Campur Aduk Emosi di Dufan

Oleh Ibnu Rusyadi Hakiki

Tepat satu tahun yang lalu saat masih berada di bangku SMA, saya memiliki salah satu momen yang menempel dengan baik dalam ingatan saya. Saya dan teman-teman saya saat itu membuat suatu rencana untuk pergi ke salah satu tempat hiburan paling terkenal di Jakarta, bahkan Indonesia! Dufan. Pergi ke sana dengan teman sebaya merupakan salah satu hal yang sangat ingin saya lakukan saat saya SMA. Karena itu saya membuat rencana untuk mengajak teman-teman saya pergi ke sana.

Awalnya, saya memikirkan tentang kesibukan masing-masing teman saya. Maka saya mencoba untuk berkoordinasi dengan yang lain untuk membagi tugas seperti siapa yang mencari tiket, mencocokkan jadwal, menyusun rangka kegiatan apa yang akan kami lakukan di sana, serta dengan modus transportasi apa yang akan kami gunakan.

Setelah semua tugas itu saya bagikan ke masing-masing teman, salah satu dari mereka menawarkan satu hal yang sangat-sangat menarik. Mengapa? Karena dari hal tersebutlah kami dapat meringankan biaya untuk pergi ke sana. Apa idenya? Dia menawarkan pembelian tiket lewat pamannya yang bekerja di dalam taman bermain tersebut. Karena dengan membeli lewat pamannya, kami bisa menghemat 2/3 dari harga tiket normalnya, namun ilegal. Tetapi siapa yang tidak tergiur? Kamipun tentu mengambil tawaran tersebut.

Tibalah hari keberangkatan. Semuanya sudah kami persiapkan dari waktu kumpul hingga kepulangan nanti. Kami bersepakat untuk mengendarai mobil untuk sampai ke sana. Namun sebelum itu kami berkumpul terlebih dahulu di salah satu rumah teman saya. Seperti orang biasa pada umumnya, mereka “ngaret” dalam perjalanan karena berbagai alasan, hingga akhirnya kami berangkat 30 menit lebih lama dari yang dijadwalkan. 

Dalam perjalanan, Jakarta Utara seperti hari-hari biasanya, panas, debu yang bertebaran di mana-mana, kemacetan, dan kendaraan-kendaraan besar yang berlalu-lalang mengantar muatan yang sangat tinggi. Kami sudah mulai kelelahan, namun tidak menurunkan antusiasme kami untuk bersenang-senang di Dufan nanti.

Setelah melewati perjalanan yang membuat kami sedikit kelelahan, akhirnya kami sampai di area Ancol. Kami harus memasuki gerbang pertama ini sebelum masuk ke tempat tujuan utama, yaitu Dufan. Jarak gerbang utama ke Dufan lumayan jauh, dan kami pun memutuskan menaiki “Bus Wara-Wiri” yaitu transportasi umum khusus yang berkeliling di area Ancol. Kami disambut dengan sangat ramah oleh petugas-petugas di sana, hingga rasa kesal kami karena kelelahan pun mulai memudar dan mulai bersiap untuk menaiki wahana-wahana ekstrem yang ada di sana.

Saat tiba di gerbang Dufan, kami sangat terburu-buru karena rasa tidak sabar kami untuk bermain, namun saat ditanya satpam dari mana kami membeli tiketnya, salah satu teman kami membuat kesalahan fatal. Kami seharusnya bilang kepada satpam bahwa kami membeli tiket tersebut secara daring di situs Dufan langsung. Namun dia mengatakan  bahwa dia mendapatkan tiket tersebut dari pamannya. Dari sinilah masalah kami muncul, satpam pun curiga, karena memang tidak seharusnya tiket itu dikomersialkan, karena hanya khusus untuk keluarga dari pegawai Dufan tersebut.

Rasa takut pun menyelimuti kami. Kami ketahuan dan benar-benar takut bahwa kami akan dibawa ke pihak berwajib atas hal itu. Tapi salah satu teman kami tetap bersikeras bahwa kami membeli tiket tersebut secara daring walau bukan di situs yang resmi. Namun satpam sudah biasa mendapati tindakan seperti ini, dan kami tetap ditahan di satu ruangan khusus untuk ditanyakan kejelasan mengenai tiketnya.

Hampir dua jam kami berada di ruangan khusus itu. Dingin, panik, takut, dan khawatir kami rasakan  pada waktu yang sama. Kami takut rencana kami gagal, namun kami lebih takut lagi jika kami dibawa lebih lanjut untuk diadili atas perilaku kami. Di tengah-tengah ketegangan tersebut, ada salah satu pegawai yang berusaha menengahi kami. Kami diminta untuk membuat perjanjian bahwa kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Pegawai tersebut berusaha berkomunikasi dengan satpam bahwa tindakan yang kami lakukan merupakan kenakalan remaja ringan yang masih bisa untuk dimaafkan. Karena kebaikan hari dari pegawai dan satpam itu, kami tetap diberikan izin untuk memasuki dan bermain di area Dufan.

Setelah kejadian itu, kami berusaha untuk tetap menjaga mood kami agar tetap senang dan mengalihkannya ke hiburan-hiburan yang ada di Dufan, kami menaiki banyak sekali wahana yang ada di sana: dari “Istana Boneka” yang diperuntukkan untuk anak-anak kecil, hingga wahana yang ekstrem seperti “Halilintar” yang ada batasan tertentu untuk menaikinya. Kami sangat bersenang-senang di sana, hingga kami lupa bahwa beberapa saat sebelumnya kami sempat berada di situasi yang benar-benar terbalik dari perasaan senang kami saat itu.

Sore hari di Dufan, kami benar-benar menghabiskan seluruh energi kami untuk menaiki semua wahana yang ada, hingga langit mulai gelap. Untuk mengisi kembali tenaga kami yang hilang, kami mampir ke resto di sekitar area Ancol. Posisi kami sudah berada di luar area Dufan. Kami sangat menikmati makan kami yang ditemani oleh terbenamnya matahari, langit yang menggelap dan suara bising keramaian yang mulai hilang membuat istirahat kami lebih syahdu saat itu. Setelah selesai makan, kami pergi ke tepi pantai untuk mengabadikan momen sebanyak-banyaknya, untuk mengenang tentang betapa banyaknya emosi yang kami rasakan pada hari itu.(*)