Resensi Novel “Cantik Itu Luka” Karya Eka Kurniawan

  • Identitas Buku
  • Judul buku: Cantik Itu luka
  • Penulis: Eka Kurniawan
  • Tebal buku:  v + 517 halaman
  • Penerbit: Penerbit Jendela; Gramedia Pustaka Utama(Jakarta)
  • Tahun terbit: -Terbitan pertama: awal tahun 2002

                                      -Terbitan kedua: 2004

                                      -Terbitan khusus: 3 Juli 2022

  • Bahasa: Indonesia
  • Genre: Fiksi
  • ISBN: 978-602-031-258-3
  • Sinopsis

Pada akhir masa kolonial, hiduplah seorang gadis yang dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalankan hingga ia memiliki tiga anak gadis yang semua parasnya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironis ia memberikan nama Si Cantik. Dewi Ayu yang berprofesi sebagai pelacur pada akhirnya memiliki anak dari pekerjaan tersebut. Anak-anak Dewi Ayu, yakni Alamanda, Adinda dan Maya Dewi menurunkan kecantikan Dewi Ayu yang seorang campuran pribumi dengan orang Belanda. Ketiganya merupakan anak hasil dari pekerjaannya tanpa mengetahui siapa bapaknya. Berbeda dengan ketiga anaknya, pada saat hamil keempat, Dewi Ayu berdoa kepada Tuhan agar menjadikannya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan doa tersebut. Anak keempat yang diberi nama Cantik, adalah sosok dengan wajah monster. Bukan hanya sampai di situ, kisah tragis dialami anak Dewi Ayu yang paling bungsu, Si Cantik. Ketiga kakaknya menurunkan kecantikan dari ibunya, sedangkan si bungsu memiliki wajah buruk rupa, sehingga ia harus mengurung diri di dalam rumah selama bertahun-tahun dan hanya menunggu pangeran datang untuk menjemputnya.

  • Unsur Intrinsik
  • Tema:

Ketidakadilan gender terhadap perempuan.

  • Latar Belakang:

Periode kolonialisme di Indonesia, dimulai pada masa penjajahan Belanda dan Jepang hingga masa pasca-kemerdekaan dan peristiwa G30S/PKI, khususnya di kota fiktif bernama Halimunda

  • Latar Waktu:

Latar waktu pada novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan terjadi pada masa kolonial Belanda hingga pasca 1965, meliputi periode penjajahan Jepang, masa kemerdekaan Indonesia, hingga era gerakan PKI, dengan cerita dimulai dari sekitar tahun 1945

  • Latar Suasana:

Mengerikan, menegangkan, mencekam, ironis, dan tidak tertebak.

  • Alur:

Campuran (maju-mundur).

  • Gaya Bahasa:

Sarkasme, hiperbola, metafora, personifikasi, dan ironi.

  • Amanat:

Kecantikan itu bukan segalanya, karena yang terlihat indah belum tentu benar-benar indah. Banyak luka, petaka, bahkan sampai pertumpahan darah hanya demi memperebutkan sesuatu yang indah tersebut. Seperti yang diucapkan Krisan (karakter pada novel), “Sebab cantik itu luka.”

  • Penokohan:

Tokoh utama:

  1. Dewi Ayu
  2. Cantik
  3. Alamanda
  4. Adinda
  5. Maya Dewi
  6. Kamerad Kliwon
  7. Shodanco
  8. Maman Gendeng
  9. Nurul Aini
  10. Rengganis
  11. Krisan

Tokoh pendukung:

  1. Ma Gedik
  2. Ma Iyang
  3. Mama Kalong
  4. Edi Idiot
  5. Aneu StammlerTed Stammler
  6. Maritje Stammler
  7. Hanneke Stammler
  8. Mr. Willie
  9. Rosinah
  10. Ola
  11. Romeo
  12. Mina
  13. Kamino
  14. Isah Betina
  15. Sudut Pandang:

Orang ketiga tak terbatas.

  • Kesimpulan
  • Kelebihan:

Penulis mampu menyajikan kisah yang menjadi menarik bagi saya selaku pembaca untuk terus melanjutkan membaca, sembari menerka hal apa yang akan terjadi. Penataan alur yang begitu bagus sekaligus rumit, membuat saya seolah-olah diajak berwisata ke jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Walaupun dikemas dengan bahasa yang cukup berat, novel ini menyangkut berbagai hal serta memberikan banyak pengetahuan dan pesan moral. Novel ini mampu mematahkan spekulasi jika cantik bukanlah segalanya, cantik bukan lagi menjadi simbol kesempurnaan, cantik itu fana. Sebab cantik itu luka.

  • Kekurangan:

Penggunaan bahasa yang cukup berat membuat saya berpikir beberapa kali dalam memahami setiap kalimatnya. Permainan alur maju mundur yang cukup rumit membuat saya harus berpikir keras dalam menarik keterkaitan antar cerita. Selain itu penulis terlalu berani menggunakan kosa kata vulgar. Paham patriarki yang penulis terapkan dalam novel banyak menimbulkan pro dan kontra. Terlebih lagi untuk pembaca yang belum terbiasa dengan bacaan seperti ini.

  • Rekomendasi:

Cantik Itu Luka menjadi salah satu novel terbaik dan terfavorit yang pernah saya baca. Banyak yang bisa kita dapatkan dari novel ini, maka dari itu saya sangat merekomendasikan novel ini untuk segera dimiliki.

Nama: Keysa Putri Anggraini

NIM: 2502020064

Prodi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Rombel: 2

Matkul: Dasar-Dasar Sintaksis

Dosen Pengampu: Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, S.Pd.,M.Pd.