Dari cerita dan kisah warga setempat, pada saat Raja Mataram sedang berperang melawan Belanda, tahun 1628-1629, sekelompok prajurit kerajaan melarikan diri ke arah timur laut, yang dipimpin oleh seseorang bernama Srati, yang biasa dikenal sebagai penjaga kuda-kuda kerajaan. Dia bertugas bukan bertempur, melainkan menyelamatkan pusaka kerajaan, yaitu seekor kuda putih perkasa milik sang Raja Mataram.
Pelarian mereka menuju wilayah pegunungan, yaitu antara Gunung Kendalisodo dan Gunung Penggung. Wilayah itu masih ditumbuhi pohonan rimbun, sunyi dan jauh dari keramaian. Srati memutuskan untuk berhenti di sana untuk beristirahat. Setelah beberapa hari srati dan anggota pasukan kerajaan yang lain merasa bahwa tempat itu cukup aman dan subur untuk memulai kehidupan baru.
Mereka membuka lahan untuk mendirikan gubuk biasa, dan mulai menanam tumbuhan seperti padi dan palawija. Mereka hidup dari alam, memanfaatkan air dari mata air pegunungan yang jernih. Orang orang yang lalu lalang di daerah itu merasa aman yang ikut menetap bersama Srati. Mereka mulai menganggap dirinya sebagai orang yang bijaksana, karena selain menguasai ilmu pertanian, dia juga mengajarkan nilai-nilai spiritual dan tata hidup yang rukun bersama-sama. Maka Srati diberi gelar sebagai Kyai.
Kuda putih milik Sultan Agung yang dijaga oleh Kyai Srati telah menjadi simbol kesetiaan di antara makhluk hidup. Setiap pagi, kuda itu selalu berlari untuk mengelilingi bukit dan kembali ke tempat yang sama, seolah-olah menjaga wilayah di situ tetapi jejaknya tidak pernah ditemukan oleh warga setempat. Lokasi tempat kuda yang sering di pergunakan untuk beristirahat kini diyakini warga setempat sebagai tempat keramat yang memiliki aura berbeda. Di sana terdapat batu besar berbentuk abstrak yang diakui orang menyerupai yoni, yang kini menjadi simbol kesuburan dan kehidupan. Tetapi batu yoni sampai sekarang tidak pernah ditemukan, terkubur dalam kenangan
Konon, warga berembuk untuk memberikan nama perkampungan mereka. Setelah Kyai Srati bermeditasi, maka nama Harjosari dipilih.
Desa kecil yang mereka bangun dari lahan yang hutan yang rimbun di tumbuhi tumbuhan kini perlahan berkembang. Dengan orang-orang yang tersesat atau ingin hidup damai mulai berdatangan menambah populasi di daerah tersebut. Nama Harjosari yang disematkan kini telah memberikan harapan agar tempat itu menjadi pusat kehidupan yang damai dan sejahtera bersama sama.
Waktu berlalu, dan Kyai Srati pun meninggal dunia dalam usia lanjut. Namun ajarannya tetap dan tidak hilang. Warga tetap melestarikan nilai-nilai yang ia ajarkan. Setiap tahun, mereka menggelar kenduri dan doa bersama di dekat batu yoni, memanjatkan syukur dan meminta perlindungan. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Malam Srati.
Pada malam itu, seluruh lampu desa dimatikan selama beberapa menit. Anak-anak diminta diam, dan orang tua bercerita tentang sosok Kyai Srati. Konon, beberapa orang pernah melihat bayangan seorang lelaki tua bersorban putih menuntun seekor kuda menyusuri jalan desa. Meski terdengar mistis, tidak ada yang merasa takut karena dipercaya bahwa itu adalah pertanda keselamatan.
Harjosari terus berkembang. Setelah kemerdekaan Indonesia, desa ini menjadi bagian penting dari wilayah Bawen. Jalan mulai dibangun, sekolah dibuka, dan pasar mulai ramai. Namun, semangat kebersamaan dan kesederhanaan yang diwariskan Kyai Srati tetap terjaga. Warga hidup gotong royong, saling menjaga, dan menjunjung tinggi nilai adat istiadat yang ada.
Sakarang anak-anak muda yang dulu tinggal di Harjosari telah merambah ke dunia luar. Banyak yang melanjutkan pendidikan tinggi atau bekerja di kota besar. Tapi setiap merka kembali ke desa harjosari, mereka selalu teringat akan batu yoni yang keberadaannya menjadi misteri sampai saat ini.
Jejak langkah Kyai Srati tidak hanya tertinggal di tanah dan batu, tetapi juga tertanam di hati generasi-generasi selanjutnya. Desa Harjosari bukan sekadar nama desa, tapi arti dari lahirnya sejarah perjuangan, kesetiaan, dan harapan yang abadi.(*)
Oleh Vahrizal Rikfy Aprihandika