Jejak Kota Lama dalam Museum  

Oleh Sahrul Sopyan

          Museum Kota Lama Semarang berlokasi di Jl. Cendrawasih No. 1A, Purwodinata, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, tepatnya di Bubakan. Sebelum berdiri Museum Kota Lama Semarang, di tempat ini berdiri bangunan air mancur yang selanjutnya direvitalisasi menjadi museum bersejarah. Untuk masuk ke Museum Kota Lama Semarang, disarankan memesan tiket terlebih dahulu secara online di aplikasi Lumpia yang tersedia di App Store maupun Play Store. Pengunjung ke Museum Kota Lama Semarang dibatasi 30 orang per sesi dengan durasi waktu 45 menit tiap sesi. Jam operasional mulai dari pukul 09.00 hingga 15.00. Sebelum masuk ke museum, akan diperiksa tiket dan dilakukan scan aplikasi. 

          Kota Lama Semarang memiliki peran penting sebagai warisan budaya dan sejarah yang mempresentasikan jejak panjang kolonialisme dan dinamika perkembangan kota. Dikenal sebagai “Little Netherlands”. Kawasan ini dipenuhi bangunan bersejarah bergaya kolonial yang dibangun antara abad ke-17 dan awal abad ke-20. Kehadiran arsitektur kolonial di kota lama tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga menggambarkan perubahan sosial, ekonomi dan politik yang terjadi pada masa kolonial.

          Museum ini berfungsi sebagai penjaga memori kolektif masyarakat dan penjaga identitas, serta memainkan peran penting dalam pendidikan publik. Museum tersebut tidak hanya menampilkan koleksi artefak dan benda-benda bersejarah, tetapi juga memberikan konteks naratif yang membantu masyarakat memahami makna  dari setiap elemen sejarah yang ada. Museum menurut International Council of Museums (ICOM) merupakan sebuah institusi yang memiliki tugas mengoleksi, merawat, dan memamerkan benda bersejarah serta informasi manusia yang berwujud maupun tidak berwujud dan alamaya untuk tujuan penelitian, studi, dan hiburan.

          Museum ini terdiri dari tiga ruangan yang masing-masing menjelaskan masa-masa berbeda. Ketika pengunjung tiba di resepsionis, mereka akan diberikan penjelasan mengenai aturan dan panduan oleh seorang pemandu yang disediakan oleh pihak museum

          Ruangan pertama menghadirkan pengunjung pada pengalaman 3D sejarah awal kota Semarang. Sejarahnya dimulai sekitar abad ke-8 Masehi sebagai daerah pesisir bernama Paragota (sekarang jadi Bergota) di bawah Mataram Kuno yang kemudian tumbuh menjadi pelabuhan penting. Nama Semarang berasal dari kata “asem” dan “arang” dan diberikan oleh Ki Pandan Arang pada abad ke-15. Kota ini berkembang pesat di bawah VOC dan menjadi pusat pemerintahan serta ekonomi.

          Ruangan kedua di Museum Kota Lama Semarang berfokus pada visualisasi perkembangan bangunan bersejarah di kawasan tersebut melalui pameran foto-foto kuno sampai kini yang sering kali memfokuskan pada masa kolonial Belanda, pembentukan Oud-Sion, dan evolusi infrastruktur kota dengan didukung oleh teknologi visual yang imersif.

          Ruangan ketiga Museum Kota Lama Semarang menampilkan sejarah perkembangan  Kota Semarang setelah masa kejayaan Benteng VOC, termasuk temuan arkeologi depo lokomotif Stasiun Jurang tahun 2018. Ruangan ini juga menyajikan replika trem uap dan temuan benda-benda sejarah lainnya.

          Arsitektur bangunan museum ini memiliki ciri khas yang serupa dengan bangunan bersejarah lain di kawasan ini, seperti Gereja Blenduk. Kesan klasik dengan langit-langit tinggi dan ventilasi besar membuat suasana museum terasa sejuk dan nyaman sekaligus menghadirkan nuansa lampu  yang autentik.

           Pencahayaan di dalam museum dirancang agar pengunjung dapat menikmati setiap koleksi dengan jelas tanpa menghilangkan kesan historinya. Tata letak koleksinya juga dibuat runtut berdasarkan periode waktu sehingga pengunjung dapat mengikuti alur sejarah dan mudah dipahami.

Sirkulasi di dalam museum sangat penting untuk menciptakan alur yang nyaman bagi pengunjung. Museum Kolam Lama Semarang: alur sirkulasi dirancang untuk tetap mempertahankan bentuk dasar kolonial, namun dengan beberapa modifikasi agar sesuai dengan kebutuhan pengunjung modern. Ruang yang jelas dan aksesibilitas yang baik dapat meningkatkan pengalaman belajar dan interaksi pengunjung dengan koleksi museum. 

Museum Kota Lama Semarang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi. Banyak mahasiswa dan pelajar datang untuk belajar langsung mengenai sejarah lokal. Melalui museum ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan mencintai sejarah kotanya sendiri. 

Selain nilai edukasi, museum ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Banyak pengunjung yang datang untuk mengabadikan momen dengan latar bangunan klasik yang fotogenik. Perpaduan antara sejarah dan keindahan arsitektur menjadikan museum ini sebagai tempat wisata menarik sekaligus bermakna.

Secara keseluruhan, Museum Kota Lama Semarang menjadi simbol pelestarian sejarah dan identitas kota. Kehadirannya mengajarkan masyarakat bahwa kemajuan kota saat ini tidak terlepas dari perjalanan panjang masa lalu melalui museum ini. Cerita tentang Kota Semarang terus hidup dan dapat dipelajari oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.(*)