Hotel Siranda di Semarang ini terlihat biasa dari luar—bangunannya tiga lantai, catnya masih bagus, dan punya kafe kecil di lantai bawah. Tapi di balik tampilannya yang rapi dan terkesan adem itu, ada cerita lama yang sampai sekarang masih jadi bisik-bisik di kalangan warga sekitar dan mahasiswa yang sering nginap pas ada event kampus. Hotel ini katanya dibangun di atas tanah bekas rumah tua zaman Belanda. Dulu, sebelum jadi hotel, tempat itu kosong bertahun-tahun. Rumah lamanya konon pernah jadi tempat tinggal keluarga keturunan Eropa yang semuanya meninggal karena penyakit misterius di tahun 60-an.
Setelah itu, rumahnya ditinggalkan begitu aja. Orang sekitar menyebutnya “rumah mati”, karena tiap malam selalu terdengar suara orang jalan di dalam, padahal kosong. Waktu tanah itu dibeli dan dibangun jadi Hotel Sirada sekitar tahun 2015, proses konstruksinya katanya tidak lancar. Ada pekerja yang tiba-tiba jatuh dari lantai dua tanpa sebab, alat-alat berat sering rusak mendadak, dan beberapa tukang ngaku lihat sosok perempuan berdiri di pojok bangunan yang belum jadi. Tapi karena proyek harus jalan, pembangunan tetap dilanjutkan.
Setelah hotel jadi dan mulai beroperasi, cerita-cerita aneh mulai muncul. Yang paling sering diceritakan adalah suara langkah kaki di lorong atas tengah malam. Meski kamar-kamar kosong, petugas jam malampun sering denger suara langkah bolak-balik, seperti ada orang yang nggak pernah tidur. Tapi tiap dicek, lorong selalu kosong. Tempat yang paling dianggap “bermasalah” adalah tangga belakang dan gudang lantai bawah.
Tangga belakang ini jarang dipakai karena katanya hawa di sana selalu dingin meski siang bolong. Beberapa staf menghindari lewat situ, apalagi sendirian. Pernah ada tamu yang iseng turun lewat tangga itu malam-malam, dan balik dengan wajah pucat. Dia bilang dia ngelihat sosok hitam besar berdiri di ujung tangga, diam, tapi matanya merah menyala. Gudang lantai bawah juga nggak pernah dibuka sembarangan.
Posisinya dekat dengan ruang laundri, tapi pintunya selalu dikunci rapat. Konon, ada kejadian cleaning service pingsan di depan gudang itu setelah denger suara anak kecil ketawa dari dalam. Padahal nggak ada siapa-siapa, dan CCTV di lorong itu malah sempat glitch selama beberapa menit. Kafe di lantai bawah juga punya cerita sendiri. Meski ramai siang sampai sore, café itu terasa sangat sepi dan berat di malam hari. Beberapa pelanggan pernah mengaku melihat bayangan lewat cepat di belakang barista, padahal tidak ada siapa-siapa.
Bahkan, salah satu karyawan mengundunrkan diri gara-gara tiap malam selalu mimpi tentang seorang wanita berpakaian zaman dulu yang duduk di pojok kafe dan memanggil namanya pelan-pelan. Meski cerita-cerita itu terus beredar, hotel ini tetap beroperasi. Pihak manajemen nggak pernah secara terbuka ngomongin kejadian mistis, tapi beberapa staf senior diam-diam mengakui kalau memang ada “penunggu lama” di sana. Mereka cuma bilang, “Selama kita nggak ganggu, mereka juga nggak ganggu.”
Beberapa kamar tertentu kabarnya punya energi lebih berat dibanding yang lain. Biasanya kamar-kamar di pojok bangunan atau yang dekat tangga belakang. Tamu-tamu tertentu, apalagi yang sensitif atau punya “penglihatan lebih”, sering minta pindah kamar tanpa alasan jelas setelah malam pertama. Warga sekitar hotel juga tahu reputasi tempat itu. Makanya nggak heran kalau malam hari, lingkungan sekitar Hotel Sirada cenderung sepi.
Beberapa tukang ojek online bahkan bilang mereka males ambil orderan ke lantai tiga hotel itu kalau sudah lewat jam 12 malam. Ada yang pernah nunggu di depan kamar dan dengar suara orang nyanyi lembut dari dalam, padahal kamarnya kosong. Kalau dilihat dari luar, Hotel Siranda memang seperti tempat biasa: murah, strategis, cocok buat mahasiswa atau backpacker. Tapi buat yang peka atau yang nggak sengaja “diketuk” oleh penunggu lama, hotel ini bisa jadi pengalaman yang nggak terlupakan. Dan meskipun banyak yang bilang itu cuma cerita, tetap aja sampai sekarang, beberapa kamar di hotel itu selalu kosong… bahkan di saat hotel sedang penuh.
Beberapa mahasiswa yang pernah menginap di sana mengaku merasakan gangguan kecil, seperti TV yang menyala sendiri, keran air yang tiba-tiba mengucur, atau suara pintu diketuk padahal tidak ada siapa-siapa. Meskipun awalnya mereka mencoba berpikir logis, kejadian-kejadian itu membuat malam terasa panjang. Salah satu dari mereka bahkan sampai tidur dengan lampu menyala karena merasa diawasi. Setelah pulang, ada juga yang mengaku sakit tanpa sebab jelas selama beberapa hari. Entah sugesti atau memang ada sesuatu yang “mengikuti”.
Yang menarik, meskipun banyak cerita mistis beredar, Hotel Sirada justru makin dikenal. Ada saja orang yang datang karena penasaran dan ingin merasakan sensasinya sendiri. Bahkan, beberapa konten kreator horor sempat membuat video dokumentasi di sana, meskipun tidak semua mereka unggah. Mereka bilang, ada bagian dari rekaman yang “hilang” atau rusak tanpa alasan. Ini justru makin menambah aura misterius tempat itu.
Kini, Hotel Siranda justru lebih sering disebut sebagai tempat singgah gelap bagi para tunawisma. Bangunannya memang masih berdiri, tapi sudah jarang terlihat aktivitas komersial seperti dulu. Beberapa warga sekitar bilang kalau malam hari sering terlihat orang-orang tak dikenal masuk diam-diam lewat pintu samping atau belakang. Meski nggak ada pengumuman resmi, banyak yang percaya hotel itu sudah tak lagi beroperasi sepenuhnya sebagai penginapan umum. Aura angkernya tetap terasa, hanya saja sekarang bercampur dengan kesan muram dan terbengkalai’.
“Semua itu hanyalah cerita kalau kebenarannya hanya Tuhan yang tahu.”(*)
Oleh Kalis Artian Faustina