Pagi itu tanggal 11 April 2010 pukul 08.00 WIB, usiaku masih 4 tahun saat Ibuk mengajakku pergi ke alun-alun kota untuk menyaksikan serangkaian acara dalam rangkai Memperingati Ulang Tahun Kota Magelang. Aku yang masih balita sangat antusias saat itu, anak kecil yang menyukai acara-acara ramai dan tentu saja banyak jajanan ataupun mainan. Saat itu, Ibuk tidak menjelaskan secara rinci rangkaian acaranya, Ibuk hanya bilang bahwa akan ada karnaval, saat kecil aku memang sangat suka menonton karnaval. Ketika mendapat ajakan itu, aku sangat semangat dan bersiap-siap sejak pagi. Aku tidak tau apa yang terjadi hari itu sampai aku hanya pergi dengan Ibuk, tanpa kakak-ku. Padahal kami selalu bersama-sama. Tapi, hari itu aku tidak terlalu peduli dengan hal itu.
Aku dan Ibuk berangkat menggunakan angkutan umum ke alun-alun kota. Hari itu jalanan sangat ramai, bahkan sempat macet saat mulai mendekati alun-alun. Jalanan yang macet dan ramainya manusia dari berbagai sisi, suasananya sangat sesak, polusi dimana-dimana. Sepanjang jalan tanganku selalu Ibuk genggam, takut aku hilang. Aku sempat kesal disana karena sangat ramai dan jalan pun susah. Aku sedikit menyesal karena terlalu bersemangat. Kami harus mencari tempat yang teduh namun cukup nyaman untuk duduk. Percayalah, mencari tempat duduk itu susah. Semuanya penuh dan kami harus berdiri. Itu semakin membuat wajahku tertekuk. Aku merasa konyol saat mengingat hari itu.
Upacara pembukaan masih berlangsung saat aku dan Ibuk menemukan tempat yang sedikit nyaman untuk kami melihat prosesi acara. Aku melihat berbagai tarian dan pertunjukan seni yang ditampilkan oleh perwakilan dari kampong dan desa yang ada di Magelang. Perasaan kesalku sudah pergi saat itu, aku sudah senang bisa melihat berbagai berbagai pertunjukan. Pertunjukan yang ditampilkan pun sangat beragam. Ada yang bagus, kreatif, unik, sampai biasa saja. Meskipun aku tidak sepenuhnya melihat pertunjukan itu karena ramainya penonton, namun aku merasa senang saat itu.
Saat pertunjukkan selesai, aku melihat mulai banyak gunungan-gunungan sayur dan gethuk yang masuk ke dalam area lapangan inti. Saat itu terjadi, aku belum mengerti untuk apa mereka disana. Sesaat setelahnya, aku mendengar seseorang berteriak “GREBEGGG GETHUKEE!!”. Aku tidak sampai aku melihat orang-orang disekitarku terutama orang dewasa berlari bersama-sama dan saling berebutan untuk mengambil apapun yang ada di gunungan-gunungan tadi. Aku sempat kaget saat itu. Badanku hampir jatuh jika tidak ada Ibuk yang memgang erat badanku. Aku berpikir, “Orang-orang ini sangat anarkis”. Aku tidak tau bahwa itu memang tradisi yang ada di Kota Magelang untuk memperingati Ulang Tahun.
Grebeg Gethuk pertama kali dilaksanakan pada tahun 2006, dan rutin dijalankan setiap tahunnya hingga sekarang. Tujuan dari adanya acara ini selain untuk merayakan ulang tahun Kota Magelang, acara ini juga dimasudkan agar budaya-budaya yang ada di Magelang tetap ada dan tidak hilang. Sementara alasan dipilihnya Gethuk karena Gethuk adalah makanan khas dari Kota Magelang. Bentuk gunungan dan tampilannya pun selalu berbeda setiap tahunnya, menyesuaikan tema yang ditentukan pemerintah. Setiap tahun pun jumlah pesertanya berubah-ubah. Kadang bertambah dan kadang berkurang. Peserta-peserta ini adalah perwakilan dari desa-desa, kelurahan, atau kelompok-kelompok tertentu.
Perayaan Grebeg Gethuk yang orang-orang lihat hanya sebagai pertunjukan seni biasa tidaklah sesederhana itu. Dibalik dari meriahnya Grebeg Gethuk, ada makna yang mendalam dibaliknya. Kesederhanaan, kebersamaan, dan kerakyatan Kota Magelang dilambangkan dengan adanya Perayaan ini. Persiapan yang tidak sebentar menjadikan Grebeg Gethuk sebagai perantara untuk masyarakat semakin kompak dan bergotong royong. Dalam acara ini, tidak ada hal-hal yang membedakan antar rakyatnya, semua masyarakat diperbolehkan untuk ikut andil dalam perayaan ini. Disamping itu semua, perayaan ini bisa menjadi ladang rezeki bagi orang-orang yang memiliki usaha untuk bisa mendapatkan pendapatan lebih daripada biasanya. Selain itu, dengan adanya acara ini maka Kota Magelang akan semakin dikenal dan bisa mejadikan itu sebagai promosi budaya.(*)
Oleh Martina Galih Saputri