Ribuan tahun yang lalu sebelum berdiri kerajaan besar, telah berdirikerajaan-kerajaan kecil, yang memiliki rajanya masing-masing. Salah satu kerajaan itu adalah Kerajaan Hulu, juga berdirinya kerajaan yang dinamakan Kerajaan Hilir. Di antara kerajaan ini terjadi suatu perselisihan, sehingga tampaknya tak pernah damai di antara keduanya. Ada saja keributan yang terjadi di antara mereka.
Di sebuah pendapa Kerajaan Hilir terlihat bersama-sama dengan para penggawanya dan juga para prajurit kerajaan, sepertinya tengah mengadakan rapat. Sepertinya raja Hilir tengah memimpin rapat. Tampak jelas ada masalah yang penting tengah dibahas. Raja dari Kerajaan Hilir mengadakan rapat dan strategi untuk mengalahkan Kerajaan hulu.
Pasukan Kerajaan Hilir berangkat untuk mengalahkan Kerajaan Hulu dengan menggunakan perahu yang besar, kini setiap tahun sekali bentuk perahu ini di meriahkan dengan cara lomba bidar.
Kerajaan Hulu sudah mengetahui adanya penyerangan dari Kerajaan Hilir, dan sudah mempersiapkan pasukan untuk kedatangan mereka. Tetapi Kerajaan Hilir, sepertinya mengalami suatu kekalahan. Raja Hilir marah besar dengan kekalahan ini. Para prajurit dan juga para pemimpin, dan juga penasihat Raja Hilir disaat itu hanya diam seribu bahasa.
Pada saat itu, seorang putri yang cantik jelita, tengah memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Putri ini sering dipanggil dengan nama Putri Kembang Dadar. Kecantikannya sangat terkenal di penjuru kerajaan. Banyak raja yang tertarik akan kecantikannya.
Raja hilir mengatakan, “Adakah di antara kalian yang akan sanggup untuk memimpin pasukan?”
Namun tak seorang pun berani menyatakan pendapatnya. Mereka hanya diam. Raja memandang pada semua arah, pada semua yang hadir pada waktu itu, sehingga ia tertuju pada anak kesayanganya.
”Wahai, Anakku, apakah ada pendapatmu tentang kejadian ini ?Sepertinya kau tampak tenang, tanpa terlihat gelisah apalagi takut.”
Putri Kembang Dadar hanya tersenyum mendengar seruan dari orang tuanya itu, sembari ia berkata, ”Ayahanda, jika diizinkan Ananda mau berpendapat tentang persoalan ini.”
Raja memandangnya dengan sangat penuh perhatian sekali, “Silakan.”
Mendengar dari ucapan yang disampaikan oleh orang tuanya itu, Putri Kembang Dadar merasa
lega, ia senyum dengan lantang ia mengatakan, “Ayah, izinkan aku untuk berangkat menuju
Kerajaan Hulu. Ananda tak akan pulang jika Ananda tidak berhasil.”
Suatu pernyataan yang tak terduga dari suara anak kesayanganya itu, apalagi anaknya adalah seorang putri. “Tidakkah Ananda sadar apa yang telah di sampaikan ini? Apakah ini suara dari lubuk hati yang paling dalam?”
”Ini Ananda sampaikan dengan penuh kesadaran. Sudah bulat tekat Ananda,” ungkap Putri Kembang Dadar dengan suara yang merdu, sehingga membuat kagum hadirin.
Raja Hilir merasa sangat yakin, apa yang telah disampaikan oleh anaknya itu, ”Anakku jika itu
sudah menjadi tekadmu, tak dapat aku menghalanginya. Aku hanya berdoa kau akan berhasil
nantinya.”
Pada akhirnya Putri Kembang Dadar dapat menyatukan kedua kerajaan, sehingga tidaklagi terjadinya permusuhan. (*)
Oleh Frans Seto Tampubolon