Di masa lalu, Sungai Cisadane mengalir jernih membelah wilayah Tangerang, menghidupi desa-desa di sekitarnya. Warga hidup tenteram, mengandalkan sungai untuk mencari ikan dan mengairi sawah. Namun, ketenangan itu sirna ketika muncul teror dari makhluk-makhluk gaib. Buaya-buaya besar dengan sisik sekeras baja mulai sering muncul, menyerang siapa pun yang berani mendekati sungai. Konon, pemimpin mereka adalah Ratu Siluman Buaya, makhluk sakti berwujud setengah manusia setengah reptil yang telah ratusan tahun menguasai sungai itu.
Di sebuah desa kecil di bantaran Cisadane, hiduplah seorang pemuda gagah bernama Pendekar Cisadane. Ia bukanlah keturunan bangsawan, tapi kesaktiannya dipercaya warisan dari leluhurnya yang merupakan penjaga sungai. Setiap pagi, ia melatih jurus-jurus bela diri di tepi sungai, dan setiap malam ia bersemedi untuk menyelaraskan dirinya dengan alam. Warga desa sering melihatnya duduk termenung memandangi air sungai, seolah bisa mendengar bisikannya.
Suatu hari, tragedi terjadi. Seorang anak kecil bernama Joko hilang saat mandi di sungai. Warga yang panik hanya menemukan jejak kaki besar di tepian dan sobekan kain kecil di atas batu. Semua yakin itu ulah buaya-buaya siluman. Pendekar Cisadane pun mengikatkan ikat kepala merahnya, mengambil pedang pusaka peninggalan ayahnya, dan bersumpah: “Aku takkan biarkan sungai kehidupan kita terus dijadikan tempat teror.”
Perjalanan menuju hulu sungai penuh rintangan. Pendekar Cisadane harus melewati jeram berbahaya dan hutan lebat yang dipenuhi binatang buas. Setelah tiga hari berjalan, ia tiba di sebuah goa besar di tebing sungai. Dari dalam gua itu terdengar suara desisan dan bau amis menyengat. Puluhan buaya dengan mata merah menyala segera mengepungnya saat ia mendekat.
Dengan jurus andalannya, “Gelombang Cisadane”, sang pendekar berhasil mengalahkan buaya-buaya penjaga itu satu persatu. Tiba-tiba, air sungai bergolak hebat. Dari kedalaman muncul sosok wanita dengan tubuh bersisik dan mata kuning menyala. “Berani-beraninya manusia lemah mengganggu kerajaanku!” teriak Ratu Siluman Buaya, suaranya menggema membuat pepohonan bergoyang.
Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Ratu Siluman mengeluarkan racun mematikan dari mulutnya, sementara Pendekar Cisadane menghindar dengan lincah sambil menyerang dengan pedang pusakanya. Saat pertarungan mencapai puncaknya, sang pendekar terdesak hingga ke tepi jurang. Darah mengucur dari luka di bahunya. Dalam keputusasaan, ia teringat nasihat almarhum ayahnya: “Kekuatan sejati bukan di otot, tapi di ketulusan hati untuk melindungi.”
Ajaib! Seketika itu pula, air sungai tiba-tiba naik membentuk gelombang raksasa yang menyapu Ratu Siluman. Konon, roh leluhur penjaga sungai datang membantu. Dengan sisa tenaga, Pendekar Cisadane melemparkan pedang pusakanya tepat ke jantung Ratu Siluman. “Sungai ini milik semua makhluk yang hidup rukun, bukan tempat keserakahanmu!” serunya lantang.
Ratu Siluman menjerit kesakitan. Tubuhnya perlahan berubah menjadi batu, sementara buaya-buaya lain lari ketakutan. Pendekar Cisadane kemudian menemukan Joko yang ternyata masih hidup, terkunci dalam sangkar emas di dalam goa. Ketika mereka kembali ke desa, seluruh warga menyambut dengan sukacita.
Sejak hari itu, Sungai Cisadane kembali tenang. Pendekar Cisadane menjadi legenda. Banyak pemuda ingin berguru padanya, tapi ia tetap memilih hidup sederhana. “Aku hanya alat semata,” katanya rendah hati setiap kali dipuji. Hingga kini, warga percaya arwahnya masih menjaga sungai. Setiap kali angin berhembus di atas air Cisadane, seolah terdengar bisikan: “Jagalah alam, niscaya ia akan menjagamu.” Dan batu berbentuk buaya di tepi sungai itu menjadi pengingat akan kisah heroik sang pendekar.(*)
Oleh Aradhana Pratama