Legenda Raden Patah dan Berdirinya Kesultanan Demak

Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika Raja Brawijaya V memimpin, datanglah seorang putri dari negeri Campa (wilayah Vietnam sekarang), yang dikenal dengan nama Putri Campa. Kecantikannya memesona siapa saja yang melihatnya. Karena kecantikannya itu, ia diperistri oleh Prabu Brawijaya, meskipun ia memeluk agama Islam yang mulai berkembang di pesisir utara Jawa. Namun, keberadaan Putri Campa tidak disukai oleh para brahmana dan bangsawan istana yang masih menganut agama Hindu-Buddha. Para penasihat istana mengatakan bahwa kelak anak dari Putri Campa akan menjadi penyebab runtuhnya Majapahit. Mendengar ramalan tersebut, Prabu Brawijaya diliputi kebimbangan. 

Akhirnya, dengan berat hati, ia mengusir Putri Campa yang saat itu sedang mengandung. Sang putri kemudian diantar oleh abdi setianya ke daerah Palembang. Di Palembang, Putri Campa melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan cerdas. Ia diberi nama Raden Hasan, namun lebih dikenal dengan nama Raden Patah. Sejak kecil, Raden Patah tumbuh sebagai anak yang rajin, bijak, dan menunjukkan bakat kepemimpinan. Saat remaja, ia mulai mempelajari ajaran Islam dari para ulama yang menetap di Palembang. Semangatnya dalam menuntut ilmu membawanya merantau ke Jawa, mencari guru yang lebih alim dan terkenal.

Di Jawa, Raden Patah belajar kepada Sunan Ampel di Surabaya, salah satu dari Wali Songo. Sunan Ampel mengakui kecerdasan Raden Patah dan membimbingnya tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam tata pemerintahan. Ia lalu dinikahkan dengan keponakan Sunan Ampel sebagai bentuk kepercayaan yang besar. Setelah beberapa waktu, Sunan Ampel menyuruhnya untuk membuka pusat dakwah di daerah Bintoro, Demak. Di Demak, Raden Patah mulai membangun pesantren dan menyebarkan ajaran Islam. Ia mendapat dukungan luas dari rakyat pesisir utara Jawa yang telah lama menerima pengaruh Islam. Dalam waktu singkat, Bintoro tumbuh menjadi pusat kegiatan dakwah, perdagangan, dan pendidikan Islam.

Sementara itu, kondisi Majapahit semakin melemah. Konflik internal, perebutan kekuasaan, dan masuknya pengaruh asing membuat kerajaan yang dahulu jaya itu perlahan runtuh. Banyak bangsawan dan rakyat Majapahit mulai hijrah ke Demak, mengakui Raden Patah sebagai pemimpin baru. Dengan restu dari para wali dan rakyat, serta fakta bahwa Raden Patah adalah putra kandung Prabu Brawijaya, ia dinobatkan sebagai Sultan Demak pertama pada sekitar tahun 1475 M, dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah. Maka, berdirilah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama dan terbesar di tanah Jawa.          

Di bawah kepemimpinannya, Demak berkembang menjadi pusat dakwah Islam dan kekuatan politik. Ia membangun Masjid Agung Demak, yang konon dibangun bersama para wali dan memiliki arsitektur khas dengan tiang utama (soko guru) yang berasal dari serpihan kayu sisa. Masjid ini menjadi simbol kekuatan spiritual dan kultural Islam di Nusantara.

Raden Patah juga memimpin berbagai ekspedisi militer, termasuk serangan terhadap sisa kekuatan Majapahit di Daha yang dipimpin oleh raja Girindrawardhana, untuk menyatukan wilayah Jawa di bawah kekuasaan Islam. Meski penuh tantangan, perlahan pengaruh Demak meluas hingga pesisir utara Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan dan Sumatera. 

Kesultanan Demak tidak hanya dikenal sebagai pusat kekuasaan, tetapi juga sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Para wali, seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, terus mendampingi sang sultan, memastikan bahwa kekuasaan dijalankan dengan keadilan dan kebijaksanaan.

Raden Patah wafat setelah memimpin dengan gemilang. Ia dikenang sebagai tokoh besar yang menjadi jembatan antara era Hindu-Buddha dan Islam di Jawa. Legenda tentang asal-usulnya, perjuangannya, dan kemuliaannya tetap hidup dalam ingatan rakyat, menginspirasi generasi setelahnya.(*)

Oleh Leandra Maulana Alfaridzi