang nekat naik ke atas tugu hanya untuk berfoto, padahal sudah ada larangan. Satpam yang jaga cuma satu orang, jelas tidak cukup untuk mengawasi dari semua sisi.

Kalau dibandingkan dengan Monas di Jakarta, Tugumuda jelas kalah besar dan kalah terkenal. Kalau dibandingkan dengan Tugu Pahlawan di Surabaya, namanya juga kurang terdengar di kancah nasional. Tapi justru di situlah kelebihannya. Tempat ini tidak pernah terlalu ramai. Tidak ada antrean panjang; tidak ada pedagang yang memaksa membeli sesuatu. Saya bisa duduk santai di taman tanpa diganggu siapa pun.

Harapan saya untuk Tugumuda tidak muluk-muluk. Saya tidak ingin tempat ini berubah menjadi kawasan wisata yang hiperkomersial. Biarlah dia tetap sederhana. Yang penting, kebersihan dijaga dan relief-reliefnya dirawat dengan baik. Saya juga berharap sekolah-sekolah di Semarang lebih sering mengajak murid-murid berkunjung ke sini, bukan sekadar ke mal atau tempat wisata modern. Biar mereka tahu bahwa kotanya sendiri menyimpan cerita yang berat dan berdarah.

Sekarang, setiap kali saya melewati Tugumuda, saya berusaha berhenti sebentar. Tidak lama, mungkin cuma lima menit. Saya mematikan motor, duduk di taman, dan memandangi tugu itu. Saya ingat cerita ibu guru saya yang suaranya bergetar. Saya ingat cerita nenek tentang selokan merah. Saya bukan orang yang terlalu patriotik. Tapi setidaknya saya tidak ingin menjadi orang Semarang yang lupa. Karena lupa, rasanya seperti menghianati mereka yang dulu jatuh di tempat ini.