Di Balik Pagar Putih

Oleh Dania Dian Agustina

Mungkin bagi sebagian orang, rumah kedua mereka adalah sekolah, tempat di mana mereka bisa belajar dan tumbuh serta menemukan kehangatan selain dari keluarga. Namun, rumah kedua bagiku justru berbeda, yaitu rumah sahabatku, Arin namanya. Kami berteman sejak bangku SMP tepatnya saat aku pindah ke kelas baru di kelas 8. Kala itu pandemi Covid-19 tengah melanda sehingga semua kegiatan sekolah dilaksanakan secara daring. Dari situlah aku mulai mengenal Arin pertama kali dan menjalin pertemanan dengannya, hingga suatu hari, aku memutuskan untuk datang ke rumahnya guna mengerjakan tugas sekolah bersama.

Hari itu merupakan hari pertamaku menginjakkan kaki di rumah Arin, aku ingat dengan jelas bagaiman perasaanku saat aku berdiri di depan pintu pagar putih rumahnya, sedikit gugup dan canggung. Meskipun kami sudah cukup sering berkomunikasi secara daring, bagiku rasanya tetap saja berbeda ketika hendak bertemu secara langsung. Dengan perasaan yang campur aduk, aku memberanikan diri untuk masuk setelah Arin mempersilahkanku. 

Rasa gugupku pun perlahan sirna ketika ibu Arin menyambutku dengan senyum hangat dan ramahnya, rasanya membuatku nyaman seolah kehadiranku telah dinanti. Suasana rumahnya tenang dan sederhana namun penuh kehangatan. Sejak saat itu, aku mulai merasakan bahwa rumah Arin bukan hanya sekadar tempat untuk singgah, melainkan tempat yang nantinya akan menjadi salah satu bagian terbaik dari kenanganku. 

Rumah Arin berada di kampung perumahan di pinggir jalan kecil yang tidak terlalu ramai, tepat berhadapan dengan sebuah mushola berwarna kuning. Dari luar, rumahnya tampak sederhana dengan pagar dan dinding yang berwana putih, teras rumahnya dipenuhi lantai keramik berwarna hitam dan cukup luas untuk memarkirkan kendaraan pribadi keluarganya. Setiap kali aku datang dan berdiri di depan rumah Arin, pandanganku selalu tertuju pada mushola di seberangnya yang menjadi ciri khas dari tempat itu. 

Suasana di sekitar rumah Arin terasa tenang namun tak pernah benar-benar sepi. Suara adzan dari mushola sering terdengar jelas, ayat-ayat suci yang dilantunkan dengan lembut membuat hati terasa tenang. Terkadang, aku melihat warga yang saling menyapa atau mendengar suara anak-anak yang bermain di lapangan dekat mushola pada sore hari. Di sela-sela suasana tersebut, sesekali aku mendengar suara kokokan ayam milik tetangganya yang membuat suasana di sana semakin hidup dan memiliki kehangatan tersendiri bagiku. 

Seiring berjalannya waktu, aku mulai semakin sering datang ke rumah Arin, entah untuk mengerjakan tugas ataupun sekadar singgah disana dan menghabiskan waktu bersama. Tanpa kusadari, kedekatanku tak hanya terjalin dengan Arin, namun juga keluarganya. Aku mulai mengenal ibunya yang ramah, ayahnya yang tenang, serta kedua adik lelaki nya yang ceria. Bahkan, kakek dan nenek Arin juga mengenalku dengan sangat baik dan membuatku semakin nyaman berada di sana. 

Salah satu kenangan tak terlupakan bagiku adalah ketika Arin mengajakku untuk menginap di rumahnya selama dua hari. Saat itu, keluarga Arin pergi ke Pemalang untuk menjenguk kakek dan neneknya, mereka memintaku menemani Arin yang memilih untuk tinggal di rumah. Hal itu membuatku bisa menghabiskan waktu bersama sahabatku itu, kami berbincang, bermain game, menonton film, dan melakukan hal-hal sederhana yang lain. Meskipun tanpa kehadiran orang tua dan kedua adik Arin, aku tetap merasa nyaman di sana, seolah tempat itu tidak lagi asing bagiku. 

Kenangan lain yang membekas bagiku ialah ketika bulan Ramadhan telah tiba. Pada waktu itu, aku sering datang ke rumah Arin setelah berbuka dan melaksanakan shalat Isya di rumahku. Setelah itu, aku dan keluarga Arin bersama-sama menuju mushola yang berada di depan rumahnya untuk melaksanakan Salat Tarawih. 

Suasana malam di kampung perumahan Arin terasa tenang bagiku. Lampu mushola menyala menerangi sekelilingnya, sementara suara langkah kaki dan gesekan sandal para jamaah terdengar dengan jelas. Karena ruang mushola tidak cukup untuk semua jamaah, sebagian orang melaksanakan shalat di luar dengan beralaskan terpal dan diteduhi tenda sederhana di halaman mushola. Aku berdiri di samping Arin, mengikuti setiap gerakan shalat dengan khusyuk diiringi dengan lantunan ayat suci yang menggema lembut. Bahkan, aku sampai mengenali beberapa imam yang memimpin pelaksanaan Salat Tarawih selama ramadhan di sana. Aku ingat betul di suatu malam aku bertanya pada Arin ketika aku mendengar suara seseorang membaca ayat pendek yang mulai familiar di telingaku, “Hari ini imam nya pak Rimba bukan?” Arin tersenyum kecil mendengar pertanyaanku dan menjawab, “Iya betul, Pak Rimba imamnya.” Setelah Salat Tarawih, biasanya aku menghabiskan waktu sejenak untuk berbincang bersama Arin dan keluarganya, menikmati kebersamaan yang berarti. 

Pengalaman melaksanakan Salat Tarawih di rumah Arin memberikan kesan yang berbeda untukku. Jika biasanya aku merasakan suasana kekeluargaan saat melaksanakan Salat Tarawih bersama keluargaku di masjid dekat rumah, kali ini aku merasakannya dalam suasana yang lain. Meskipun berbeda tempat, aku tetap menemukan kehangatan yang sama namun dengan nuansa yang sedikit berbeda. Kebersamaan itulah yang memberiku pengalaman baru yang menyenangkan dan membuatku memahami bahwa setiap tempat memiliki kenangan dan cara tersendiri dalam menciptakan kebersamaan dan kehangatan. 

Seiring berjalannya waktu, aku semakin menyadari bahwa bagiku rumah Arin bukan hanya sekadar tempat untuk berkunjung atau mengerjakan tugas, tempat itu menjadi salah satu bagian dalam perjalanan hidupku terutama di masa-masa SMP ku yang penuh kenangan meskipun ada pandemi yang sedang melanda kala itu. Setiap sudut rumahnya menyimpan berbagai memori yang tak akan pernah kulupakan, mulai dari canda tawa hingga momen kebersamaan yang hangat. 

Kehangatan yang kuterima di sana membuatku menjadi merasa spesial. Aku tidak lagi merasa menjadi tamu, melainkan bagian dari keluarga mereka. Sikap ramah dan perhatian dari Arin dan keluarganya telah memberi kesan yang begitu mendalam bagiku hingga aku merasa nyaman setiap kali aku berada di sana. (*)

Kini, walaupun waktu terus berlalu dan banyak hal yang telah berubah, kenangan tentang rumah Arin dan momen-momen yang kualami di sana tetap tersimpan dalam ingatanku. Dibalik pagar putih itu aku menemukan arti lain dari sebuah rumah, bukan tentang  tempat tinggal dan singgah, namun tentang kehangatan, kebersamaan, dan perasaan diterima. Rumah itu akan selalu menjadi rumah keduaku.