Buaya Putih di Banjir Kanal

Di tengah hiruk-pikuk Kota Semarang terdapat sebuah tempat yang jarang disorot, yaitu Banjir Kanal. Tempat yang seharusnya menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam, kini lebih sering dipandang sebagai jalur air kumuh yang terabaikan. Airnya keruh mengalir lambat, membawa sampah plastik dan sisa limbah industri. Tepiannya dipenuhi semak liar, sisa-sisa bakau yang bertahan hidup di antara tumpukan beton. Namun, di balik wajah suramnya, tersimpan mitos Buaya Putih, sang penjaga gaib yang konon menjadi penyebab banjir bandang mematikan pada tahun 1990. 

Sejak era kolonial, kanal ini bukan sekadar saluran air. Belanda membangunnya pada 1898 untuk mengendalikan banjir, tapi masyarakat sekitar percaya proyek itu hanya mungkin berhasil setelah mereka “berdamai” dengan kekuatan mistis penghuni wilayah tersebut. Seorang tokoh spiritual berhasil bertemu dengan Buaya Putih di tengah meditasinya. Reptil raksasa itu berjanji melindungi kanal asalkan manusia tak merusak ekosistemnya dan ritual sesaji pun wajib dilakukan turun-temurun sebagai gantinya. Anak-anak juga dilarang bermain di kanal setelah malam tiba, karena suara riak air yang tak wajar sering terdengar. Warga percaya, Buaya Putih mengawasi mereka dari dimensi lain, siap menghukum siapa pun yang melanggar aturan tak tertulis.

Segalanya berubah saat perekonomian kota mulai tumbuh pesat. Pada 1980-an, kanal yang dahulu dikelilingi rawa-rawa hijau berubah menjadi jalur industri dan permukiman padat. Pabrik-pabrik tekstil membuang limbah pewarna langsung ke aliran air, mengubah sebagian permukaannya menjadi ungu kehijauan. Di tepian Banjir Kanal, perumahan kumuh tumbuh tak terkendali, sementara bagian lain kanal diuruk untuk perluasan jalan. Kaum muda mulai mengejek ritual sesaji, menyebutnya sebagai takhayul usang. “Buaya Putih? Itu cuma cerita nenek-nenek!” ujar Warsito, pemuda setempat, sambil melempar kaleng minuman kosong ke dalam kanal. Teman-temannya pun ikut menertawakan kelakuan Warsito tersebut, seolah sependapat dengannya. 

Tanda-tanda malapetaka mulai muncul pada musim kemarau 1989. Kanal yang seharusnya kering justru meluap secara misterius di tengah terik matahari menyengat. Malam berikutnya, warga di RW 01 mendengar suara gemuruh seperti ekor raksasa menghantam air. Bukan hanya segelintir orang, melainkan hampir semua penghuni mengaku mendengar suara itu. Beberapa warga bahkan bersumpah melihat bayangan samar berwarna putih meliuk di bawah Jembatan Banjir Kanal, tetapi tak seorang pun berani mendekati lokasi untuk memastikannya

Bayangan putih meliuk itu mengingatkan warga pada mitos buaya putih. Menurut cerita kakek Karno kepada cucunya, Agus, buaya putih itu hanya muncul pada saat-saat tertentu dan biasanya sebagai pertanda. “Katanya, ia memberi petunjuk bagi yang membutuhkan,” bisik sang kakek, meski ia sendiri tak pernah melihat langsung makhluk itu. Namun, kali ini, banyak orang mulai bertanya-tanya benarkah kemunculan buaya putih ini nyata.

Tidak lama kemudian, hujan deras mulai mengguyur desa tanpa henti. Air kanal yang sudah meluap misterius sejak kemarin kini bergemuruh seperti hidup, menerobos tanggul kayu yang dipasang warga. Kakek Karno, Agus, Warsito, dan warga berusaha menahan air dengan karung pasir dan doa, tetapi usaha mereka sia-sia. Dalam hitungan jam, banjir hitam pekat menyapu jalan-jalan, merendam rumah-rumah hingga atap. Jeritan dan teriakan memecah malam, sementara di kejauhan, beberapa warga bersumpah melihat bayangan putih melintas di tengah pusaran air seperti ekor buaya yang lenyap secepat datangnya.

Pagi berikutnya, desa itu jadi lautan lumpur. Warga yang selamat berkumpul di balai darurat, memandang kanal yang kini tenang, namun menyisakan pertanyaan apakah buaya putih itu sudah benar-benar pergi atau belum. Warsito yang dulu menertawakan ritual sesajen untuk buaya putih justru menyusuri tepi kanal sendirian, matanya penuh kegelisahan. “Kalau kau memang ada, tunjukkan dirimu!” teriaknya, suaranya parau oleh letih dan penyesalan. 

Tiba-tiba, riak air muncul tanpa angin. Dari kedalaman, seekor buaya putih muncul, matanya bersinar seperti bulan purnama. “Aku bukan penyebab bencana ini,” suaranya bergetar dalam pikiran Warsito. “Aku datang untuk memperingatkanmu. Alam marah karena kau dan desamu tak lagi menjaganya.” Warsito jatuh berlutut, air mata bercampur lumpur di pipinya. “Kami salah… Kami angkuh,” gumamnya. “Ampuni kami.” Buaya itu memandangnya lama, lalu perlahan menghilang di air keruh, meninggalkan Warsito dengan janji yang harus ia tepati untuk mengajak warga memulihkan alam sebelum semuanya terlambat.

Warsito berjalan terhuyung-huyung menuju rumah Kakek Karno, bajunya masih basah oleh air banjir dan lumpur. Ketika sang kakek membuka pintu, Warsito langsung jatuh terduduk, air matanya tak lagi bisa dibendung. “Kakek… Aku melihatnya. Aku berbicara dengannya…” suaranya pecah, seperti anak kecil yang ketakutan.

Kakek Karno menghela napas panjang, lalu memeluknya erat. “Sudah, Nak. Sudah…” bisiknya, tapi matanya yang bijak menatap jauh, seolah memahami betapa berat beban yang dibawa Warsito. Agus, yang sejak tadi diam di sudut ruangan, perlahan mendekat. Tanpa kata-kata, ia memeluk Warsito yang masih menggigil. Pelukan itu hangat seperti pengakuan bahwa mereka semua, bersama-sama, telah melakukan kesalahan.

“Dia bilang… alam marah karena kita tak menjaganya,” Warsito akhirnya bisa melanjutkan, suaranya parau. Kakek Karno mengangguk pelan, tangannya mengusap punggung Warsito yang masih basah. “Maka sekarang, kita perbaiki,” kata kakek itu tegas. “Bukan untuk buaya putih, bukan untuk mitos… tapi untuk kita sendiri.”

Keesokan harinya warsito juga menceritakannya ke warga lainnya dengan wajah-wajah yang masih lesu tapi matanya mulai bersinar haru mendengar ceritanya. “Buaya putih itu bukan hantu penunggu… Ia penjaga!” Warsito mengepal tangan, lumpur di lengannya mengering seperti luka yang mulai sembuh. “Ini semua karena kita telah mengubah kawasan hijau tepi kanal menjadi industri dan perumahan, buang sampah sembarangan, dan anggap mitos hanya sebagai dongeng. Alam tak akan memaafkan kita jika kita tak berubah!”

Di luar, matahari mulai menembus awan kelam. Banjir mungkin telah pergi, tapi pelajaran yang dibawanya tetap menggenang di hati mereka lebih dalam daripada air yang pernah menerjang desa itu. Desa itu kini dikenal sebagai desa yang menjaga alam dengan baik, dan buaya putih menjadi lambang perubahan yang membawa kehidupan baru. Setiap kali hujan turun, warga tidak lagi merasa takut, melainkan bersyukur atas pelajaran yang telah mereka terima. Cerita ini menggambarkan bagaimana bencana dapat menjadi pelajaran berharga dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.(*)

Oleh Syarifa Metta Auliya