Seiring dengan berjalannya waktu, setelah beranjak dewasa, saya semakin tertarik dengan budaya Batak. Saya menyadari betapa pentingnya budaya Batak yang tetap hidup di tengah perubahan zaman. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah sistem adat Dalihan Na Tolu. Adat ini merupakan pilar utama dalam kehidupan sosial masyarakat Batak yang menyangkut hubungan kekeluargaan, sosial, dan nilai-nilai kehidupan.
Pagi itu saya duduk bersama keluarga dan sepupu-sepupu saya di rumah opung (nenek/kakek) di Sipituhuta, Dolok Sanggul. Kopi khas Batak yang kental menjadi teman obrolan kami.
“Apa yang kalian tahu tentang Dalihan Na Tolu?” tanya Tulang atau Paman secara tiba-tiba.
Saya tersenyum, mencoba mengingat materi yang pernah saya pelajari di gereja. “Dalihan Na Tolu itu seperti fondasi kehidupan sosial masyarakat Batak, Tulang . Ada tiga unsur utama yang membentuknya, yaitu Hula-hula (pihak yang memberi istri (wife giving party), Dongan sabutuha (pihak yang semarga), dan Boru (pihak yang menerima istri (wife reveiving party),” jawabku.
Tulang mengangguk, “Betul! Jadi, Dalihan Na Tolu ini benar-benar penting karena bisa menentukan hubungan antara individu dalam masyarakat Batak. Ketiga unsur tersebut memiliki peran masing-masing.”
Tulang mulai menjelaskan lebih rinci kepada saya dan sepupu-sepupu yang lain. “Jadi, Hula-hula itu adalah pihak keluarga dari perempuan. Mereka adalah pihak yang datang dari luar dan punya peran untuk menghormati dan memberi nasihat kepada keluarga pihak laki-laki. Biasanya mereka ini yang mengatur berbagai acara adat seperti pernikahan, memberi nasihat, atau berperan dalam pemilihan pemimpin adat.”
“Kalau Dongan Sabutuha itu apa, Tulang?” tanya Zefa, yang memang belum begitu paham tentang sistem adat ini.
“Sederhananya, Dongan Sabutuha itu adalah keluarga inti, bisa dibilang saudara-saudara yang memiliki ikatan darah dari pihak laki-laki,” jawab Tulang . “Mereka adalah orang yang paling dekat, jadi saling mendukung dan menjaga keharmonisan keluarga. Dalam acara adat, mereka yang bertanggung jawab untuk melaksanakan banyak hal, seperti menjaga kesucian adat dan menjalankan kewajiban-kewajiban yang ada.”
“Ohh, jadi mereka ini seperti kakak-beradik semarga dengan kita yang punya ikatan darah kuat, ya, tulang?” tanya Zefa, mencoba memahami.
“Betul sekali, Bere (ponakan laki-laki/perempuan),” jawab Tulang Dheo.
“Terakhir ada Boru. Ini adalah pihak keluarga perempuan yang menikah ke dalam suatu marga atau keluarga Batak laki-laki. Biasanya mereka ini yang menjadi perantara dalam hubungan sosial antar keluarga. Boru seringkali berperan dalam menjaga hubungan baik antar keluarga, seperti dalam hal memberi dukungan moral, membantu pelaksanaan adat, dan menjadi pihak penengah dalam konflik atau ketegangan antarkeluarga.
Mereka mendengarkan dengan saksama, dan bang Daniel (anak kedua Tulang Dheo) pun menambahkan, “Aku pernah dengar kalau sistem Dalihan Na Tolu ini bisa mengatur segala hal, termasuk dalam hal warisan dan kepemimpinan adat, ya Pah?”
“Benar, Niel. Bahkan, hubungan antara ketiga unsur ini tidak bisa sembarangan dipisahkan. Setiap tindakan yang diambil oleh salah satu pihak akan mempengaruhi hubungan dengan dua pihak lainnya,” tulang menjelaskan.
Aku jadi penasaran, apakah kalau ada satu pihak yang tidak bisa menjalankan peranannya dengan baik, bisa memengaruhi keseluruhan sistem ini, Tulang ?” tanya Karel.
“Ya, bisa. Dalihan Na Tolu memang sangat mendalam dan rumit. Misalnya, dalam sebuah pernikahan adat, jika Hula-hula dan Dongan Tubu tidak sejalan atau tidak saling mendukung, maka bisa menyebabkan ketegangan, bahkan merusak hubungan yang telah terjalin. Maka dari itu, keharmonisan dalam Dalihan Na Tolu sangatlah penting,” jawab Tulang , sambil menyeruput kopi.
Eveline tersenyum lebar dan berkata “Saya jadi semakin paham, Dalihan Na Tolu ini benar-benar bukan hanya tentang hubungan darah, tapi juga tentang saling menghormati dan menjaga keseimbangan antar pihak.” “Iya, betul sekali. Ini adalah simbol dari bagaimana masyarakat Batak memandang pentingnya hubungan antar manusia. Dalihan Na Tolu bukan hanya sekadar tradisi, tetapi sebuah filosofi hidup yang mengajarkan kita tentang nilai-nilai keadilan, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan, Lin,” jawab Tulang .
Obrolan kami terus berlanjut hingga sore, dan saya merasa semakin terhubung dengan budaya Batak yang begitu kaya akan nilai-nilai. Seperti yang saya rasakan, Dalihan Na Tolu bukan hanya sekadar sistem adat, tetapi juga cara untuk menjaga keberlanjutan hubungan antar individu dalam masyarakat, serta pengingat akan pentingnya saling mendukung dan menjaga keseimbangan.
Saya merasa yakin, meskipun dunia terus berubah, budaya Batak akan terus hidup selama generasi muda mau menjaga dan merayakannya.(*)
Oleh Elsya Manora Manulang