Desa Sedo adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Desa ini memiliki wilayah yang terdiri dari lahan pertanian, perairan, dan beberapa bagian rawa. Secara geografis, Desa Sedo berbatasan dengan wilayah-wilayah lain yang juga kaya akan cerita sejarah dan budaya, seperti Desa Kedunguter, Desa Karangawen, dan Desa Tlogotunggal. Rawa-rawa yang dulu dikenal dengan nama Rowo Sedo memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat desa sejak zaman dahulu.
Rawa ini tidak hanya menyediakan sumber air untuk kebutuhan pertanian, tetapi juga menjadi tempat berkumpul bagi masyarakat setempat yang mencari ikan, mengambil bahan bangunan dari pohon-pohon di sekitar rawa, dan menggembalakan hewan ternak mereka. Desa ini tidak hanya dikenal karena sumber daya alamnya yang subur, tetapi juga karena kekayaan cerita rakyat yang mengakar kuat di kalangan masyarakat. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah legenda Ronggo Warsito dan ular putih raksasa, sebuah kisah yang dipercaya sebagai asal-usul nama “Sedo”.
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda bernama Ronggo Warsito. Ia adalah seorang pemuda yang dikenal tidak hanya karena ketekunannya bekerja, tetapi juga karena sifatnya yang pemberani dan rendah hati. Ia diangkat oleh seorang wanita tua bernama Ibu Mirah sebagai anak angkat setelah kehilangan orang tuanya sejak kecil. Mereka hidup sederhana, mengandalkan hasil beternak bebek yang digembalakan setiap hari di Rowo Sedo. Ronggo Warsito tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat dihormati di desanya. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, ia telah berada di perahu kecilnya, membawa pakan dan sebuah alat bambu panjang bernama sado, yang digunakan untuk mengambil telur bebek dari semak dan lumpur di sekitar rawa.
Suatu pagi, seperti biasa, Ronggo Warsito membawa puluhan bebek ke rawa untuk digembalakan. Ia juga membawa sado, alat khas untuk mengambil telur dari air. Namun hari itu, sesuatu yang aneh terjadi. Menjelang sore, bebek-bebek yang digembalakannya satu per satu menghilang secara misterius. Ronggo menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam. Tiba-tiba, air rawa bergelombang hebat. Kabut tipis menyelimuti permukaan, dan dari dalamnya muncul makhluk raksasa yang belum pernah dilihat Ronggo sebelumnya—seekor ular putih sebesar pohon kelapa, dengan mata menyala merah dan sisik berkilau seperti perak terkena cahaya bulan. Makhluk itu melesat cepat ke arah bebek-bebek Ronggo, menciptakan kepanikan. Suara bebek-bebek yang ketakutan bercampur dengan teriakan hewan-hewan lain yang melarikan diri dari semak.
Ular tersebut menyerang dan memangsa bebek-bebek milik Ronggo. Ia terkejut dan berusaha mengusir ular itu dengan bambu panjangnya, tapi kekuatan makhluk itu jauh melebihi manusia biasa. Dalam kekacauan itu, beberapa bebeknya lenyap ditelan ular, dan sado yang ia bawa terlepas dan tenggelam di lumpur. Ronggo sendiri sempat tercebur dan pingsan di tepi rawa.
Ibu Mirah yang cemas karena anaknya tidak pulang selama berhari hari. Kemudian ia memutuskan untuk mencari Ronggo ke tempat ia biasanya menggembalakan bebek-bebeknya. Ibu Mirah menemukan sampan kecil dan sado yang ditinggalkan oleh Ronggo, serta air rawa yang sudah berubah menjadi kemerahan. Tak lama, ia menemukan Ronggo yang lemas dan penuh luka di tepi rawa. Dengan suara lirih, Ronggo menceritakan kejadian mengerikan tersebut.
Setelah tahu bebeknya sudah habis maka Ibu Mirah mengajak Ronggo pulang kerumah tetapi ia menolak karena dia akan memburu ular tersebut sampai ketemu dan ingin membunuhnya. Ibu Mirah meyakinkan Ronggo untuk pulang dan menyembuhkan lukanya terlebih dahulu, lalu Ronggo setuju dan ikut Ibunya pulang. Berita tentang Ronggo yang diserang oleh ular putih raksasa di dekat Rowo Sedo itu menyebar ke seluruh desa. Warga desa pun gempar mendengar cerita tentang ular putih itu. Seorang tetua desa berkata, “Itulah penjaga gaib rawa ini. Konon, sejak zaman nenek moyang, ular putih itu tidak boleh diganggu. Tapi sekarang, ia tak hanya menjaga tapi juga mengancam. Desa pun diliputi ketakutan. Warga takut membawa bebek ke rawa. Beberapa mulai pindah ke daerah lain. Tapi Ronggo tidak ingin lari.
Setelah pulih Ronggo Warsito tidak menyerah begitu saja. Ia tahu, bila makhluk itu dibiarkan, desa mereka akan lenyap. Dengan penuh keberanian, ia menyusun rencana untuk mengalahkan ular tersebut. Ia menyadari bahwa ular itu bukanlah makhluk biasa, melainkan penunggu gaib yang bertugas menjaga rawa tersebut. Menyadari hal ini, Ronggo memutuskan untuk tidak hanya melawan dengan kekuatan fisik, tetapi juga dengan kecerdikan dan strategi. Ronggo pergi menghadap seorang kyai tua di desa seberang, memohon petunjuk. Kyai itu berkata, “Kau harus menghadapi ular itu bukan hanya dengan kekuatan, tapi juga dengan niat yang suci. Aku akan membekalimu tombak bambu yang sudah kuberi doa dan air suci dari sumur tua. Namun ingat, lawanmu bukan hanya binatang—ia adalah penjaga alam.”
Tiga hari kemudian, saat bulan purnama menggantung di langit, Ronggo berangkat sendiri ke tengah rawa. Ia duduk bersila di atas perahunya, memejamkan mata, dan memanggil ular putih itu dengan doa-doa yang diajarkan oleh kyai. Tak lama, air kembali bergolak. Ular putih muncul dengan suara mendesis yang menggema, seperti bunyi angin dari dunia lain. Ronggo berdiri, menatap makhluk itu tanpa gentar. Terjadilah pertarungan sengit. Ular itu mencoba melilit perahu Ronggo, namun dengan kelincahan dan keberanian, Ronggo berhasil menghindar dan menancapkan tombak bambu ke kepala sang ular. Teriakan gaib terdengar, dan air rawa tiba-tiba menjadi tenang. Ular putih itu tenggelam, dan tak pernah muncul lagi.
Ronggo pulang ke desa disambut dengan air mata haru dan syukur. Sejak hari itu, rawa kembali damai, dan bebek-bebek bisa digembalakan seperti dulu. Untuk menghormati perjuangan Ronggo, warga menamai tempat itu “Sedo”, berasal dari “sado”, alat yang menjadi saksi bisu pertarungan melawan makhluk gaib. Mereka membangun sebuah punden di lokasi kejadian dan mengadakan selamatan setiap Jumat Wage, sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas perlindungan dari leluhur. Hingga kini, tradisi Barikan masih dilaksanakan setiap Jumat Wage sebagai bentuk syukur dan mengenang jasa-jasa Ronggo Warsito yang telah menyelamatkan mereka.(*)
Oleh Marsha Aulia Hanifa