Dahulu kala, tepat pada masa Raden Umar Said atau yang lebih akrab dengan sebutan Sunan Muria salah satu walisongo, terdapat salah satu rangkaian peristiwa yang terjadi dari muridnya, yaitu Syekh Abdur Rahman yang datang ke sebuah desa yang pada zaman dahulu mendapatkan julukan nama: Desa Cranggang “.
Nama Cranggang bermula pada suatu ketika ada pejalan rombongan dari Kudus menuju ke kediaman Sunan Muria, saat itu melewati Desa Honggosoco. Karena mulai senja sehingga sinar matahari condong ke bawah dan menyoroti daerah perbukitan kala itu. Rombongan tersebut melihat ke arah utara dan mendapati pemandangan pohon bambu kecil atau carang yang sangat lebat atau gerumbul. Di situlah salah satu dari mereka berkata, “Iku apa kok ana carang breganggang. Iki mbesuk rejane jaman bakal keceluk Desa Cranggang (carang berganggang).” (Itu apa kok carang breganggang {menyala}. Nanti pada kemudian hari akan disbut Desa Cranggang.)
Sabda wali zaman itu memang dipercaya ampuh dan hingga saat ini di sebut desa Cranggang.
Cranggang adalah desa di Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah. Ia adalah sebuah desa yang masih hijau karena masih terdapat pohon-pohon besar yang rindang hingga udara masih terasa sejuk dan segar, desa yang masih merupakan pegunungan, yang dekat dengan gunung Muria, tempat bersemayamnya Sunan Muria.
Salah satu warga Desa Cranggang berkata “Secara keseluruhan nama cranggang dimaknai sebagai sebuah daerah yang sering terjadi perselisihan. Meskipun begitu, persatuan dan kesatuan masyarakatnya begitu kuat.”
Adapun mengnai Kedatangan Syekh Abdur Rahman terdapat beberapa versi dari berbagai narasumber atau tokoh-tokoh di Desa Cranggang. Ada yang menyebutkan bahwa ia adalah mubalig asal luar daerah. Konon, Syekh Abdur Rohman diturunkan pada waktu ada suara petir. Oleh karena itu terdapat salah satu dukuh di Desa Cranggang ada yang diberi nama dukuh Petir.
Menurut penuturan seorang narasumber yang saya wawancarai, Syekh Abdur Rohman memiliki beragam kesaktian. Dia juga dikenal memiliki dua khodam yang bersemayam dalam tubuhnya. Khodam pertama berupa macan tutul, yang berwujud seperti anak sapi. Khodam kedua adalah macan putih, yang menyerupai seekor kucing putih.
Perjuangan Syekh Abdur Rohman di Desa Cranggang sangat besar dan tidak terhitung jumlahnya. Tanpa perannya, kemungkinan desa tersebut tidak akan pernah ada seperti sekarang. Sebagai bentuk penghormatan, warga rutin mengadakan acara haul untuk mengenang jasa-jasanya. Tradisi haul ini diadakan sekali dalam setahun. Dahulu, saat jumlah penduduk desa masih sedikit dan kondisi ekonomi terbatas, haul dilaksanakan secara sederhana karena terkendala biaya. Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan semakin majunya desa Cranggang, pelaksanaan haul pun menjadi lebih meriah.
Ya, Syekh Abdur Rohman merupakan sosok yang sangat berharga dalam sejarah di Desa Cranggang. Beliau memiliki peran penting yang tidak hanya dalam perjuangan melawan penjajah Belanda, tetapi juga dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan tersebut. Kehadirannya juga membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat desa. Penduduk menyambut dakwahnya dengan terbuka, dan seiring waktu, mereka mulai mengenal serta memeluk agama Islam.
Saat ini, Desa Cranggang telah berkembang dan terbagi dalam beberapa dusun. Syekh Abdur Rohman menghembuskan napas terakhir di Dusun Karang Panas. Jenazahnya dimakamkan di Dusun Tengger Lor, tepatnya di wilayah Petir tempat pertama kali datang di desa tersebut. Hingga kini makamnya ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun luar desa. Warga sekitar pun rutin menggelar kegiatan keagamaan seperti manakiban dan pengajian di lokasi tersebut.
Di sisi makam Syekh Abdur Rohman, terdapat dua makam lain yang dipercaya sebagai makam murid-muridnya, yakni Kyai Boro dan Den Ayu Den Kudo. Kedua makam ini berada di bagian selatan makam utama dan sering pula diziarahi oleh para peziarah yang datang.(*)
Oleh Anggun Dwi Asti Helen