Legenda Buaya Putih Kali Bekasi

Dahulu kala terdapat juragan yang memiliki seorang putri yang cantik. Mereka tinggal di daerah tepi Kali Bekasi. Tidak sekedar cantik, anak sang juragan ini juga sangat ahli dalam bela diri silat. Saking ahlinya, bahkan gadis ini juga memiliki berbagai jurus andalan yang menjadi senjata untuk melawan orang-orang yang bertindak di luar batas.

Usianya pun semakin bertambah. Sementara gadis-gadis seusianya sudah memiliki suami, ia masih belum menikah. Sang ayah juga ingin putrinya memiliki suami yang benar-benar sesuai, mengingat bahwa keluarganya bisa dikatakan sebagai keluarga terpandang.

Sebagai upaya agar sang putri mendapatkan suami yang sesuai, si juragan ini mengadakan sayembara. Aturannya, bagi yang bisa mengalahkan putrinya dalam duel silat, maka orang tersebutlah yang nantinya akan menjadi suami dari sang gadis. Setelahnya, banyak lelaki yang tertarik untuk menerima tantangan dari sayembara ini agar menjadi suami dari anak juragan yang dikagumi oleh orang banyak. Bahkan, orang-orang yang tergolong sebagai pendekar silat banyak yang mengikuti sayembara tersebut.

Namun, semua pria yang ikut dalam sayembara tersebut bisa ditumbangkan oleh sang gadis. Dari awal sayembara dengan adu silat itu dimulai hingga hari sudah semakin gelap, tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Bahkan, stamina si gadis juga masih mumpuni.

Tak lama, muncul seorang pemuda yang tak diketahui dari mana asalnya. Tanpa berlama-lama ia langsung mencoba menantang putri juragan tersebut. Tanpa disangka, pemuda inilah yang cukup membuat sang gadis kewalahan. Gerakannya, lincah, cepat, dan sulit untuk ditebak. Bahkan, ia juga menggunakan kuda-kuda dan jurus yang belum banyak diketahui orang sebelumnya.

Dengan penuh usaha untuk mengalahkan pemuda tersebut, akhirnya sang putri pun kalah dalam pertandingan tersebut dan pemuda inilah yang terpilih untuk menikah dengannya.

Setelahnya, pihak keluarga sang gadis pun segera menyiapkan pesta pernikahan mereka. Sementara calon suami beserta keluarganya menyiapkan berbagai seserahan untuk diberikan.

Hari ketika si pemuda ini berjanji akan memberikan seserahan, ia tak kunjung datang. Sang gadis pun terus menunggu sambil menatap ke arah jendela hingga melamun. Di tengah lamunannya tersebut, tanpa sadar calon suaminya beserta keluarganya pun muncul dengan tiba-tiba tanpa pertanda apa pun. Hal ini agak mengganjal, namun karena terlalu bahagia, sang gadis pun segera menyambutnya. Kemudian, pesta pun dilakukan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah menikah, kehidupan mereka sangatlah bahagia hingga mereka memiliki seorang anak. Tetapi di hari kelahiran anak laki-lakinya, sang suami meminta istrinya untuk membicarakan suatu hal.

Di perbincangan tersebut, sang suami mengakui bahwa dirinya adalah Raja Buaya Putih yang menguasai Kali Bekasi. Awalnya, gadis yang menjadi istrinya tersebut tidaklah mempermasalahkan hal tersebut. Tetapi, suasana berubah ketika sang suami menceritakan bahwa di alamnya terdapat raja siluman yang jahat. Sementara syarat untuk mengalahkannya adalah dengan menggunakan kekuatan dari anak yang memiliki darah keturunan manusia.

Artinya, anak mereka harus dibawa ke alamnya. Mendengar hal tersebut, sang istri kemudian menangis hebat sampai tidak mau bicara dan akhirnya mengurung diri. Sang suami pun memang menyesali hal tersebut, sebab sangat sulit untuk sang ibu berpisah dengan anaknya.

Hingga akhirnya, ia pun keluar rumah dan berjalan menuju Kali Bekasi. Melihat suaminya pergi, sang istri juga berpikiran bahwa suaminya sudah berusaha untuk mempertahankan kebahagiaan mereka sebagai suami istri selama ini. Dengan tekad yang bulat, ia pun akhirnya menghampiri sang suami dan menyerahkan anaknya.

Sang suami awalnya agak tidak rela dan kembali menanyakan kepada istrinya apakah ia benar-benar yakin dengan keputusannya. Istrinya pun kembali menegaskan bahwa ia merelakan bila anaknya dibawa ke alam lain, asalkan sang suami mau merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang.

Sebagai suami, pria tersebut menyanggupi kemauan istrinya, sebab anak tersebut adalah keturunan mereka dan ia juga tidak mau menelantarkannya. Dengan penuh keyakinan, ia akan terus menjaganya hingga tumbuh besar.

Setelah adanya kesepakatan antara mereka berdua, sang istri kemudian memeluk anak serta suaminya dengan erat sambil berlinang air mata sebelum mereka berdua pergi.

Akhirnya pria tersebut pun pamit pada istrinya dan segera pergi ke Kali Bekasi dan merubah wujud tubuhnya menjadi buaya putih, sementara sang anak berada di atas punggung sang ayah. Sang anak dan ayah tersebut pun terus menjauh hingga tak terlihat lagi dari pandangan sang istri dan akhirnya menyelam ke dasar sungai.(*)

Oleh Katja Julia Lubis