Pada zaman dahulu, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pegandon di Kabupaten Kendal hanyalah hutan belantara yang belum tersentuh peradaban. Alamnya liar, dipenuhi semak belukar, dan dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk halus. Tidak ada satu pun penduduk yang berani mendekat, karena daerah itu dianggap angker dan berbahaya.
Hingga suatu hari, datanglah seorang tokoh bijaksana dan sakti bernama Ki Gendon. Ia adalah seorang pertapa dari daerah pegunungan yang sedang mencari tempat untuk membuka lahan dan membangun kehidupan baru. Niat Ki Gendon bukan untuk mencari kekuasaan, tetapi ingin menciptakan permukiman yang damai untuk masyarakat. Perjalanan Ki Gendon tidak mudah. Ia berjalan kaki berhari-hari, menyusuri lembah, bukit, dan hutan, hingga akhirnya ia tiba di tengah hutan lebat yang kini menjadi wilayah Desa Pegandon.
Saat menjelajahi wilayah itu, Ki Gendon menemukan sebuah pohon besar yang berbeda dari pohon-pohon lain. Konon, pada malam hari pohon tersebut memancarkan cahaya putih yang lembut dan menenangkan. Ki Gendon merasa bahwa tempat itu memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Ia pun memutuskan untuk bertapa di bawah pohon tersebut selama tujuh hari tujuh malam guna mencari petunjuk ilahi dan meminta izin dari para penunggu alam agar dapat membuka wilayah itu.
Namun, pada malam ketujuh pertapaannya, tiba-tiba muncul seekor siluman ular raksasa dari dalam tanah. Makhluk itu marah karena merasa wilayah kekuasaannya akan diganggu oleh manusia. Ia mengancam akan menghancurkan siapa pun yang berani menetap di tempat itu. Terjadilah pertarungan hebat antara Ki Gendon dan siluman tersebut. Pertarungan berlangsung hingga pagi hari. Dengan kekuatan batin dan doa-doanya, Ki Gendon akhirnya berhasil mengalahkan siluman itu dan menyegelnya ke dalam sebuah batu besar. Batu itu kemudian dikenal sebagai Watu Siluman, dan masih dipercaya oleh warga sekitar sebagai tempat keramat.
Setelah wilayah itu menjadi aman, Ki Gendon memulai proses pembukaan lahan. Ia menebang semak belukar, meratakan tanah, dan membangun gubuk pertama sebagai tempat tinggal. Kabar tentang keberhasilan Ki Gendon menyebar ke daerah-daerah sekitarnya. Banyak warga dari desa lain datang untuk menetap, ikut membangun pemukiman, dan mengolah lahan.Sebagai bentuk penghormatan atas jasa Ki Gendon yang telah membuka dan menyelamatkan wilayah tersebut, masyarakat sepakat menamai daerah itu dengan nama Pegandon, yang berasal dari kata “pe” (tempat) dan “Gendon” (nama tokoh pembuka wilayah). Nama itu dimaknai sebagai “tempat milik Gendon” atau “tanah yang dibuka oleh Gendon.
Hingga saat ini, masyarakat Desa Pegandon masih melestarikan berbagai tradisi yang berakar dari legenda tersebut. Salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan adalah bersih desa, yaitu ritual tahunan untuk membersihkan lingkungan desa sekaligus memohon berkah dan keselamatan.
Dalam kegiatan itu, masyarakat juga melakukan ziarah ke situs Watu Siluman, sebagai simbol penghormatan kepada Ki Gendon dan bentuk kesadaran spiritual terhadap leluhur.(*)
Oleh Aldiansyah Firsa Zuhri