Saya dibesarkan mengenal Kampung Rawa Belong sebagai salah satu tempat unik di Jakarta. Berlokasi di Jakarta Barat, area ini dulunya tidak sesibuk sekarang. Ada suasana khas di sini yang membuat waktu terasa lebih lambat dibandingkan dengan daerah lain.
Berdasarkan cerita orang terdahulu, Rawa Belong dulunya hanya hamparan rawa yang luas. Airnya tenang tetapi cukup dalam, sehingga orang-orang menyebutnya “belong”. Secara perlahan, rawa itu mulai surut. Penduduk mulai membuka lahan, membangun rumah panggung dari kayu, dan menciptakan perkampungan kecil yang hangat.
Pada waktu itu, kehidupan warga sangat tergantung pada alam. Sebagian masyarakat bertani di lahan kering, sedangkan yang lain menggunakan air rawa untuk budidaya ikan. Tradisi Betawi sangat terasa, dari musik tanjidor yang sering terdengar di hari Minggu hingga keramaian saat acara srawung di depan rumah warga.
Perubahan besar mulai terjadi ketika pasar bunga mulai ada di Rawa Belong. Orang dari berbagai lokasi datang untuk menjual hasil kebun mereka: mawar, melati, anggrek, hingga kenanga. Setiap pagi, aroma bunga memenuhi jalan utama, membuat kampung ini bagaikan taman besar yang hidup.
Saya masih mengingat dengan jelas saat kios-kios bunga tidak hanya terletak di dalam pasar. Dulu, pedagang memenuhi hampir seluruh tepi jalan. Trotoar dihiasi dengan beragam warna bunga, dan suara tawar-menawar mengisi udara. Saya sering berjalan di antara barisan pot bunga, merasa seperti berada di koridor kecil yang indah di tengah kepadatan kota.
Namun, seiring waktu berlalu, segalanya berubah. Pembangunan yang besar-besaran membuat tepi jalan dibersihkan. Sekarang, bunga-bunga tersebut hanya bisa ditemukan di pasar resmi. Kehidupan di jalan raya yang dulunya ramai kini terasa lebih sepi, lebih teratur, tetapi entah mengapa tetap terasa lebih kosong dibandingkan sebelumnya.
Kadang-kadang, saya merindukan suasana ramai itu, saat para pedagang tertawa sambil menyiram bunga, atau saat para ibu memilih pot tanaman sembari saling berbagi cerita. Momen-momen kecil yang dulu saya anggap biasa kini terasa sangat berharga dan langka.
Di dalam pasar, meskipun semua bunga masih ada, rasanya berbeda. Dulu, ada sentuhan pribadi, ada spontanitas yang menjadikan Rawa Belong istimewa. Sekarang, semuanya lebih teratur, tetapi sedikit kehilangan kehangatan dan kedekatan yang pernah ada.
Meskipun begitu, saya tetap bersyukur Rawa Belong masih ada. Ia tidak sepenuhnya lenyap di tengah modernisasi. Tradisi jual beli bunga tetap berlanjut, dan setiap kelopak bunga yang terjual di pasar seakan menyimpan sedikit kenangan masa lalu.
Bagi saya, Kampung Rawa Belong lebih dari sekadar tempat untuk membeli bunga. Ini adalah kampung yang menyimpan cerita tentang perubahan zaman, tentang manusia yang beradaptasi, dan tentang memori yang terus berkembang, seperti bunga-bunga yang tak pernah berhenti berbunga.(*)
Oleh Muhammad Rizqi Aprilia