Sesosok Misterius di Rumah Lamaku

Hujan turun perlahan sore itu, menciptakan pola-pola samar di kaca jendela ruang tengah. Suasana rumah menjadi lebih senyap dari biasanya, seolah setiap suara tertelan oleh dinginnya udara. Aku duduk sendirian, sebuah buku terbuka di pangkuanku, namun pikiranku tak sepenuhnya tertambat pada halaman yang sedang kubaca.

Dari arah dapur, langkah pelan terdengar mendekat. Pembantuku yang bernama Mbak Siti muncul dengan membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkannya di meja di depanku tanpa banyak bicara, lalu menarik kursi dan duduk di seberangku. Wajahnya tampak ragu, seperti menyimpan sesuatu yang telah lama tertahan di dadanya.

Setelah beberapa saat, ia mulai berbicara dengan nada hati-hati. Katanya, ada sesuatu di rumah ini yang selama ini tidak kuketahui. Ia menyebutkan bahwa rumah kami, terutama bagian lantai dua, telah lama dihuni oleh sosok yang tak kasat mata berwujud tua dan tinggi. Sosok tersebut tak pernah benar-benar pergi selama beberapa tahun.

Menurutnya, sosok itu tinggal di dalam gudang tua di lantai dua atas. Ruangan yang tak pernah kami sentuh, yang bahkan seolah terlupakan oleh waktu. Sosok itu digambarkannya sangat tinggi, lebih tinggi dari manusia mana pun, dengan wajah keriput dan mata gelap yang dalam. Aura yang dibawanya bukan sekadar menyeramkan, melainkan menekan, membuat orang yang merasakannya seakan sulit bernapas.

Ia mengatakan bahwa ayahku bisa melihat makhluk itu. Bukan hanya merasakan, tapi benar-benar melihat kehadirannya. Karena itulah, selama bertahun-tahun, Ayah selalu bersikap sangat waspada setiap berada di rumah, terutama saat berada dekat dengan tangga menuju lantai dua. Ia menjaga suasana rumah tetap tenang, seolah paham bahwa ketenangan adalah satu-satunya hal yang bisa menahan makhluk itu tetap diam di tempatnya.

Dulu, setiap malam Ayah akan memeriksa seluruh pintu dan jendela, namun yang paling sering ia periksa adalah pintu gudang. Ia memastikan pintu itu terkunci rapat, dan tak satu pun anggota keluarga pernah diizinkan masuk ke sana. Jika ada yang bertanya, jawabannya selalu singkat dan tegas: tidak perlu ke atas, tidak ada yang penting di sana.

Mbak Siti melanjutkan ceritanya bahwa makhluk itu tidak sepenuhnya pasif. Ia dapat menjadi terganggu ketika suasana rumah menjadi kacau seperti pertengkaran, kegaduhan, atau bahkan mosi yang meluap. Dalam situasi seperti itu, hal-hal aneh kerap terjadi seperti barang tiba-tiba jatuh dari tempatnya.

Aku mulai mengingat banyak hal yang dulu kuanggap kebetulan. Seperti malam-malam saat aku kecil, ketika aku merasa ada yang mengawasi dari atas tangga, atau saat ayah tiba-tiba terlihat tegang tanpa alasan jelas. Kini semua itu mulai terasa masuk akal, seperti potongan-potongan teka-teki yang akhirnya membentuk gambar utuh.

Menurut Mbak Siti, Ayah tidak pernah mencoba mengusir makhluk itu. Ia tahu, sosok itu tidak akan pergi. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menjaga agar batas tidak dilanggar atau bisa disebut agar tidak ada yang mengganggu ruangnya.

Sejak hari itu, aku mulai memandang rumah ini dengan cara yang berbeda. Setiap langkah, setiap derit tangga, terasa memiliki arti. Dan aku mulai memahami, bahwa selama ini, Ayah bukan hanya menjadi pelindung keluarga, tapi juga penjaga batas antara kami… dan sesuatu yang tak pernah sepenuhnya hidup, namun juga tak pernah mati, di lantai dua rumah lama kami.

Untungnya, kami sekeluarga sudah pindah rumah walaupun jarak antara rumah lama dan rumah baru kami tidak terlalu jauh. Rumah yang kini aku tempati, terasa sangat nyaman karena tidak ada gangguan dari makhluk goib atau makhluk lainnya.

Semua ini hanyalah cerita dan untuk kebenarannya hanya Tuhan yang tahu.(*)

Oleh Nabila Alifia Setiawati