Pangeran yang Dikutuk sebagai Buaya Putih

Dahulu kala, di dalam kemegahan Keraton Kasepuhan Cirebon, hiduplah seorang pangeran muda. Parasnya tampan dan tubuhnya gagah. Namun sayang, tutur katanya seringkali merendahkan dan pandangannya meremehkan orang lain. Ia yang tumbuh dalam limpahan kemewahan dan kekuasaan tak menyadari bahwa di luar tembok keraton, terbentang kehidupan rakyat jelata dengan segala suka dan dukanya.

Pada suatu siang yang terik, sang pangeran bersama para pengawalnya berkuda melintasi sebuah perkampungan di tepi sungai. Di sana, ia melihat seorang perempuan tua renta berdiri di tepi sungai yang arusnya lumayan deras. Wajahnya tampak cemas. Dia pasti kesulitan untuk menyeberangi sungai tersebut. Alih-alih iba dan menawarkan bantuan, bibir sang pangeran justru menyunggingkan senyum sinis.

“Lihatlah, para pengawal,” serunya dengan nada mengejek, “bahkan untuk menyeberangi sungai kecil ini saja ia tak mampu. Betapa lemah dan tak berdayanya kaum rendahan ini,” 

Tawa para pengawal pun pecah, berusaha menjilat sang pangeran yang merasa terhibur dengan penderitaan orang lain.

Perempuan tua itu menoleh, matanya yang keriput memancarkan kesedihan bercampur sedikit kejutan. 

“Ampun, Tuan Pangeran,” ucapnya lirih, “Hamba hanya seorang diri, dan arus sungai ini terasa begitu kuat bagi tubuh yang sudah renta ini.”

“Tentu saja kuat,” balas sang pangeran dengan nada tinggi, “Bahkan seekor siput pun mungkin akan terseret arusnya. Mengapa kau tidak meminta bantuan kepada anak cucumu yang kuat? Ah, tentu saja, kau terlalu lemah untuk memiliki keturunan yang berguna.”

Tanpa disadari oleh pangeran yang dibutakan kesombongan, perempuan tua itu bukanlah orang sembarangan. Ia adalah seorang wanita sakti yang dihormati oleh penduduk desa karena kebijaksanaan dan kemampuannya. Hatinya tercabik mendengar hinaan yang dilontarkan oleh sang pangeran. 

Dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi tajam, ia berkata, “Wahai Pangeran muda yang angkuh, kesombonganmu akan membawamu pada penyesalan yang abadi.”

Kemudian, dengan suara yang bergetar namun penuh kekuatan, perempuan tua itu melanjutkan, “Karena hatimu yang keras dan lidahmu yang tajam, kau akan merasakan dinginnya air sungai ini selamanya. Kau akan menjadi makhluk yang ditakuti, namun terasing dari duniamu. Mulai saat ini, wujudmu akan berubah menjadi seekor buaya putih!”

Seketika, tubuh gagah sang pangeran bergetar hebat. Kulitnya terasa panas dan gatal, lalu perlahan berubah menjadi sisik-sisik keras yang dingin. Tangannya memanjang dan menciut menjadi cakar-cakar tajam, dan mulutnya memanjang menjadi moncong buaya yang menakutkan. Para pengawal yang menyaksikan kejadian itu terpaku, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Apa… apa yang terjadi padaku?!” rintih sang pangeran dalam wujud setengah manusia setengah buaya, suaranya serak dan penuh ketakutan. “Ibu… Ibu, ampunilah aku! Aku mohon ampun!”

Namun, kutukan telah terucap. Perempuan tua itu menatap buaya putih yang meronta-ronta di tepi sungai dengan tatapan dingin namun juga menyimpan sedikit kepedihan. “Kau telah memilih jalanmu sendiri, Pangeran. Sekarang, terimalah akibat dari kesombonganmu,” ucapnya sebelum kemudian menghilang seolah ditelan kabut.

Sejak saat itu, konon katanya, buaya putih jelmaan sang pangeran menghuni salah satu sungai di Cirebon. Masyarakat setempat percaya bahwa buaya putih itu bukanlah buaya biasa, melainkan pengingat akan bahaya kesombongan dan pentingnya menghormati sesama. Mereka meyakini bahwa sungai itu dijaga oleh kekuatan gaib, dan setiap orang yang melintasinya harus menjaga ucapan dan tingkah lakunya. Kisah ini terus diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi pelajaran berharga bagi setiap anak Cirebon.(*)

Oleh Anis Mustapiyani