Sekilas tentang Pemberontakan Petani Tambun 1869

Tambun, daerah yang sekarang kita kenal sebagai kawasan yang dipenuhi berbagai jenis kendaraan dan perumahan, dahulunya adalah sawah dan tanah ladang, dengan buruh yang datang silih berganti, menurunkan sejumlah kemiskinan hidup sekaligus menahan “sejuta bahasa seribu rasa”.

Di bawah sistem tanah partikelir, petani di Tambun dan sekitarnya tidak lebih sebagai penyewa di tempat mereka lahir dan bekerja. Biaya pajak yang tinggi, jam kerja yang panjang tetapi wajib membuat kehidupan tak terperikan. Hingga pada akhirnya, tubuh pria dan wanita semakin mengecil dan kurus, suara anak-anak menjadi bergetar, dan tubuh mereka mulai menyusut.

Karena tak tahan, akhirnya para petani itu melakukan pemberontakan. Rama, sosok yang berada di tengah lingkaran perencanaan serangan terhadap kekuasaan kolonial di Tambun, berhasil mendobrak kantor Asisten Residen di Tambun. 

Seolah menyuratkan kejayaan, aksi yang direncanakan sejak akhir 1868, memuncak pada malam gerhana matahari total, 3 April 1869. Memakan nyawa sejumlah pejabat Belanda, pasukan Rama hampir berhasil meruntuhkan benteng kolonial.

Nahas, banyak pemberontak gugur di tempat, Sebagian melarikan diri, dan sisanya ditangkap. Rama termasuk di antara yang berhasil meloloskan diri pada awalnya. Sayangnya, taktik bersembunyi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain tidak lepas dari pengawasan ketat dan jaringan informan yang dibayar pihak Belanda. Rama tertangkap dan dibawa kembali ke Batavia untuk menjalani proses hukum.

Pengadilan berlangsung dan sang hukum mengukuhkan bahwasanya Rama resmi menjadi ”pemimpin utama” dari pemberontakan. Eksekusi yang dilakukan pada 24 Agustus 1870 di alun-alun Bekasi pun menjadi penanda hari ketika Rama dijatuhi hukuman mati bersama dengan tujuh pemberontak lainnya.

Setelah peristiwa itu, Tambun berada dalam pengawasan ketat. Beberapa keluarga ditindak dan diasingkan. Meski begitu, cerita tentang insiden itu tidak sepenuhnya padam. Di kalangan petani, Rama beserta rekan-rekannya tetap menjadi bagian dari sejarah tanah itu. 

Cerita tentang Rama dan pemberontakan Tambun memang bukan kisah kemenangan, tapi menjadi penanda bahwa perlawanan bisa tumbuh di tempat yang paling sunyi. Kini, Tambun telah berubah. Daerah yang dulu dipenuhi sawah kini berganti menjadi tempat permukiman, jalan-jalan besar, dan pusat perdagangan. Banyak manusia berlalu-lalang tanpa mengetahui setiap setapak dari tempat melangkahnya pernah menjadi medan penindasan hak-hak para petani.(*)

Oleh Awianti Pertiwi