Di sebuah dusun kecil bernama Banyumudal, yang terletak di Desa Purwonegoro, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, suara gemericik dari sebuah sungai yang mengalir di antara dua dusun ini terdengar begitu tenang dan menenangkan. Dari tepi sungai, kita bisa melihat ikan-ikan berenang dengan bebasnya, tanpa gangguan dari manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Dari sungai ini, mata kita akan dimanjakan dengan panorama yang indah, seperti hamparan sawah yang berundak dengan metode terasering yang teratur. Sekilas, hamparan sawah itu terlihat seperti tribun stadion yang begitu megah, cahaya matahari dengan warna kuning keemasan begitu mewah ketika terbit, sementara ketika senja datang, sinarnya menjadi lebih merah dan gelap, sehingga membuat suasana menjadi hening dan tenang.
Namun, bagi sebagian orang, sungai ini bukanlah sungai yang indah, melainkan sungai yang sangat angker. Banyak dari mereka yang memiliki kenangan buruk ketika mereka berada di sungai itu. Beragam cerita tentang kemistisan sungai ini yang beredar di masyarakat, oleh karena kemistisannya tersebut, sungai ini sering dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai ritual.
Asal-usul dan Cerita di Baliknya
“Ash-Shalaatu Khairum Min An-Nauum,” suara azan shubuh berkumandang, suara azan itu masuk ke hati orang-orang yang beriman tanpa terkecuali, termasuk Okii Fadlullah. Okii Fadlullah atau akrab dengan panggilan “Okii” merupakan mahasiswa semester 2 di Universitas Negeri Semarang. Sekarang Okii sedang menjalani libur Idulfitri 1446 H dfi kampung halamannya.
Mendengar lantunan azan yang sangat indah, Okii langsung bergegas mengambil air wudlu, lalu pergi ke masjid untuk menunaikan kewajibannya. Setelah sholat shubuh Okii menyempatkan untuk membaca Al-Qur’an selama 30 menit.
“Ar-rahmaan, ‘allamal Qur’aan…,” Okii terus melantunkan Surah ArRahman hingga selesai, lalu ia melanjutkannya dengan Surah Al-Waqi’ah, dan Al-Hadid. Dengan membaca Al-Qur’an, hatinya terasa lebih tenang.
Setelah selesai membaca Al-Qur’an, Okii langsung bersiap-siap untuk lari pagi. Okii lari mengelilingi kampungnya sambil menikmati udara sejuk di pagi hari. Di sepanjang perjalanan Okii bertemu dengan petani, pedagang ayam, tukang ojek, dan masih banyak lagi. Setiap kali mereka berpapasan dengan Okii, mereka tersenyum, dan senyuman inilah yang menjadi kekuatan Okii di setiap langkahnya.
Selesai dari olahraganya, Okii segera mandi lalu bersiap-siap untuk pergi ke kediaman Mbah Karjono. Mbah Karjono merupakan salah satu tokoh di desa Mertasari yang mengetahui banyak tentang kisah, sejarah, dan kejadian di desa kami. Okii mendatangi rumahnya dengan berjalan kaki, karena rumahnya cukup dekat dengan kediaman Mbah Karjono.
“Tok..tok..tok….”
“Assalamu’alaikum,” Okii mengucapkan salam.
Kemudian langsung dijawab oleh cucu dari Mbah Karjono yang bernama Yoga. Okii biasa memanggil Yoga dengan Mas Yoga, karena usianya yang lebih tua dari Okii.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah, wah, Okii, tumben ke sini? Lagi libur ya?” Mas Yoga langsung mempersilahkan Okii untuk masuk ke dalam rumah.
“Iyaa nih lagi libur, Mas.” sambil masuk ke dalam rumah, dan duduk di sebuah sofa.
“Ada perlu apa ke sini, Ok?” tanya Mas Yoga, sambil membawakan makanan sisa lebaran.
“Itu… Mbah Karjono ada, Mas?” kata Okii, sambil membuka toples berisi kue nastar lalu memakannya.
“Ada itu lagi di kamar, mau dipanggilin?” kata Mas Yoga sambil tersenyum.
“Iyaa, Mas, minta tolong yaa hehe” jawab Okii sambil makan astor.
“Oke, sebentar.” Mas Yoga pergi ke belakang untuk memanggil Mbah Karjono. Setelah itu Mas Yoga kembali ke depan untuk menemuiku lalu berkata,
“Ada perlu apa si, Ok?” tanya Mas Yoga dengan nada lembut tapi penuh penasaran.
“Biasalah, tugas kuliah, hehe.” jawab Okii kepada Mas Yoga.
“Oalah gitu yaa, ya kamu dateng ke orang yang tepat, haha.” kata Mas Yoga sambil tertawa kecil.
Suara tongkat terdengar dari belakang, menandakan Mbah Karjono sedang jalan menuju ruang tamu.
“Wah, ada orang Semarang, nih,” kata Mbah Karjono, sambil menyodorkan tangannya kepada Okii untuk bersalaman.
“Hehe, iya, Mbah. Mbah sehat?” tanya Okii sambil menyambut tangan dari Mbah Karjono.
“Yaa begini lah, Ok.. Kakinya saki banget karena asam urat,” jawab Mbah Karjono, sambil menunjukkan bagian kaki yang sakit.
“Ya Allah.. Semoga cepet sembuh yaa, Mbah,” kata Okii penuh harap.
“Aamiin, makasih ya, Ok. Ngomong-ngomong, kamu ke sini sengaja main atau ada perlu sesuatu?” tanya Mbah Karjono dengan suara pelan.
“Anu, Mbah.. Ada perlu sih, tapi sekalian main jua, hehe,” jawab Okii sambil tersenyum malu.
“Ohh, ada perlu apa?” tanya Mbah Karjono kepada Okii.
“Waktu itu kan Mbah Karjono pernah cerita tentang Kali Salak, ya? Nah, sekarang Okii mau tau lebih dalam lagi tentang sungai itu, Mbah,” kata Okii penuh penasaran.
“Oh, Kali Salak ya?” tanya Mbah Karjono dengan nada memastikan.
“Iyaa, Mbah. Dari sejarahnya sama cerita-cerita mistis yang beredar itu,” kata Okii antusias.
“Oh iyaa, Ok. Jadi Kali Salak itu nama aslinya Kali Salah. Dinamakan Kali Salah karena dia mengalirnya tidak seperti sungai pada umumnya. Kalau sungai yang lain kan mengalirnya dari barat ke timur, contohnya Sungai Basirin, Sungai Parakan, dan Sungai Tusan. Tapi, kalo Kali Salak ini mengalirnya dari timur ke barat, aneh, kan? Tapi kan orang-orang tahunya Kali Salak ini sungai yang sepanjang sungainya ditumbuhi pohon salak,”
Mbah Karjono lalu melanjutkan ucapannya, “Nah, kamu tahu Banyumudal, kan? Karena di situ adalah hulu dari Kali Salak, Banyumudal, banyune pada medal, metu kang kono banyune. Terus banyune pada mili mbleber-mbleber maring ngisor, nah mandeg nang dusun jenenge Bleber. Diarani Bleber ya karena mau kue, Ok, nah Bleber kie kan dadi muarane Kali Salak, dadi nang kono Kali Salak ketemu karo Kali Parakan,” jelas Mbah Karjono kepada Okii.
“Ooh, jadi gitu yaa, Mbah…” kata Okii dengan ekspresi kaget dan kagum.
“Terus ada cerita-cerita gitu ngga, Mbah, di Kali Salak?” tanya Okii penuh penasaran.
“Nah kalau cerita ya banyak, Ok, apalagi Kali Salak memang terkenal mistis. Dulu itu ada orang yang mancing di situ, terus pas dia dapat ikan, besoknya langsung demam. Terus, Kali Salak ini sering banget bau wangi bunga kantil, makanya kalo udah waktu Magrib orang-orang nggak berani lewat situ. Tapi sekarang sudah mendingan, soalnya udah banyak lampu. Di Kali Salak juga jadi tempat buat nyari ‘indang’, yang buat mendem di ebeg itu loh, ya kaya mereka itu masukin setan ke dirinya sendiri. Nah ritual begini ini harus dilakukan di tempat yang angker, dan waktu yang identik angker juga, misal malam Jumat Kliwon. Mereka biasanya berendam berjam-jam di situ, terus habis itu ngapain lagi Mbah kurang tahu, Kalau mau tahu tentang dunia ebeg tanya ke Pak Asmad saja.”
“Ngeri juga ya, Mbah, dengarnya. Berarti Mas Girang juga dapat ‘indang’ di situ juga?” Okii bertanya dengan penuh penasaran.
“Ya iya di situ, mau di mana lagi memang?” jawab Mbah Karjono santai.
“Eh iya juga sih…” Okii mengangguk. “Oh iya, Mbah, dulu Ayahku juga pernah merasakan kejadian mistis loh. Jadi, waktu itu kan Ayah mau ngantar Mbah Warni ke pasar, nah pas sudah nyampe di Kali Salak, Ayah merasa jok motor belakang itu ringan, terus pas Ayah nengok ke belakang, ternyata Mbah nggak ada. Terus, Ayah kan balik lagi tuh ke rumah, dan ternyata Mbah Warni masih di rumah. Aneh ya? Kenapa sadarnya ketika di Kali Salak? Padahal kata Ayah, waktu di rumah itu Mbah Warni benar-benar sudah naik, tapi nggak tahu juga antara Kali Salak yang mistis atau rumahku juga hahaha..” Okii bercerita dengan penuh antusias.(*)
Oleh Okii Fadlullah