Bendo Depokharjo, desa yang terletak di kaki megahnya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Tepatnya berada di Kecamatan Parakan dan bagian dari wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dengan letaknya yang berada di dataran tinggi dengan 892 MDPL. Memberikan suasana udara yang masih sejuk dan asri, membuat siapa pun yang berkunjung merasa disambut oleh alam. Tempat yang menjadi saksi perjalanan hidup. Banyak hal menarik yang dapat diceriakan dari dusun ini.
Awalnya, menurut cerita turun-temurun warga asli di sini Dusun Bendo merupakan sebuah permukiman yang bernama Mijen, pada wilayah itu, terdapat pohon besar yang bernama bendo. Di sebelah pohon bendo itu terdapat sumber mata air yang sangat jernih.
Karena pohon bendo itu menghalangi warga permukiman itu untuk mengambil air, maka pohon bendo itu ditebang. Untuk mengenang dan menghargai pohon besar itu yang sudah lama berada di pemukiman, kemudian wilayah permukiman dinamai dengan Dusun Bendo hingga sekarang.
Sedangkan sejarah dari Desa Depokharjo tidak diketahui secara pasti karena tidak ditemukan peninggalan sejarah dan tidak ada orang yang tahu persis tentang sejarah terbentuknya Desa Depokharjo. Akan tetapi dari hasil penelusuran informasi dan musyawarah masyarakat menyimpulkan bahwa Desa Depokharjo dahulunya adalah sebuah hutan yang tidak berpenghuni. Hal itu terbukti ada seorang warga Dusun Kaligawe Kidul yang menemukan sebuah guci yang di dalamnya terdapat perhiasan zaman dahulu.
Maka masyarakat menyimpulkan bahwa guci tersebut adalah benda peninggalan purbakala. Desa Depokharjo dulunya merupakan permukiman atau padepokan tempat istirahat sekitar tahun 1830an. Tepatnya setelah ditangkapnya pangeran Diponegoro oleh Belanda, dan anak buahnya ada yang melarikan diri ke wilayah desa Depokharjo dan mendirikan permukiman di sana. Maka dari itu wilayah permukiman tersebut dijuluki Depok dan ditambahi kata menjadi Depokharjo, kata harjo diambil dari karaharjan yang artinya dengan harapan agar masyarakat desa Depokharjo menjadi masyarakat yang sejahtera.
Dalam desa yang sederhana, apakah menyimpan banyak cerita mistis? Mungkin iya, akan tetapi mungkin sebagai penulis tidak tahu banyak mengenai hal mistis yang terjadi. Hanya menyebutkan beberapa yang merupakan cerita turun temurun. Sudah disebutkan di atas bahwa terdapat sumber mata air yang mengalir bersih di wilayah Dusun Bendo, kini sumber air itu direnovasi dan banyak digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan sumber air itu mampu dialirkan ke-2 dusun, yaitu Dusun Bendo dan Dusun Depok. Renovasi sumber mata air itu dibagi menjadi 2, aliran air yang besar di sebelah kiri dibuat persegi melindunginya dengan ukuran kurang lebih 1×1 m². Wilayah aliran air yang besar itu ditutup dengan tujuan untuk melindungi aliran yang asri tersebut dengan bahan kayu. Sedangkan di sebelah kanan juga terdapat sumber air yang alirannya bersumber dari sumber aliran yang di sebelah kiri dan menjadi sumber air masyarakat.
Pada suatu hari, di Dusun Bendo diadakan acara akhirusanah besar-besaran. Dengan berbagai acara, siang hingga sore diadakan pengajian dan malamnya hiburan mengadakan pentas kesenian yang diadakan warga Dusun Bendo Depokharjo dan berbagai kesenian yang diundang dari desa lain. Kesenian yang dipentaskan meliputi warok dan kuda lumping. Awalnya pementasan berjalan dengan lancar, hingga salah satu peserta dari desa yang diundang mengalami kerasukan dan minta air asli dari sumber mata air di Dusun Bendo. Salah satu warga Dusun Bendo mengambilkan air di kolam air yang sebelah kanan, yang berarti air itu tidak langsung dari sumber mata air melainkan dari sumber mata air asli yang sudah dialirkan. Sedangkan yang kerasukan tersebut meminta air yang asli. Bagaimana ia tahu bahwa air yang diminum itu bukan air asli sumber mata air? Sedangkan orang tersebut bukanlah warga asli Dusun Bendo.
Orang tersebut kerasukan. Katanya oleh roh yang menjadi penunggu sumber mata air itu. Roh penunggu itu meminta agar aliran air sumber mata air yang asli itu tidak di tutupi dan diberi waktu 3-5 hari untuk memperbaikinya. Keesokan harinya setelah pementasan itu selesai, warga Dusun Bendo bergotong-royong memperbaiki sumber aliran mata air itu untuk dibuka kembali. Dan siapa sangka, yang awalnya air yang digunakan itu saat menjalang hari raya Idul fitri biasanya mati, setelah sumber mata air diperbaiki kini saat menjalang hari raya selalu lancar. Banyak orang bilang jika sebelumnya air yang selalu mati itu sebagai pertanda namun warga di Dusun Bendo itu tidak peka.
Selanjutnya, mungkin jika orang-orang mendengar cerita ini akan berasumsi bahwa ini hanya cerita yang biasa. Namun di kalangan anak kecil yang berumur 11 tahun mungkin menjadi hal yang mistis. Cerita pengalaman saya yang masih berumur 11 tahun, kelas 5 SD di MI Depokharjo, satu-satunya sekolah yang berada di kelurahan Depokharjo. Suatu hari, menunjukkan pukul 1 siang. Di dalam kelas yang sunyi terdapat beberapa siswa yang sedang bermain kelomang. Ya, kelomang kecil yang sering dimainkan olah anak-anak kecil zaman dahulu. Pada saat itu guru yang mengajar sedang rapat sehingga tidak ada yang mengajar.
Suasana mulai ramai saat laki-laki semua bermain kelomang dan murid perempuan berkumpul bercerita. Bisa dibilang juga tidak terlalu ramai, karena satu kelas hanya berisikan 12 murid laki-laki dan 3 murid perempuan. Semuanya fokus pada kegiatan masing-masing. Tiba-tiba, “brok”. Terdengar suara barang jatuh. Barang yang jatuh adalah tempat buku yang berada di meja guru. Satu kelas semuanya terdiam dan terheran sejenak. Bagaimana tidak, bahwasanya tempat buku yang berada agak jauh dari pojokkan meja tiba-tiba jatuh. Satu kelas saling bertanya-tanya “siapa yang menjatuhkan meja tersebut?’’, tetapi mereka menjawab tidak ada yang sengaja menjatuhkannya. Setelah itu, satu kelas langsung berlari keluar karena ketakutan.
Mungkinkah yang menjatuhkan tempat buku tersebut adalah makhluk tak kasat mata? Mungkin saja, karena sampai sekarang juga tidak ada yang tahu siapa yang menjatuhkan tempat buku tersebut. Beberapa hari kemudian, terdapat juga cerita mistis tetapi dialami oleh siswa kelas VI. Posisi itu, siswa kelas VI sedang bermain lari-larian di dalam kelas dengan tawa satu sama lain. Tiba-tiba lampu mati padahal di kelas lain lampu hidup. Saat keadaan lampu mati, terdapat beberapa siswa yang melihat makhluk tak kasat mata masuk lewat pintu. Mereka berteriak histeris karena ketakutan.
Ternyata, tanah yang dibuat sekolah tersebut dahulunya terdapat banyak sumur yang terbengkalai tak dipakai. Sebagai orang juga mengatakan bahwa sekolah itu dahulunya bekas kuburan yang kini sudah dipindah. Orang juga mengatakan bahwa “bagaimana sekolah itu tidak angker, di belakang sekolah saja terlihat kuburan desa yang jaraknya lumayan dekat. Benar, memang di belakang sekolah terdapat sebuah kuburan desa. Bahkan, kadang saat hari Senin dan desa mengadakan bersih kuburan, kita yang sedang melakukan upacara bisa melihatnya.
Demikian cerita yang bisa saya sampaikan, apabila ada kesalahan kata-kata, saya ucapkah mohon maaf yang sebesar-besarnya. Cerita mistis ini adalah berdasarkan cerita pengalaman penulis dan cerita dari pengalaman orang lain.
Semua itu hanyalah cerita kalau kebenarannya hanya Tuhan yang tahu.(*)
Oleh Rahma Eka Ariyanti