Jejak Kenangan di Curug Lawe

Oleh Aldila Putri Maharani

Duduk di bangku SMA, tentu seorang remaja penuh rasa penasaran akan dunia. Begitupun aku, yang meskipun lahir dan besar di Kota Semarang, Jawa Tengah, tapi nyatanya masih banyak hal yang belum aku ketahui. Tentunya muncul rasa penasaran untuk mencoba.

Di bangku SMA Kelas XI, aku mengalami perjalanan yang hingga saat ini masih meyimpan kenangan yang cukup membuatku enggan melakukan pendakian atau hal-hal yang berhubungan dengan hutan lebat. Perjalanan yang awalnya kupikir akan menjadi pengalaman menyenangkan tapi ternyata dalam sekejap berubah menjadi pengalaman penuh ketegangan. Bahkan hingga saat ini masih terekam jelas rasa takut, lelah, dan lega dalam waktu yang bersamaan.

Pagi itu, pada pukul tujuh, aku dan beberapa teman sudah berkumpul di rumah salah satu temanku. Dengan tujuan awal yang sederhana, berlatih memasak untuk persiapan lomba memasak antarkelas di sekolah. Cukup pagi untuk berkumpul bersama dan pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan memasak yang dibutuhkan. Semua tampak terencana dan tertata seperti biasa.

Namun, rencana memanglah hanya rencana. Kapan pun dan di mana pun bisa berubah. Rencana kami tiba-tiba berubah ketika salah satu temanku berkata, “Curug yuk, dekat kok dari sini.” Seketika semua orang terdiam, dan bertatapan satu sama lain. Dalam hitungan detik semua bersorak setuju. Dalam kurun waktu beberapa menit saja, rencana ke pasar dan memasak itu lenyap.

Sejak awal aku merasa ragu untuk ikut. Aku hanya memakai pakaian santai, sandal, dan tas selempang kain berwarna putih berisi ponsel, dompet, dan barang-barang lain. Tidak ada persiapan sama sekali. Rasa ragu tentu semakin semakin besar. Teman-teman terus meyakinkan, “Cuma jalan kaki 30 menit aja, kok.” 

Karena tidak enak untuk menolak dan rasa penasaranku juga memberontak, aku menyetujui untuk ikut.

Perjalanan menuju gerbang utama Curug Lawe terasa menyenangkan. Pemandangan yang sangat indah dan menenangkan mata. Pepohonan berdiri rapat di sisi-sisi jalan, dengan langit pagi terlihat cerah dengan terik matahari yang terasa hnangat.

Setelah memarkirkan kendaraan kami masing-masing, kami mulai berjalan menuju Curug Lawe. Dan di sanalah aku mulai menyadari ucapan “cuma 30 menit aja” tak sesederhana itu. Jalur yang kami lewati begitu curam, jalan sempit dengan sisi kiri langsung jurang, dipenuhi tangga yang seolah tak ada habisnya. Jalanan yang sempit dan licin membuatku harus semakin memperhatikan langkahku. Sisi kanan, kiri, depan, belakang hanya hutan lebat.

Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di sebuah warung kecil untuk sarapan. Napas kami sudah terengah-engah dan kaki mulai terasa pegal. Kami berusaha mengisi perut kami dengan berbagai makanan yang dijual di warung itu agar kuat melanjutkan perjalanan. Sambil duduk, aku sempat berkata, “Kalau tahu jalurnya begini, aku tadi pulang aja ke rumah.” 

Teman-teman tertawa menanggapinya. Kami melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda.

Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami sampai di Curug Lawe. Rasa lelah seketika terbayar oleh pemandangan di depan mata. Air terjun menjulang tinggi dengan aliran air yang sangat deras. Kabut menyelimuti sekelilingnya, menciptakan suasana indah dan megah. Untuk kali pertama aku pergi ke air terjun, dan rasanya aku hanya ingin diam memandangi dari jauh. Melihat bagaimana orang-orang mendekati air terjun. Aku dan teman-teman menyempatkan untuk mengabadikan momen di dekat air terjun. Beberapa dari kami besenda gurau sembari duduk di bebatuan yang dilewati aliran aiar terjun, sementara yang lain sibuk berfoto mencari sudut terbaik.

Sementara itu, aku yang sedang duduk di atas bebatuan mengadahkan tangan dan menatap ke atas. Aku merasa ada yang tidak beres. Percikan air yang awalnya kukira berasal dari air terjun terasa semakin banyak dan semakin deras. Aku berujar kepada beberapa teman di dekatku, “Ini kayaknya gerimis hujan, bukan dari air terjun.” 

Tak ada yang memercayaiku, dan mereka tetap asyik mengabadikan momen.

Aku pun menepi di ujung jalan sambil berteduh menjauhi area air terjun. Dan ternyata memang benar, percikan air itu makin terasa bahkan setelah aku menjauhi area air terjun. Salah seorang teman dekatku, Naya, menghampiriku dan ikut berdiri di sampingku. Beberapa saat kemudian, tetesan air itu benar-benar berubah menjadi hujan dderas. Aku dan Naya langsung berteriak memanggil yang lain, “Ayo balik! Iki udan tenanan (Ayo pulang! Ini hujan betulan).” 

Saat itu kami langsung panik mencoba mencari tempat yang bisa untuk berteduh. Tapi apa yang bisa diharapkan di hutan belantara seperti itu. Hanya ada beberapa warung yang jaraknya masih cukup jauh. Kami mencoba menjauh dari area air terjun.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih menegangkan dibandingkan saat kami berangkat sebelumnya. Aku dan Naya berjalan bersama lebih dahulu dari yang lain dengan bergandengan satu sama lain. Suasana terasa sangat mencekam, dengan hujan turun begitu derasnya, kabut tebal menutupi pandangan dan menutupi jurang-jurang, dan jalanan berubah licin dipenuhi airan air hujan. Butiran air hujan yang terasa dingin menusuk kuliat hingga terasa sangat sakit. 

Rasanya saat itu aku ingin menyerah dan menangis, kepalaku dipenuhi ketakutan akan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Hampir tiap menit aku berujar ke Naya, “Aku takut, Naya. Kalau kita nggak bisa pulang gimana?” Naya terus menenangkan walaupun aku tahu dia pasti lelah mendengar seluruh keluh kesahku saat itu. 

Saat akhirnya kami sampai di gerbang keluar, rasanya sangat lega. Di luar sana, tidak ada hujan. Langit terlihat cerah, matahari bersinar terik, dan udara terasa panas. Aku berdiri beberapa saat sambil berusaha mengatur napas, seolah baru keluar dari mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Rasanya betulan seperti mimpi buruk. Rasanya dapat keluar dari sana seperti sebuah keajaiban. 

Curug Lawe menjadi pengalaman pertamaku mengunjungi air terjun. Dan mungkin untuk terakhir kalinya. Karena rasa takut itu masih terekam jelas di kepalaku. Namun, di balik rasa takut itu, nyatanya masih tersimpan cerita yang kini menjadi kenangan terbaik sekaligus terburuk di hidupku. Kami datang untuk bersenang-senang, tapi kami pulang dengan membawa pelajaran hidup berupa “kebersamaan, keberanian, dan arti saling menjaga dalam pertemanan”. 

Hingga saat ini, tiap mendengar Curug Lawe aku teringat bagaimana rasa takut saat itu berubah menjadi kenangan yang berharga. (*)