Kelir Wayang Kulit

Di bawah kaki gunung merbabu, terbentang sebuah lahan luas yang disebut warga sekitar sebagai oro-oro. Di tengah oro-oro itu berdiri dua batu besar yang berdampingan, dinamai dengan Watu Dampit. Konon, dari tempat itulah desa kecil yang kini dikenal sebagai Klero mendapat namanya. Nama “Klero” diyakini berasal dari kelir, layar pertunjukan wayang, yang dahulu pernah ditemukan membentang di antara dua batu itu secara ghaib.

Alkisah, pada suatu malam purnama, sekelompok petani melihat cahaya berpendar dari arah Watu Dampit. Saat mereka mendekat, mereka menyaksikan kelir putih membentang sendiri di antara kedua batu itu disertai dengan seperangkat gamelan, dengan bayangan para dalang dan wayang bergerak lembut di baliknya, padahal tak ada satu pun manusia yang memainkan. Sejak saat itulah, oro-oro itu menjadi tempat keramat, dan kelir tersebut dipercaya sebagai pemberian dari makhluk halus penjaga tanah itu.

Sesepuh desa menyebut kelir dan gamelan itu sebagai pertanda bahwa roh penjaga tanah memberi izin agar manusia bermukim di sana, asal adat dijaga dan kelir dihormati. Dari situlah terbentuk perkampungan yang lambat laun diberi nama Klero, merujuk pada kelir yang menjadi pusat kehidupan spiritual dan budaya desa tersebut.

Satu pesan diwariskan secara turun-temurun: jangan biarkan kelir terkena kotoran ayam atau ternak lainnya. Jika dilanggar, maka kelir akan lenyap, dan Watu Dampit akan kembali diam, menyimpan kemarahannya dalam kesunyian batu. Sudah menjadi adat turun-temurun, kelir dan gamelan ghaib itu boleh dipinjam untuk acara penting desa seperti sedekah bumi atau hajatan besar, asalkan syaratnya dipatuhi.

Warga Klero hidup dalam harmoni dengan alam dan dunia gaib di sekitar mereka. Tiap kali kelir dan gamelan ditampilkan dalam pertunjukan wayang, suara gamelan mengalun lembut tanpa ada yang memainkannya, dan bayangan para dalang tampak bermain dari balik kelir, padahal tak satu pun dalang manusia terlihat. Banyak tamu dari desa lain yang terperangah, menyangka itu hanya trik sulap belaka.

Namun, semua berubah saat sekelompok pemuda dari kota—keturunan warga Klero yang lama merantau—kembali untuk liburan. Mereka tertawa saat mendengar kisah Watu Dampit. Salah satu dari mereka, Rido, merasa tertantang dan mengusulkan ide gila: “Kita buktikan sendiri. Apa yang bisa dilakukan oleh kelir tua itu kalau kena kotoran ayam?”

Suatu malam, saat warga sedang bersiap untuk pertunjukan wayang menyambut panen raya, Rido dan teman-temannya diam-diam menyusup ke oro oro tempat kelir dan gamelan itu biasa muncul secara ghaib. Dengan sengaja mereka membawa seekor ayam jantan dan membiarkan hewan itu buang kotoran di atas kelir yang tergeletak suci di atas tikar pandan. Salah satu di antara mereka bahkan merekamnya dengan ponsel, lalu pulang sambil menertawakan mitos kampung yang dianggap usang.

Namun keesokan harinya, kelir tak tampak lagi. Watu Dampit menghitam seolah dibakar dari dalam, dan langit desa menjadi kelabu. Kelir dan gamelan tidak bisa dipinjam kembali. Sawah mulai kekeringan, dan angin membawa bisikan aneh yang membuat penduduk resah. Beberapa bayi menangis terus-menerus saat malam, dan ayam-ayam di kandang mati tanpa sebab.

Rido dan teman-temannya tak luput dari akibat. Rido mendadak bisu, dan rekaman video mereka menghilang dari semua perangkat tanpa jejak. Mereka mencoba pergi, tapi selalu kembali ke desa dengan tubuh lemas dan mata kosong, seolah Watu Dampit menolak melepas mereka sebelum bertobat.

Akhirnya, seluruh warga berkumpul di oro-oro. Mereka membersihkan Watu Dampit, menabur bunga dan membakar kemenyan. Sebuah kelambu putih dipasang, bukan sebagai pengganti kelir, melainkan sebagai simbol permohonan maaf. Mereka menari dalam sunyi, memanggil kembali harmoni yang dulu menyatukan mereka dengan alam dan penjaga tanah ini.

Sejak itu, kelir tak lagi muncul, tapi oro-oro tetap dijaga. Dan nama Klero tetap hidup, bukan hanya sebagai nama desa, tapi sebagai pengingat: bahwa tanah ini tak hanya milik manusia, tapi juga alam dan segala yang tak kasat mata.(*)

Oleh Aulia Styana