Legenda Mbah Kramat: Sang Pembuka Tanah Gedawang

Pada masa kejayaan Kerajaan Demak dibawah pemerintahan Sultan Trenggono,tersebarlah kekuasaan Islam ke berbagai pelosok Jawa. Namun tak semua wilayah mudah ditundukkan. Diselatan wilayah Semarang,terbentang hutan belantara yang belum terjamah manusia,penuh misteri dan mitos tentang makhluk ghaib penjaganya. Wilayah itu disebut orang sebagai “alas sengkeran”.

Di pendapa agung Keraton Demak,Sultan Trenggono tengah bermusyawarah bersama para paglima. Udara pagi terasa panas meski sinar matahari belum sepenuhnya menanjak. Suasana tegang karena wilayah selatan tak kunjung terbuka,padahal letaknya strategis untuk jalur dagang dan penyebaran Islam. “ Raden Kramat,” ucap Sultan sambil menatap tajam seorang pria bersorban hitam,”tanah selatan itu perlu terbuka. Tak hanya untuk pertanian,tetapi juga sebagai benteng spiritual. Kau adalah pilihanku.” “ Titah paduka akan hamba laksanakan dengan segenap jiwa,”jawab Raden Kramat tenang,dengan tangan bersedekap di dada. “ Mohon izin hamba membawa beberapa prajurit,serta kitab dan keris pusaka sebagai bekal perjalanan.”

Sultan mengangguk. Ia tahu Raden Kramat bukan sembarangan senopati. Selain ahli strategi perang,ia juga seorang santri yang menguasai ilmu hikmah dan kebatinan. Rakyat menghormatinya bukan karena pedangnya,melainkan juga karena akhlaknya.

Perjalanan ke wilayah selatan dimulai dengan perahu menyusuri Sungai Kaligarang,lalu dilanjutkan berjalan kaki menembus hutan. Raden Kramat membawa sepuluh orang pengikut setia, termasuk Ki Suroto dan Nyi Wening,seorang tabib perempuan yang ahli ramuan dan pengobatan. Meraka menyusuri jalan setapak,melewati semak-semak tinggi dan suara-suara aneh dari dalam rimba.

“Kanjeng Kramat,”bisik Nyi Wening disuatu malam saat api unggun menyala kecil,” “aku mencium bau bunga kenanga,padahal tak satu pun pohon kenanga tumbuh disini. Itu pertanda kehadiran makhluk ghaib.

“ Aku tahu,”jawab Kramat pelan. “Namun kita tak datang untuk mengganggu. Esok aku akan bertapa,memohon izin pada penjaga tanah ini.”

Di tengah hutan,mereka menemukan pohon besar berakar menonjol seperti lengan raksasa yang menjulur di bumi. Pohon itu kelak dikenal sebagai “Pohon Gedawang”,tempat Mbah Kramat melakukan semedi selama tujuh hari tujuh malam,hanya berbekal air dan sehelai kain putih.

Pada malam ketujuh ia bermimpi bertemu dengan seorang pertapa tua berjubah putih. “Wahai cucuku,” ujar petapa itu,”tanah ini kuat, tetapi perawan. Ia hanya mau dibuka oleh tangan yang lembut, bukan oleh nafsu kekuasaan. Bangunlah dusun bukan kerajaan. Ajarkan damai,bukan dominasi.”

Ketika bangun dari semedinya,tubuh Raden Kramat terasa ringan,seolah menyatu dengan tanah. Ia segera mengajak pasukannya membuka lahan secukupnya. Tidak semua pohon ia tebang,ia memilih untuk menyisakkan pepohonan besar sebagai peneduh dan tempat para leluhur bersemayam.

Warga dari desa-desa sekitar mulai berdatangan,tertarik oleh keramahan dan kebijaksanaan Mbah Kramat. Mereka membuka lading,menanam padi,singkong,dan rempah. Air dari sendang yang ditemukan dilereng bukit mereka sebut “Sendang Kramat”,karena airnya jernih dan dipercaya menyembuhkan penyakit.

Namun kedamaian tak bertahan lama. Suatu malam,kawanan perompak dari utara dating merampok dan membakar lumbung. Api melalap beberapa rumah warga. Mbah Kramat segera memimpin perlawanan dengan keris pusaka yang memancarkan cahaya biru kehijauan.

“Wahai kalian yang gelap mata!” teriak Mbah Kramat lantang. “Tanah ini bukan untuk kalian jarah. Jika tak pulang sekarang,kalian akan lenyap bersama hawa dendam kalian sendiri.”

Konon, para perompak itu melihat bayangan raksasa beridiri di belakang Mbah Kramat. Mereka ketakutan, lari tunggang-langgang,dan tak pernah kembali. Sejak saat itu,Mbah Kramat dianggap bukan hanya pemimpin, tapi pelindung gaib desa.

Dusun itu terus berkembang. Mereka sepakat menamai wilayah itu “Gedawang”, mengambil nama pohon sakti yang menaungi awal mula mereka. Tradisi seperti tumpengan,sedekah bumi,dan nyandran makam menjadi bagian dari kehidupan warga Gedawang hingga kini.

“Ingatlah, Anak-anak,” pesan Mbah Kramat pada murid-murid padepokannya, ”kekuasaan tanpa doa akan membawa bencana. Ilmu tanpa akhlak hanyalah kesombongan yang menunggu tumbang.”

Menjelang akhir hayatnya, Mbah Kramat memilih tinggal di cungkup kecil di atas bukit. Ia sering terlihat duduk menghadap timur, membaca doa dalam bisikan. Suatu pagi, ia ditemukan telah wafat, tersenyum dalam posisi duduk bersila. Warga menguburkannya di tempat biasa bertapa,dan membangun cungkup batu sederhana sebagai makam.

Hingga kini,makam Mbah Kramat di Bukit Gedawang menjadi tempat ziarah. Bnyak peziarah dating membawa air dari sendang.memohon keselamatan,dan mendoakan arwah leluhur. Pada malam-malam tertentu, warga mengatakan masih terdengar suara gamelan dari atas bukit. 

Mbah Kramat telah tiada secara jasmani,namu namanya hidup dalam ingatan dan budaya masyarakat Gedawang. Ia bukan hanya pendiri,tetapi jiwa dari tanh itu sendiri menjadi legenda yang menjaga harmoni antara manusia,alam,dan Tuhan.(*)

Oleh Revanza Rahmania Azalia