Desa Kauman tepatnya, sebuah dusun terpencil di pelosok Kabupaten Pekalongan, dikenal dengan kabutnya yang tak pernah pergi dan suara gamelan yang kadang terdengar dari arah hutan tanpa sumber yang jelas. Orang luar mungkin saja jarang menginjakkan kaki di sana. Bukan karena jalannya sukar, melainkan karena desir anginnya membawa bisik-bisik yang tak ingin didengar manusia biasa. Orang tua di Pekalongan berkata, “Kauman itu dusun di ujung dunia, tempat batas antara terang dan gelap hanya setipis sehelai rambut.” Dan di antara kabut, warung kopi, serta suara gamelan yang tak berwujud itu, lahirlah orok bayi laki-laki ganteng dengan kulit sawo matang dari seorang ayah Tarab dan ibu Tarkumi. Bayi laki-laki kecil hasil cinta kasih sepasang suami istri itu kemudian diberi nama Mohammad Ashral.
Ashral lahir di lingkungan keluarga sederhana dan mandiri, hidup apa adanya serta tidak mengenal dunia kemewahan. Bahkan ia pun setelah menginjak usia baligh sudah ikut turut menggembalakan hewan ternak piaraan orang lain untuk mengisi kesibukannya sebagai seorang anak seperti pada umumnya yang suka bermain dan bermain. Di Dusun Kauman, Ashral dikenal sebagai anak yang tangannya selalu sibuk. Ia bisa mencangkul, menyabit, memanggul kayu, atau membersihkan kandang ayam sejak matahari masih menguap di balik kabut. Ia tak banyak bicara, tapi matanya tajam, selalu memperhatikan gerak tubuh ayah dan ibunya yang sudah renta dan termasuk suara batuk bapaknya yang kadang mendalam.
“Ashral, tolong ambilkan air dari sumur,” pinta ibu.
“Sekalian Ashral bawakan dua ember, Mak. Untuk mandi dan nyuci,” jawabnya ringan.
Meski terkadang kawan-kawan mengejek atau menghinanya, Ashral hanya tersenyum—ia lebih suka menjaga hati daripada membalas sakit. Dalam diri Ashral tidak terbesit secuil pun muncul perasaan dendam. Seketika itu pun langsung memaafkan kepada teman sepermainan walau tidak diminta. Ashral selalu percaya, memaafkan bukan berarti lemah, tapi tanda bahwa hatinya cukup luas untuk menampung luka tanpa mengubahnya jadi dendam.
Waktu berjalan sesuai irama denyut nadi. Bagai mengalirnya air sungai tanpa bisa dipenggak atau dibendung oleh apapun. Kini Ashral telah menginjak usia remaja akan tetapi sifatnya masih seperti Ashral kecil dulu yang rajin dan pemaaf. Bahkan tidak jarang Ashral memperlihatkan sebuah “keanehan” yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Yang lebih menonjol, yaitu ia lebih senang menjauh dari kehidupan yang bersifat keduniawian seakan ia sudah tahu betul sejak kecil bahwa dunia dan seisinya hanya titipan-Nya. Oleh karena itu ia lebih asyik mencari sesuatu yang lebih hakiki.
Kabut tipis menggantung di antara pohon randu dan atap genteng rumah-rumah tua. Di rumah paling ujung, di bawah jendela dengan ukiran kayu yang mulai lapuk, Ashral duduk diam sambil menggenggam cangkir teh panas.
“Mak sama Bapak sudah cocok. Anak perempuan itu baik, Ashral dan halus juga tutur katanya,” kata ibunya dua minggu yang lalu.
Karena dipandang sudah dewasa oleh orang tuanya, maka pada suatu ketika kedua orang tua Ashral memperkenalkan pada seorang perempuan untuk dijadikan sebagai pendamping hidup Ashral. Sebab usia sebaya Ashral di sebuah Pedukuhan Kauman Kesesi rata-rata sudah pada menikah usia muda. Saat itu menikah di usia mudah bukan hal aneh atau menikah usia muda bisa dianggap melanggar undang-undang seperti sekarang ini. Dan ketika hari akad tiba, Ashral duduk di depan penghulu dengan suara tegas namun lembut, menyebut nama istrinya. Ia mencium tangan ibunya lama sekali, lalu memeluk bapaknya tanpa kata. Ia bukan lagi hanya anak, tapi laki-laki yang siap menjadi suami. Namun di dalam hati orang tuanya, Ashral tetaplah Ashral yang senang membantu dan mudah memaafkan.
Tatkala setelah akad nikah dilaksanakan pada hari itu, Ashral langsung pulang kembali ke rumah orang tua dan tidak mau kembali lagi ke tempat istrinya yang baru saja dinikahi. Kedua orang tua Ashral pun kaget dan dibuat bingung olehnya. Beliau berusaha mencari tahu apa sebab musabab anaknya pulang secepat itu. Selaksa pertanyaan pun mengelayut dibenak kedua orang tua Ashral.
“Le, ada apa? Kenapa kamu pulang lagi? Kamu itu sudah punya istri, jadi seharusnya di rumah istrimu,” Bu Tarkumi bertanya.
“Ashral mau mondok saja, Mak. Mau ke pesantren belajar agama biar pintar,” ujar Ashral.
Sebab Mohammad Ashral pulang seketika itu dikarenakan ia belum ingin berumah tangga. Pada saat itu, yang diinginkan Ashral muda bukan mencari pendamping hidup atau seorang istri, akan tetapi ia terpanggil dari jiwa yang dalam hanya ingin menimba pengetahuan ilmu Agama Islam yang lebih mendalam dengan cara mondok di Pondok Pesantren (Ponpes).
Pagi masih basah oleh embun ketika suara ayam jantan menyela sunyi Desa Kauman. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi Ashral sudah berdiri di depan rumah, mengenakan sarung biru tua, kemeja lusuh dan tas kecil berisi dua pasang baju, kitab kecil, serta selembar kain sarung hadiah dari ibunya.
Hari itu ia akan berangkat ke Cirebon. Untuk menimba ilmu Agama Islam dengan mondok di tanah Cirebon.
“Kalau rindu rumah, baca sholawat nanti rindumu pulang lewat mimpi,” kata ibunya sambil membenarkan letak peci di kepalanya. Suaranya pelan, tapi bergetar seperti daun jati diterpa angin pagi.
Ashral tidak menjawab. Ia hanya memeluk ibunya erat, lebih lama dari biasanya. Lalu ia menjabat tangan bapaknya yang genggamannya selalu kuat.
“Ndak usah jadi orang besar, Le. Jadilah orang yang bisa menjaga hatimu. Itu lebih sulit,” ujar bapaknya.
Anak polah bapa kepradah, akhirnya kedua orang tua Ashral dengan berat hati pun mengizinkan dan merestuinya secara tulus ikhlas. Dengan sedikit uang sebagai ongkos perjalanan dan dibekali makan untuk keperluan di jalan, maka Ashral dengan tekad bulat dan nyawiji melangkahkan kaki seorang diri ke tempat yang dikehendaki. Ia lebih mengutamakan mencari dan mendalami ilmu Agama Islam daripada segalanya. Sampai kedua orang tuanya pun yang sangat mengasihi ia rela tinggalkan, bahkan istri sah yang baru saja ia nikahi juga ditinggalkan begitu saja karena ada tugas yang lebih utama harus ia kerjakan.
Perjalanan panjang ia lalui dengan jiwa lapang dada, melewati jalan-jalan tanah yang masih diselimuti kabut. Ia tak banyak bicara, hanya menatap sawah yang mulai menguning, pohon-pohon kelapa, dan langit pagi yang seperti belum rela melepasnya. Desa Kesesi Pekalongan menuju ke Tanah Cirebon Jawa Barat bukan jarak dekat dijalani dengan berjalan kaki yang belum ada angkot seperti sekarang ini.
Setelah sampai ketempat tujuan, ia menyatu di lingkungan Ponpes. Malam pertama di pondok, Ashral tak bisa tidur. Suara kentongan malam, ayat-ayat yang dilantunkan dari bilik sebelah, dan bau tikar pandan yang asing membuatnya gelisah, tapi ia tak mengeluh. Akan tetapi, sifat kecilnya tidak berubah sama sekali juga perilaku dalam keseharian. Ia selalu menyendiri bahkan di lingkungan Ponpes dikenal sebagai anak pemalas. Terkadang disaat santri yang lain sedang melaksanakan perintah (tugas) dari ustadz, Ashral malah tidur. Hal itu sering membuat santri lain kurang senang terhadap perilaku Ashral.
Pada suatu ketika, ia disuruh rekan santri untuk menanam pohon pisang. Ashral menolak keras. Ia baru akan menuruti menanam pohon pisang jika dengan sebuah persyaratan atau sebuah sayembara.
“Lho, kenapa harus aku yang menanamnya?” tanya Ashral dengan nada malasnya itu.
“Mbok ya nurut saja, Shral. Kamu hanya disuruh menanam pohon pisang. Itu hal yang gampang,” ujar kawannya tersebut.
“Aku mau menanam, tapi aku punya permintaan. Siapa saja yang pohon pisangnya berbuah terlebih dahulu, maka dia yang menang,” pinta Ashral dengan senyum seringai.
Para santri sepakat dengan sayembara tersebut. Tidak disangka pohon pisang yang ditanam oleh Ashral berbuah lebih cepat dari perkiraan teman santri dan diluar akal sehat manusia lumrah. Bagaimana tidak, keajaiban itu pun terlihat nyata, paginya pohon pisang yang ditanam Ashral sudah berbuah sekaligus langsung masak semua. Jelas sekali di luar kewajaran. Hal itu membuat santri-santri di Ponpes tercengang takjub dan membuat pengasuh Ponpes juga keheranan.
“Kok bisa pohon pisangmu sudah berbuah, Shral?” tanya salah satu santri.
“Aku tidak tahu,” Ashral menjawab dengan enteng.
Ashral memang dikenal sebagai santri yang sedikit “ngeyel”, tapi sejatinya Ashral mempunyai niat yang baik dari lubuk hati. Menurut Ashral, menjadi manusia jangan hanya bisa memerintah orang lain jika masih bisa dilakukan oleh diri sendiri.
Setelah lima tahun berjalan, di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, satu per satu santri mengeluh gatal, kulit melepuh kecil, dan ruam menyebar dari siku ke leher. Awalnya satu kamar, lalu tiga, lalu hampir seluruh pesantren.
“Kadas, kurap, jamur… atau kutukan?” bisik beberapa santri yang mulai takut.
Pengasuh Ponpes dengan tenang menyarankan agar seluruh santri mandi di sebuah kolam dekat ponpes tersebut. Setelah mereka sampai di tempat tujuan, semua santri berendam di air hangat. Tak dari kejauhan, tampak Ashral yang hanya duduk di pinggiran kolam. Ia saat itu tidak mau turun ke kolam untuk ikut mandi bersama-sama.
“Shral, sini ikut mandi. Mau sembuh apa tidak?” ujar temannya.
“Ya sana tinggal mandi, aku mau duduk di sini,” Ashral menjawab.
Teman-temannya sangat hafal dengan perilaku Ashral tersebut. Ashral tidak akan mau jika disuruh, dirinya memang sedikit nyeleneh. Kemudian, teman-teman Ashral memaksa dan mendorong Ashral masuk ke dalam kolam. Ashral jatuh ke dalam kolam. Tetapi setelah ditunggu beberapa saat tidak muncul-muncul ke permukaan. Para santri menjadi bingung, takut, sekaligus tegang. Kekhawatiran mereka muncul akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Ashral. Anak-anak mulai saling pandang. Seorang berteriak. Seorang lagi mencoba menyelam, tapi tak menemukan tubuh siapa pun di dalam sana. Seolah Ashral ditelan oleh dasar air yang tak pernah dalam itu.
Air kolam yang semula penuh dan beriak lembut, dikuras hingga surut menyisakan dasar yang pucat—namun Ashral tak jua ditemukan. Para santri terdiam, pengasuh pondok menatap kosong ke air yang tak lagi memberi jawaban. Dalam gelisah dan tanya yang menggantung di langit-langit pesantren, pengasuh ponpes pun berjalan menembus sore menuju rumah Ashral di Dukuh Kauman, Kesesi, Kabupaten Pekalongan.
Tapi harapan pupus di ambang pintu.
“Ia tak pulang, Kiai.”
Ibunya terisak tanpa suara, ayahnya menunduk dalam diam.
Tak ada yang bisa dilakukan, selain menengadahkan tangan ke langit dan berdoa lirih.
“Pulanglah, Le. Di mana pun kau berada… pulanglah.”
Malam itu, angin bertiup pelan, seperti sedang menyampaikan bisik rindu dari langit ke bumi. Rumah tua di ujung Dusun Kauman sunyi, hanya suara gesekan dedaunan yang terdengar jauh dari ladang. Ibu Ashral sedang duduk sambil menggenggam tasbih yang butirannya telah lusuh dan juga sang ayah yang terus menanti kabar tak kunjung datang.
Tiba-tiba, suara langkah terdengar dari arah jalan setapak.
Pelan. Teratur. Menyentuh tanah seperti alunan gamelan malam.
Pintu bambu itu diketuk tiga kali. Tok… tok… tok.
Lalu terdengar suara yang nyaris tenggelam dalam angin.
“Assalamualaikum… Mak… Bapak… ini Ashral…”
Ibu Ashral berdiri seperti disambar petir. Matanya terbelalak, tubuhnya gemetar. Ia berlari tanpa sempat mengenakan selendang.
Di balik pintu, berdiri sosok yang sudah lama mereka tangisi—berdebu, basah, dan kurus. Ashral pulang hanya menggunakan pakaian yang terbuat dari akar-akaran, dianyam sebagai penutup aurat dan dengan jenggot lebat serta rambut terurai panjang sampai punggung.
Sang ibu memeluknya erat, seperti ingin memastikan bahwa itu benar anaknya, bukan bayangan. Air matanya luruh seperti hujan pertama di musim kemarau. Ayah Ashral tertatih keluar, lalu bersimpuh di lantai kayu, memandangi anak lelakinya yang seolah kembali dari dunia lain. Dan kabar kepulangan Ashral pun tersebar secara cepat hari berikutnya. Sanak keluarga, tetangga dan semuanya berdatangan karena penasaran dan banyak yang menanyakan kemana saja ia selama ini.
Ia hanya mengisahkan secuil dari perjalanannya—yang baginya cukup, meski menyisakan seribu tanya. Katanya, selama ini ia tinggal di dalam gua, tersembunyi di hutan sunyi nun jauh entah di mana—tempat yang tak bisa disebut oleh lidah, seakan memang tak diizinkan dunia untuk tahu. Di sana, ia hidup bersama hewan-hewan yang jinak tanpa sebab, seperti sahabat lama yang telah menunggu sejak ia lahir. Mereka yang mencarikan makan, menyodorkan daun petai cina dan bunga pohon jati dengan kesetiaan yang tak bisa dimengerti oleh manusia, tapi diterima dengan penuh syukur oleh Ashral yang hidup dalam sepi, tapi tak pernah merasa sendiri.
“Aku pulang ke rumah, sepanjang jalan ditemani seekor macan. Saat harus menyeberangi sungai besar, seekor ular membawaku ke seberang,” ujar Ashral dengan polos dan jujur dengan mata yang bening dan suara yang tenang—tak setitik pun dusta mengendap di ucapannya. Ia tak mencoba melebihkan, tak pula menggubah kisahnya jadi legenda. Ia hanya menceritakan sebagaimana yang ia alami bahwa alam membuka jalan, bahwa binatang menjadi kawan, dan bahwa ia selamat bukan karena kuat, melainkan karena dijaga.
Meski akal manusia sulit menerima, itulah kenyataan yang hadir. Sebab bukankah hidup ini serba ja’iz—segala bisa terjadi jika Allah menghendaki? Dan bila Sang Pemilik Semesta sudah berkehendak, maka apa yang tampak mustahil pun akan menjadi nyata dengan cara yang tak bisa dinalar oleh dunia.
Suatu hari, tanpa sebab yang dapat dijelaskan, Ashral mendaki pohon kelapa yang menjulang tinggi, seperti dipanggil oleh suara yang hanya bisa didengarnya. Berhari-hari, berbulan-bulan, ia tak menyentuh makanan, tak meminum setetes pun air dari langit. Ia diam di sana, seakan dunia lupa akan kehadirannya. Dengan segala daya, keluarga mencoba segala cara untuk membujuk, merayu dengan lembut, dengan penuh harap. Namun Ashral tetap diam, tak bergerak sedikit pun, seolah tubuhnya telah menjadi bagian dari ranting-ranting pohon kelapa itu. Waktu berlalu, bulan berganti bulan, tapi ia tetap di sana—terjaga dalam kesunyian yang tak terjamah waktu. Hampir setahun penuh, Ashral tinggal di atas sana, menjadi legenda yang tak terucapkan di antara tetes embun. Kemudian, tanpa ada kata-kata atau perintah, pada suatu pagi yang hening, Ashral turun perlahan, seperti daun yang jatuh dengan sendirinya, tanpa ada yang memaksa, dan tanpa ada yang memohon.
Ia turun, membawa serta pelepah kelapa yang sudah kering, melayang ringan, seperti sayap burung yang terbang bebas, menyusuri udara yang hening, hingga akhirnya mendarat dengan lembut di tanah yang menunggu. Pelepah itu pun menjadi alas duduknya, tempatnya berlindung dalam keheningan, di bawah pohon jeruk dan pohon nangka yang rindang. Di tempat baru itu, Ashral tetap bertahan—tak bergeming sedikit pun, meski waktu terus mengalir. Berbulan-bulan berlalu, musim hujan datang membawa guntur, tapi Ashral tak juga berpindah. Pendirian hatinya tak mudah goyah, seperti akar yang mencengkeram tanah dalam diam.
Kerabat-kerabatnya, yang tak pernah lelah berusaha, membangunkan tempat berteduh agar ia terlindungi dari guyuran hujan yang datang dengan deras. Sebuah pagar keliling dibangun sebagai pembatas antara dunia yang bergerak dan Ashral yang diam. Kabar tentang kepulangan Ashral pun mengalir bukan hanya di Kesesi, tapi juga hingga sampai ke telinga Pengasuh Pondok Pesantren, Kyai Munir yang dulu mendidiknya dengan penuh sabar. Kabar itu mengundang rasa ingin tahu, sehingga sang Kyai bersama para santri datang bersilaturahmi untuk melihat langsung sosok Ashral yang kini menjadi legenda di antara mereka.
Setelah tiba di kediaman Mohammad Ashral, mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan khusus di mana suasana tenang menyelimuti dan suara Pengasuh Pondok Pesantren yang penuh wibawa terdengar dengan logat Cirebon yang kental, “anak-anak, kini Mohammad Ashral telah kembali. Jika dalam hati kalian ada kegundahan, keruwetan yang tak kunjung reda, dan ketenangan yang hilang dari pikiran, maka datanglah bersilaturahmi ke tempat Ashral. Dia yang kini kita sebut sebagai Wali Gendhon”.
Begitulah wejangan yang disampaikan pengasuh pondok pesantren dengan suara yang penuh makna sebagai petunjuk bagi para santri yang mencari kedamaian hati. Sejak kedatangan sang Kyai dan para santri, barulah Mohammad Ashral, yang kini dikenal sebagai Wali Gendhon, berkenan memasuki rumah, menyudahi perjalanan sunyi yang ia jalani selama ini. Sejak saat itu, Mohammad Ashral mendapat gelar penuh hormat, yaitu Wali Gendhon—atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Wali Gendhon, sebuah julukan yang diberikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon sebagai pengakuan atas keteguhan dan ketulusan hati yang ia tunjukkan selama ini.
Pada masa itu, Indonesia berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda, di bawah bayang-bayang Ratu Wilhelmina yang memerintah dengan tangan besi. Di tengah pergolakan itu, rumah Mbah Wali Gendhon menjadi tempat perlindungan bagi para pejuang kemerdekaan yang terancam, diincar, dan diburu oleh serdadu Belanda. Dengan sendirinya, Mbah Wali Gendhon pun menjadi musuh yang harus diburu. Namun, meski dijadikan sasaran, rumahnya tetap menjadi benteng bagi yang teraniaya. Suatu hari, ketika Belanda mengetahui banyak pejuang yang berlindung di sana, mereka melancarkan serangan udara—bom-bom jatuh dengan derasnya. Tujuannya jelas, yaitu untuk menghanguskan rumah itu, membumi-hanguskan segala yang ada di dalamnya. Namun, dengan izin Allah SWT dan kekuatan-Nya, di halaman rumah, hanya tampah tengkurep yang terletak menjadi perisai tak terlihat dan rumah itu—bersama seluruh penghuni dan sekitarnya—terhindar dari kehancuran.
Walau Syeh Mohammad Ashral telah berbuat baik bagi masyarakat, tetap saja ada yang membenci dan memusuhi—mereka yang berpihak pada Kompeni, pada penjajah. Mereka yang membenci tak pernah berhenti memata-matai, mencari celah untuk menjatuhkan untuk membuatnya tunduk pada kekuasaan penjajah, hingga suatu ketika, mereka merancang jebakan untuk menguji kewalian Mbah Wali Gendhon. Dengan cara licik, mereka berusaha mengadu dan menghadapkan Ashral pada sebuah keputusan yang sulit. Namun, pada saat penembakan itu terjadi, Mbah Wali Gendhon menunjukkan keberanian yang luar biasa. Dia melindungi orang yang berada di depannya dengan gerakan cepat bak kilat, menyembunyikan orang itu di balik tubuhnya yang tegap. Letusan mesiu memekakkan telinga, menembus udara, namun tubuh Ashral seolah lenyap, tak tampak oleh mata serdadu Belanda dan yang terlihat hanya segumpal asap mesiu yang membumbung tinggi. Hingga akhirnya, ketika asap mulai menipis, Mbah Wali Gendhon tampak dengan tenang, memegang sebuah peluru yang terbenam dalam genggamannya, peluru yang sempat ia tunjukkan pada para serdadu Belanda dengan penuh keteguhan.
Beberapa hari setelah kejadian itu, serdadu Belanda datang kembali bersama Komandan Pasukan mereka. Mereka datang dengan permintaan maaf, membawa makanan, dan sejumlah uang sebagai bentuk penebus dosa. Namun, dengan rendah hati, Mbah Wali Gendhon menolak pemberian itu, bahkan menyuruh mereka untuk membawa pulang semua yang mereka bawa. Tidak ada rasa sakit, tidak ada amarah hanya ketenangan yang mendalam. Pada suatu ketika, Mbah Wali Gendhon dengan caranya sendiri, melancarkan perlawanan kepada Kompeni. Ia mengusir mereka dengan cara yang tak terduga—berkeliling, melanglang, menyisir markas mereka, satu demi satu tentara Belanda tewas tanpa sebab yang jelas, hingga akhirnya, markas itu kosong, tak ada lagi serdadu yang berani bertahan, ketakutan menguasai mereka, dan markas itu pun ditinggalkan dalam kesunyian.(*)
Oleh Septiani Rahma Dewi