Kampung Sukabirus, sebuah perkampungan yang tenang di kabupaten Bogor, memiliki cerita kelam yang hanya diketahui oleh masyarakat yang tinggal di sana, dibisikkan dari mulut ke mulut. Tidak ada berita baik di koran maupun internet, tidak ada siaran televisi. Namun bagi warga di kampung sana, terutama mereka yang telah tinggal lebih dari dua dekade, kejadian ini seperti mimpi aneh yang dialami ketika sedang sakit demam.
“Sekarang kampung kita ini terasa aman ya, Bu. Orang-orang pergi ke Kampung Sukabirus untuk membeli tanaman seperti bibit sayuran dan berbagai jenis tanaman obat-obatan sebagai apotik hidup. Padahal dulu… tempat ini terasa suram, gelap,” ujar Pak Met, pria yang tinggal tepat di seberang lahan bekas rumah terbakar. Ia adalah salah satu dari sedikit saksi mata yang masih hidup hingga saat ini, suaranya lirih dan pandangannya sesekali terlihat kosong.
Sekitar 25 tahun yang lalu, terdapat sebuah rumah tua yang menarik perhatian di Kampung Sukabirus. Penghuninya, seorang perempuan paruh baya bernama Bu Sarni dan anak perempuannya yang bernama Nisa, adalah sosok yang jarang bersosialisasi. Nisa hampir tidak pernah terlihat bermain dengan anak-anak lain di kampung ini. Sedangkan Bu Sarni sendiri dikenal selalu pulang saat pagi hari dan tidak pernah menyapa atau ikut perkumpulan yang diadakan oleh warga Kampung Sukabirus.
“Aku pernah ga sengaja melihat waktu dia sedang menaruh sesajen di antara pot tanaman depan rumahnya,” ungkap Bu Eni, tetangga yang rumahnya hanya berjarak tiga pintu. “Ada ayam hitam, bunga tujuh rupa, macam-macam buah, dan sesuatu yang mirip rambut manusia.”
Awalnya warga hanya membicarakan Bu Sarni dan Nisa secara diam-diam, saling berbisik saat pagi hari ketika sedang membeli sayur. Namun perlahan, kejadian-kejadian ganjil mulai muncul. Anak tetangga yang rumahnya persis di sebelah kanan rumah Bu Sarni sering sakit demam tinggi tanpa sebab, ayam milik tetangga mati mendadak dengan mata melotot, bahkan terdapat seorang warga yang mengaku melihat banyak bayangan hitam mengelilingi halaman depan rumah Bu Sarni pada suatu malam.
Semakin lama, kecurigaan para warga berubah menjadi sebuah keresahan. Para warga memutuskan untuk mengadakan pertemuan malam hari di balai RW secara diam-diam untuk membicarakan kemungkinan terkait pengusiran Bu Sarni dan anaknya dari kampung. Namun tidak semua yang hadir itu memiliki pendapat yang sama. Pak Rojak, tetangga sebelah kiri rumah Bu Sarni, justru membela mereka.
“Kita ini orang kampung, iya. Tapi jangan asal nuduh dan berburuk sangka kepada orang lain! Apalagi Bu Sarni itu tetangga kita sendiri. Kita ga tau apa yang memang dilakukan di dalam rumah itu!” kata Pak Rojak lantang saat rapat. Tapi suaranya kalah dengan teror dan bantahan yang terus terjadi dari warga yang menginginkan kepergian Bu Sarni. Hingga akhirnya, pada suatu malam yang lembab dan sunyi, beberapa warga yang menginginkan kepergian Bu Sarni berkumpul dan mendatangi rumahnya. Teriakan-teriakan terdengar, adu mulut terjadi, dan meski Bu Sarni berusaha menolak, warga memaksa. Nisa, yang baru berumur belasan tahun waktu itu, hanya bisa memeluk ibunya sambil menangis.
“Aku masih ingat waktu mereka tarik Bu Sarni dari dalam rumah. Nisa hampir dipukul kalau bukan karena Pak Rojak yang memasang badan untuknya di depan para warga ,” ucap Bu Eni dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca ketika membayangkan kembali kejadian tersebut.
Akibat penolakan yang keras dari Bu Sarni, amarah warga pun meledak. Tidak ada yang mengetahui dan mengakui siapa yang memulai, tapi api menyala dari sisi belakang rumah Bu Sarni. Malam itu, setelah ramainya para warga meneror malam damai Bu Sarni, rumahnya habis dilalap api. Anehnya, tubuh Bu Sarni dan Nisa tidak pernah ditemukan di puing-puing sisa kebakaran. Kabarnya, Pak Rojak membantu mereka kabur lewat jalan belakang yang tembus ke kebun kosong.
Beberapa tahun berlalu, lahan bekas rumah Bu Sarni tetap kosong. Hingga suatu hari, seorang calon pembeli tanah hendak membangun sebuah kios di atas tanah tersebut. Saat proses penggalian dimulai, pekerja bangunan menemukan sebuah keris berkarat yang terkubur di kedalaman hampir satu meter. Keris itu tampak memiliki bercak darah di bagian ujungnya—masih basah, kata mereka.
Para warga pun merasa panik dan ketakutan akan hal tersebut. Akhirnya mereka memanggil seseorang yang konon katanya ahli dalam urusan ilmu gaib. Orang itu datang dan akhirnya mengambil keris tersebut, lalu menghilang begitu saja tanpa sepatah kata. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani menyentuh tanah bekas rumah Bu Sarni. Namun setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya tanah yang dulu lama kosong itu akhirnya dibangun sebuah villa. Aktivitas perdukunan masih terdengar samar-samar di Kampung Sukabirus hingga saat ini, namun semuanya terjadi dalam diam. Tidak ada lagi kejadian aneh yang terjadi secara tiba-tiba, tidak ada lagi rumah yang terbakar, tidak ada lagi teriakan.(*)
Oleh Aurel Amalia Shaliha