Di balik hijaunya perbukitan Kendal, tepatnya di Desa Bebengan, Kecamatan Boja, tersimpan sebuah jejak peradaban yang nyaris terlupakan oleh sejarah nasional, namun terus hidup dalam ingatan warga. Jejak itu milik seorang tokoh spiritual yang dihormati sebagai penyebar Islam lokal, yang dikenal dengan nama Sunan Bromo. Ia bukan bagian dari Wali Songo yang dikenal luas, tetapi perannya dalam menyelaraskan ajaran Islam dengan budaya Jawa, khususnya lewat pewayangan, menjadikannya tokoh yang dikenang dan dimuliakan oleh masyarakat sekitar.
Menurut Karomah, “Sunan Bromo merupakan tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon. Setelah menyelesaikan tugas dakwah di Banyubiru, ia menetap di Desa Bebengan dan membangun padepokan sebagai pusat penyebaran agama.” Dari padepokan inilah, Islam mulai berkembang secara damai dan berakar dalam tradisi masyarakat setempat. Keberadaan padepokan tersebut tidak hanya menjadi tempat ibadah dan belajar agama, tetapi juga ruang dialog budaya yang inklusif.
Berbeda dari pendekatan keras atau dogmatis, Sunan Bromo mengajarkan Islam dengan seni dan kelembutan, terutama melalui media wayang kulit. Dalam setiap pertunjukan, ia bukan hanya menyuguhkan kisah Mahabharata atau Ramayana, tetapi menyisipkan nilai-nilai Islam dalam bentuk alegori dan simbolisme Jawa. Karakter seperti Semar, Arjuna, hingga Bima dimaknai ulang sebagai tokoh yang mencerminkan sifat-sifat spiritualitas dan moral Islami.
Salah satu petuah yang dikenal turun-temurun dari beliau berbunyi, “Bukan panah Arjuna yang mengalahkan kegelapan, tapi kejernihan hatinya. Iman itu bukan di tangan, tapi di dalam jiwa.” Kalimat ini masih sering dipetik dalam berbagai forum budaya dan keagamaan sebagai cermin pendekatan dakwahnya yang mengedepankan kedalaman batin, bukan kekuasaan lahiriah. Ia tidak pernah bermusuhan dengan budaya; justru menjadikannya sahabat dalam menyampaikan risalah.
Hingga hari ini, tradisi pewayangan masih hidup di Desa Bebengan, tetapi dengan ciri khas tersendiri. Menurut Nur Khafidin, Penjabat Kepala Desa Bebengan, “Sejak dulu, kalau menggelar wayang kulit di sini harus pakai sinden laki-laki. Itu sudah jadi tradisi turun-temurun.”
Tradisi sinden laki-laki bukan sekadar simbol keunikan lokal, tetapi juga representasi dari nilai kesopanan dan adaptasi dakwah yang melebur dengan adat.
Pertunjukan wayang tidak hanya menjadi hiburan malam, tetapi juga ritual spiritual. Dalam peringatan Merti Desa, misalnya, pementasan wayang menjadi bagian penting dari rangkaian upacara adat. Diawali dengan doa bersama, sedekah bumi, dan pembersihan pusaka, pertunjukan ini menjadi ruang sakral yang menyatukan warga dalam harmoni budaya dan iman. Anak-anak duduk bersila di depan kelir, mendengarkan kisah bijak dari masa silam.
Makam Sunan Bromo yang terletak di tengah permukiman juga menjadi titik penting dalam kehidupan spiritual warga. Lokasinya sederhana, tetapi selalu bersih dan terawat. Menurut Mbah Haji Sumarno, juru kunci makam, “Ada beberapa benda peninggalan Sunan Bromo yang kami rawat. Banyak peziarah datang untuk berdoa dan mencari berkah, terutama bagi yang sedang sakit atau punya hajat.” Keheningan di sekitar makam memberi ruang bagi siapa saja untuk merenung, memanjatkan doa, dan merasa lebih dekat dengan Tuhan.
Benda pusaka yang disimpan—seperti keris, surjan, dan naskah tua—tidak disembah, melainkan dihormati sebagai warisan nilai. Ia menjadi penanda bahwa ajaran Sunan Bromo telah melebur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahkan, ada kepercayaan bahwa siapa pun yang datang dengan hati tulus akan pulang dengan batin yang lebih tenang, seolah telah diberi wejangan meskipun tanpa kata.
Lebih dari sekadar tokoh religius, Sunan Bromo menjadi penjembatan antara masa lalu dan masa kini, antara keislaman dan kejawaan. Ia membuktikan bahwa agama tidak harus berhadapan dengan budaya, melainkan bisa bersinergi dan saling memperkuat. Ia tidak menghapus wayang, tapi memasukkan makna tauhid di balik layar kelir. Ia tidak menolak adat, tetapi menafsirkannya dalam semangat kebijaksanaan.
Kini, di bawah langit Kendal yang masih tenang, di antara suara angin yang menyapu daun bambu, nama Sunan Bromo tetap hidup. Tidak di buku sejarah besar, tetapi di hati masyarakat yang menjaga warisan beliau. Setiap bayangan tokoh wayang yang menari di malam sunyi, setiap sinden laki-laki yang melantunkan tembang, dan setiap langkah ziarah yang menyusuri jalan kecil menuju makamnya adalah bukti bahwa jejak spiritual sang Sunan tidak pernah benar-benar menghilang.(*)
Oleh Nashwa Fayyasa Abeer