Kisah Prasasti Legenda Kalisombo, Kota Salatiga

Kalisombo adalah saksi bisu perubahan zaman, tempat di mana cerita-cerita masa lampau bergema melalui aliran air, rimbunan bambu, dan jalanan berbatu yang masih setia mengantarkan langkah kaki para penduduknya. 

Nama “Kalisombo” sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa yaitu kali yang berarti sungai, dan sombo yang bermakna “bermuara” atau “mengalir deras”. Konon, pada masa lampau, daerah ini dikenal karena sungainya yang besar dan deras, menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar. Airnya digunakan untuk irigasi sawah, sumber air bersih, hingga sebagai tempat bermeditasi para petapa. 

Pada masa kolonial Belanda, aliran sungai di Kalisombo bahkan menjadi perhatian para insinyur dan petugas tanam paksa yang mencoba mengeksplorasi sumber daya alam kawasan ini demi kepentingan perkebunan dan militer. Pada awal abad ke-20, Kalisombo berkembang menjadi kantong permukiman yang cukup ramai. Penduduknya terdiri dari beragam latar belakang petani, buruh, pedagang kecil yang hidup berdampingan dalam semangat gotong royong. Terlepas dari semua itu, terdapat kisah prasasti legenda yang dipercayai oleh masyarakat sekitar mengenai asal mula terbentuknya Kalisombo sendiri.

Lagenda Kalisombo Kampung Kerajan, Kelurahan Salatiga Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga Bagian pertama. Setelah di Wisuda, di Candi ke tujuh gedung Songo. Prabu Suryo Murti memimpin kerajaan yang berpusat di kampung Pjai atau sekarang dikenal sebagai Kampung Kerajaan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Lokasi kerajaan sekarang digunakan sebagai kantor bank JTek, Kota Salatiga. Pada tahun 1964, digunakan sebagai Hotel Caloca. pada zaman kolonial Belanda digunakan sebagai Hotel Kalitama.

Kisah legenda Kalisombo berawal pada masa kerajaan Jawa dahulu kala. Pada saat itu, Prabu Suryo Murti tidak lama memimpin kerajaan karena masih harus menyelesaikan tugas kadewan. Tak lama setelah turunnya ia dari jabatannya, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Patih Resiwa Moro Yoso. Setelah bertahun-tahun memimpin kerajaan, Patih Resiwanoro Yoso dikaruniai seorang putra yang bernama Raden Sambono dan Sambolo yang sama-sama mempunyai kegemaran berburu di hutan. Raden sambono seringkali memasuki hutan Walnusagoro yang didiami oleh bangsa Jin, di sinilah awal mula legenda kalisombo dan merupakan legenda yang akan mengakhiri kisah kerajaan di Salatiga.

Raja dari bangsa jin yaitu Wono Segoro, mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Amba. Putri Jin, Dewi Amba, sangat tertarik dengan ketampanan Raden Sambono. Dan dia selalu mengikuti kemanapun Raden Sambono pergi. Raden Sambono sangat bergerac berburu, bahkan pada saat berburu pun, Dewi Amba selalu emngikuti kemana pun Raden Sambono pergi. Karen Dewi Amba merupakan bangsa jin, dia tidak kelihatan oleh Raden Sambono tetapi dengan kemampuan olah jiwanya, Raden Sambono dapat merasakan kalau dia selalu diikuti oleh bangsa jin, tetapi dia tidak tahu bahwa itu adalah Dewi Amba, Putri dari Wono Segoro.

Sudah lama mengagumi sosok Raden Sambono, Pada suatu saat, Dewi Amba menghadap ayah handanya, yaitu Raja Wono Segoro, dan menyampaikan padanya bahwa dia tertarik kepada Raden Sambono, yang merupakan bangsa manusia. Dewi Amba bersedia melakukan apa saja agar dapat mendekati Raden Sambono karena dia sudah jatuh hati pada Raden Sambono. Dewi Amba meminta kepada Ayah Handanya untuk merubah wujudnya menjadi manusia dengan resiko kehilangan kemampuan jinnya. Dengan banyak nya pertimbangan dari sang ayahanda, akhirnya Raja Jin Wono Segoro mengabulkan permintaan Dewi Amba untuk merubah wujudnya menjadi manusia dengan resiko kehilangan kemampuan Jin nya. Hal yang paling dikuatirkan oleh raja jin Wono Segoro karena telah mengizinkan putri nya, Dewi Amba, adalah memasuki dunia manusia tanpa memiliki kemampuan jin sehingga dapat menjadi kelemahan bagi putrinya.

Dengan kemampuan berubah wujudnya, Dewi Amba merubah wujudnya menjadi manusia yang cantik jelita hingga semua laki-laki di kerajaan tak mampu untuk memalingkan wajah dari nya. Namun, Dewi Amba tetap menaruh hati hanya pada satu lelaki, yaitu Raden Sambono. Dewi Amba berpamitan kepada ayahanda nya, dan seperti biasanya, ia pergi ke tempat dimana Raden Sambono kerap kali berburu dan menunggu kedatangannya disana, di tengah hutan belantara. Sebagai seorang ayahanda, Raja Wono Segoro tak dapat tenang membiarkan putri nya sendiri berkeliaran di dunia manusia tanpa kekuatan jin sedikitpun. Ia khawatir akan keselamatan Dewi Amba dan mengirim utusan untuk mengawasi Dewi Amba.

Jalan sore hari, munculah yang ditunggu-tunggu. Raden Sambono. Dewi Amba sangat gembira, dapat bertemu pujaan hatinya. Meskipun sudah berwujud manusia yang cantik jelita, Raden Sambono tahu bahwa sebenarnya Dewi Amba adalah bangsa jin yang selama ini mengikutinya karena aura yang muncul dari diri Dewi Amba tak dapat dipungkiri bahwa ia adalah bangsa jin. Kehadiran Dewi Amba sangat mengganggu Raden Sambono. Di manapun Raden Sambono pergi, Dewi Amba terus mengikuti, sampai di ujung jalan keluar hutan. Tepatnya di sumber mata air. Raden Sambono sangat kesal, terus diikuti Dewi Amba. Berkali-kali Raden Sambono meminta dan memerintahkan Dewi Amba untuk pulang. Tetapi Dewi Amba tetap keras kepala dan terus mengikutinya sampai di kerajaan Raden Sambono meskipun ditakut-takuti dengan busur panah. karena tidak kuasa menahan amarahnya. Busur Panah Raden Sambono terlepas dan mengenai tubuh Dewi Ambar. dan darahnya mengalir di mata air tersebut, pada waktu yang cukup lama, aliran mata air berubah, menjadi warna merah darah atau seperti kalisombo.

Setelah kejadian di Kalisombo, Raden Sambono berdiam diri ia tak dapat bergeming sedikit pun, merasa bersalah dan menyesali perbuatannya telah merenggut nyawa Dewi Amba meski tanpa disengaja oleh karena perasaan kesal dibuat Dewi Amba. Ayahanda Raden Sambono, Resiwano Royoso menghampiri dan menanyakan apa yang telah terjadi, hingga Raden Sambono berdiam diri. Setelah Raden Sambono menceritakan apa yang telah terjadi di Kalisombo, Resiwano Royoso mempunyai firasat, kalau Raja Jin Wonosegoro pasti akan datang dan menuntut balas atas kematian putrinya. Oleh karena itu, Resiwano Ryoso mengutus Raden Sambono pergi ke kerajaan di Jawa Timur dengan membawa pusaka kerajaan Trisula. yang menjadi firasat, Patih Resiwano Royoso. Raja jin Wonosegoro sudah mengetahui kejadian meninggalnya sang Putri dari prajuritnya yang diperintahkan untuk mengawasi Dewi Amba, amarahnya tak terpungkiri. Pagi-pagi buta, Raja Jin Wonosegoro membawa seluruh pasukannya menuntut balas ke jantung kerajaan Salatiga. Raja Jin Wonosegoro meminta agar Patih Resiwano Royoso menyerahkan Raden Sambono untuk dihukum mati. Patih Resiwano Royoso menolak dan terjadilah pertempuran hebat. Pertempuran tidak seimbang terjadi. Raja Jin Wonosegoro menggunakan kekuatan penuh, sedangkan Patih Resiwano Royoso tanpa menggunakan pusaka kerajaan karena pusaka sudah diserahkan pada Raden Sambono. dan pertempuran dimenangkan oleh Raja Jin Wonosegoro. Untuk waktu yang cukup lama, kerajaan Salatiga dikuasai oleh Raja Jin Wonosegoro. Akhirnya, Patih Resiwano Royoso beserta pasukan yang tersisa bersembunyi mengasingkan diri di Gunung Kendali Sodo, tempat mesanggrah Resi Mayangkuru atau Anoman. Legenda Kalisombo, prasasti legenda yang mengakhiri, kerajaan legenda di Salatiga.

Di balik kisah legendanya, Kini, Kalisombo memang telah berubah. Sungai yang dahulu mengalir deras, kini lebih tenang, kadang surut, kadang keruh. Rumah-rumah permanen menggantikan gubuk bambu, dan jalan-jalan aspal mulai menggantikan setapak tanah yang dahulu dilalui kerbau. Namun, di balik modernisasi itu, denyut kehidupan tradisional masih terasa. Pasar kecil masih ramai saban pagi, suara azan bersahut dari musala dan masjid tua, dan aroma masakan dapur ibu-ibu masih mengepul hangat di senja hari.(*)

Oleh Nindia Dipa Kencana