Meningkatkan Populasi Alpukat Unggul Deane Dalam Rangka Mewujudkan Ngesrepbalong Kendal Sebagai Sentra Alpukat

Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada Sabtu, 17 Mei 2025. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi program Pengabdian Kemitraan, Ā didanai LP2M UNNES sesuai Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) tahun 2025. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah Kelompok Tani Gunung Berkah di Dusun Gunungsari, Desa Ngesrepbalong.

Program pengabdian ini mengusung misi besar untuk mewujudkan Ngesrepbalong sebagai sentra alpukat unggul, terutama alpukat Deana. Tim pengabdian menargetkan pengembangan 400 bibit alpukat unggul yang akan didistribusikan kepada semua keluarga petani di Ngesrepbalong. Rootstock diperbanyak melalui teknik inovatif pembelahan biji agar bibit grafting alpukat Deane dapat diperoleh minimal 2x lebih banyak dibandingkan tanpa pembelahan biji. Inovasi ini merupakan tindak lanjut hasil kegiatan pengabdian tahun sebelumnya dengan memanfaatkan hasil renovasi rumah bibit seluas 8×18 meter yang rusak akibat angin kencang pada akhir 2024.

Kegiatan pengabdian secara lengkap dilaksanakan melalui lima tahapan, yakni sosialisasi, pelatihan, penerapakan teknologi, evaluasi dan pendampingan, serta memastikan keberlajutan program. Tahapan pertama adalah sosialisasi kepada mitra sasaran kelompok tani Gunung Berkah yang dilakukan Tim pengabdian. Tim ini terdiri atas Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si. selaku ketua tim, Prof. Dr. Enni Suwarsih Rahayu, M.Si., Dr. Moh. Solehatul Mustofa, M.A., serta dua mahasiswa anggota tim, Bintang Faisal Akbar dan Danissa Wirna Karmesti. Dalam sosialisasi tersebut disampaikan rencana aktivitas yang akan dilakukan minimal 5 kali kegiatan.

Dalam sosialisasi tersebut, ketua program menjelaskan secara menyeluruh jadwal dan tempat pelaksanaan kegiatan periode tahun 2025. Pelatihan teknik pembelahan biji untuk perbanyakan rootstock, pemeliharaan bibit hasil grafting, hingga pengembangan manajemen komersialisasi produk bibit. Prof. Enni menambahkan pengalamannya dalam memajukan kelompok tani anggrek di wilayah yang sama sebagai inspirasi bagi pengembangan komoditas unggulan berbasis komunitas. Sementara itu, Dr. Mustofa membagikan tips budidaya tanaman buah, strategi percepatan masa berbuah, serta pentingnya keberanian bermimpi besar dalam mengembangkan usaha pertanian.

Para petani menyambut kegiatan ini dengan antusiasme tinggi. Mereka terlibat aktif dalam diskusi, menyampaikan tantangan teknis yang selama ini dihadapi, seperti keterbatasan batang bawah, keberhasilan grafting yang rendah, dan serangan hama pada bibit muda. Tim dosen merespons secara praktis dan aplikatif, termasuk demonstrasi langsung teknik pembelahan biji alpukat yang menjadi solusi utama atas masalah keterbatasan rootstock.

Salah satu topik yang paling menarik perhatian adalah penggunaan teknik pembelahan benih alpukat menjadi dua hingga empat bagian, yang dapat memperbanyak jumlah batang bawah secara signifikan. Teknik ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan bibit dalam skala besar dan telah diajukan untuk memperoleh hak cipta sebagai teknologi tepat guna (TTG). Di sisi lain, entres Deana sebagai batang atas akan diperoleh dari pohon hasil top working tahun 2023, serta dari sumber lain untuk mencukupi kebutuhan grafting.

Kegiatan ini juga didukung secara in cash oleh Yayasan Alpukat Nusantara yang memiliki visi besar dalam memajukan komoditas alpukat nasional, serta kontribusi inkind dari kelompok tani berupa penyediaan lahan dan media tanam untuk pemeliharaan bibit.

Selain aspek teknis, pelatihan manajemen usaha tani dan komersialisasi juga akan diselenggarakan. Materi pelatihan meliputi branding produk pertanian, pengemasan menarik, pencatatan keuangan sederhana, dan penggunaan media digital untuk pemasaran. Hal ini bertujuan agar petani tidak hanya mahir membibit dan menanam, tetapi juga mampu menjual produk mereka secara mandiri dan kompetitif.

Sebagai luaran, kegiatan pengabdian ini akan menghasilkan sejumlah output penting: artikel ilmiah pada jurnal SINTA 4, video dokumenter kegiatan yang diunggah melalui kanal YouTube UNNES, publikasi di media cetak dan daring lokal, serta hak cipta atas teknologi pembelahan biji dan SOP pembibitan.

Untuk menjamin keberlanjutan program, tim pengabdian akan melakukan pendampingan dan evaluasi secara berkala. Pendekatan hulu-hilir yang diusung dalam kegiatan ini tidak hanya menyasar peningkatan jumlah bibit alpukat unggul, tetapi juga membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan mandiri. Dengan dukungan multi-pihak, Ngesrepbalong diharapkan tumbuh menjadi model desa inovatif dalam pengembangan komoditas alpukat unggul di Indonesia.