Tandon Serua River Park: Lebih dari Sekadar Penampungan Air

Pada suatu pagi cerah, burung burung gereja bertengger di ranting pohon saling menyaut dipadukan dengan suara lalu lalang kendaraan yang tak begitu banyak dari arah jalan utama komplek. Terdapat 2 remaja putri bernama naia dan dian, mereka adalah teman dekat sejak duduk dibangku SMA, hari ini tepat dihari minggu…mereka memutuskan untuk berjalan pagi sekitar tempat kediaman mereka dengan niat sembari mencari sarapan. 

Sembari berjalan-jalan ringan di jalan utama komplek, “nai, ke tandon yang baru dibangun yuk?” kata dian dengan nada sumringah. “Oh ya, ayo kita kesana…aku juga pernasaran dengan suasana disana, katanya ada jogging track nya juga loh,” sahut Naia dengan tak kalah semringah.  Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk berjalan ke arah tandon tersebut.

Setelah sampai, mereka berkeliling 2 putaran jogging track dan memutuskan untuk berhenti sejenak sambil duduk di tempat duduk yang disediakan dekat papan informasi yang menjelaskan fungsi tandon, “Luasnya sekitar 5.700 meter persegi dan mampu menampung 10.000 meter kubik air,” ucap Dian setelah membaca papan tersebut, “Tak kusangka ini akan berubah fungsi menjadi tandon, dahulu saat aku masih kecil ini adalah sawah kecil di tengah kota, dan setengah dari tandon ini dulu adalah pemancingan hahahaha,” lanjut dian. 

Setelah meneguk air dari botol air mineral yang ia bawa, naia juga menimpali, “Hahahaha…benar, lalu tahun 2017 mulai ada pembangunan tol alternatif dan sawahnya hilang, dilanjutkan tahun 2023 pembangunan tandonnya.” 

“Eh, menurut kamu, kenapa pemerintah pilih bikin tandon di sini, ya?” tanya Dian sambil bersandar santai. 

“Mungkin karena tanahnya cukup luas dan strategis. Soalnya daerah sini sering ada genangan pas musim hujan, kata Papa waktu itu,” jawab Naia sambi menikmati view dengan kaki diluruskan. 

“Jujur ini enak banget sih suasananya, apalagi sekarang minggu pagi…belum terlalu banyak orang yang keluar, jadi udaranya juga masih seger banget,” ucap Dian setelah menutup botol minum yang ia bawa. 

“Benar sekali, tempat ini juga jadinya lebih terawat dan indah, terus bisa jadi alternatif lain kita untuk berjalan pagi hahaha. Lalu tandon ini juga bisa mengurangi genangan air ketika hujan deras,” timpal Naia,

“Hanya saja karena tandon ini baru, fasilitasnya belum lengkap,” lanjut Naia setelah menjeda perkataannya. 

“Setuju, setuju…mungkin bisa ditambahkan tempat sampat, tempat duduk lagi, pohon atau bunga juga oke sih,” setuju dian sembari mengutarakan pendapatnya, “Pernasaran deh tentang tandon ini di internet,” monolog dian sembari membuka internet dan mulai mengetikan “Tandon Serua River Park.”

“Tandon Serua River Park adalah tandon yang diresmikan pada tahun 2024 lalu yang berlokasikan di perumahan bukit nusa indah, Jl. Cemp., Serua, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Tandon ini seluas 5700 meter persegi, dengan ketinggian 4 meter, dan kedalaman 4 meter. Tandon ini dapat menampung volume air mencapai 10 ribu meter kubik. Tak hanya itu, tandon ini juga dikelilingi oleh jogging track dengan panjang lintasan 325 meter. Tandon ini juga berlokasikan tepat disebelah Jalan Tol Kunciran-Serpong serta Jalan Tol Serpong-Cinere. Kawasan ini menjadi bukti nyata integrasi antara solusi pengendalian banjir dan penyediaan ruang publik yang nyaman. Dibangun oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDABMBK),” monolog dian sambil membaca web tersebut.

“Ternyata track jogging-nya lumayan panjang juga ya,” komentar Dian sambil melirik ke arah jalan setapak beraspal. “325 meter, pantesan tadi muter dua kali udah lumayan ngos-ngosan.” naia tertawa kecil, “Iya, buat pemanasan sih pas. Tapi kayaknya seru juga kalau ada area buat stretching di ujung track gitu.” dian pun berseru, “Setuju! Kalau ada alat fitness outdoor, makin lengkap sih,” sambil membayangkan tempat itu dengan lebih banyak fasilitas olahraga.

Hari itu mereka menghabiskan waktu dengan berolahraga, memotret, dan saling bercerita. Di balik cerita teknis soal tandon dan banjir, tempat ini punya sisi hangat yang tidak tertulis di papan informasi tempat tumbuhnya interaksi, keheningan yang damai, dan ruang terbuka yang dibutuhkan kota.

Hari pun semakin siang. Aktivitas di sekitar tandon mulai ramai ada anak-anak kecil bermain sepeda, remaja yang bermain lempar lembing, hingga seorang kakek yang rutin membaca koran di bawah pohon rindang. Mereka memperhatikan semua itu dengan senyum tipis, merasa bahwa tempat ini kini telah menjadi bagian dari kehidupan warga.

Sambil bersiap-siap kembali kerumah, naia berbisik pelan, “Kadang sesuatu yang dibangun untuk alasan teknis bisa berubah jadi tempat yang berarti. Asal kita nggak lupa fungsinya dan nggak berhenti merawatnya.” Hari itu, Tandon Serua River Park bukan sekadar tempat berolahraga atau tempat hunting foto, tapi juga pengingat bahwa ruang publik bisa jadi cerita.(*)

Oleh Naima Ramadhani