Tidur Panjang Gunung Wurung

Malam di Kota Demak tak lagi sama sejak langit pertama kali bergetar. Di tengah hamparan sawah yang sunyi, suara gemuruh muncul dari tanah yang selama ini dikenal datar dan tenang. Warga Desa Wonokerto tak pernah menyangka, tanah yang mereka injak tiap hari untuk menanam padi itu mulai menggeliat seperti makhluk raksasa yang dibangunkan dari tidur panjangnya. Semua bermula dari retakan kecil di tengah ladang Pak Kades.

Retakan itu tak biasa. Lebarnya hanya selebar telapak kaki, namun mengeluarkan uap panas bercampur aroma belerang yang menguar seperti napas naga yang menahan marah. Awalnya, warga mengira itu cuma fenomena geologi biasa. Tapi dalam waktu tiga hari, retakan itu melebar menjadi lubang besar berdiameter lima meter, menghitam di sekelilingnya, dan terdengar suara seperti desah napas yang berat.

Para sesepuh desa mulai berbisik-bisik, menyebut nama lama yang tak pernah mereka ucap sejak zaman penjajahan: Gunung Wurung. Gunung Wurung, menurut legenda lokal, merupakan gunung yang pernah mencoba terbentuk di masa lampau namun gagal. Tanah menolak kehadirannya, dan ia terkubur dalam-dalam oleh waktu dan mitos. Tapi orang tua-orang tua itu percaya, ia bukan mati. Ia hanya tertidur, menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali.

Kini,saat suara dari dalam bumi semakin keras, mereka percaya saat itu telah tiba. Lina, seorang geolog muda dari Semarang yang sedang melakukan penelitian tanah di Demak, adalah orang pertama dari luar desa yang mempercayai cerita itu. Ia melihat ada anomali dalam struktur tanah bawah Wonokerto. Tekanan magma yang naik, namun tertahan oleh lapisan batu purba sekeras rahasia zaman. “Kalau ini bukan letusan, maka ini akan menjadi keanehan geologi terbesar di Jawa,” katanya pada koleganya.

Namun tak seorang pun mau mendengarkannya. Semua masih menganggap Demak terlalu datar untuk punya gunung. Tapi malam keenam sejak retakan muncul, langit di atas Wonokerto berpendar merah, seperti bara yang menyapu langit malam. Petir menyambar dari awan hitam tanpa hujan, seakan langit sendiri sedang bersilat dengan bumi.

Tanah di sekitar lubang mulai bergelombang, seolah ingin melahirkan sesuatu yang tak pernah benar-benar jadi. Suara gemuruh berubah menjadi raungan yang mengguncang dada, memecah sunyi menjadi serpihan-serpihan ketakutan. Namun tak ada letusan, tak ada lava, hanya tanah yang terus menggembung lalu mereda. Seperti batuk yang tertahan di dada bumi. Alam seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk dilepaskan.

Esoknya, lubang itu mengering. Tidak membesar, tapi menyisakan tanah sekeliling yang berubah menjadi gersang, kering, dan kelabu seperti abu masa lalu. Penduduk mulai menyebutnya “Gunung Wurung”. Gunung yang ingin lahir, tapi gagal, namun tetap hadir. Mereka tahu, kegagalannya bukan berarti ia menyerah. Ia hanya menunggu, sabar dalam diam.

Lina memutuskan tinggal lebih lama. Ia membangun pos kecil pengamatan dan mulai mengumpulkan data, bukan hanya dari perut bumi, tapi juga dari ingatan dan cerita rakyat. Ia percaya, ada sesuatu di bawah Demak yang lebih tua dari sejarah manusia. Sebuah rahasia yang terkunci oleh waktu dan dituliskan oleh gemuruh bumi. Dan Gunung Wurung, baginya, bukan hanya tentang retakan tanah, tapi tentang bisikan purba yang menuntut untuk dipahami.

Penduduk desa mulai berdatangan ke lubang itu setiap malam Jumat Kliwon. Beberapa melempar bunga, beberapa berdoa, dan beberapa hanya duduk diam menunggu suara itu kembali, seperti menunggu sahutan dari dunia yang terlupakan. Mereka percaya, Gunung Wurung adalah penjaga, bukan pembawa bencana tapi penanda batas. Dan dalam diamnya yang mengancam, ia lebih hidup dari gunung mana pun di pulau ini. Sebuah janji sunyi dari alam bahwa tak semua yang tertidur benar-benar mati.(*)

Oleh Felariska Andrawina