Sejarah Komariah Maruyana

Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berubah menjadi semburat jingga keemasan, nenekku akan duduk santai di beranda rumah. Di tangannya ada secangkir teh hangat, dan di wajahnya terlukis ketenangan. Suaranya lembut ketika mulai membuka kenangan masa lalu. Ia suka bercerita tentang masa-masa ketika Meruya masih tenang, belum dipenuhi deretan bangunan dan kendaraan seperti sekarang. Dari semua kisahnya, yang paling membekas dalam ingatanku adalah tentang asal-usul nama Meruya, sebuah kisah yang konon sudah diwariskan turun-menurun.

Menurut cerita nenek, nama Meruya tidak datang begitu saja. Ada kisah panjang dari seorang perempuan luar biasa yang menjadi cikal bakalnya. Namanya adalah Hajah Siti Ratu Kresna Komariamah Maruyana, sebuah nama yang panjang dan penuh wibawa. Namun masyarakat zaman dulu lebih akrab menyebutnya Kompi Balong. Ia adalah perempuan yang bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki kepribadian yang mengagumkan sopan, lemah lembut, dan sangat dermawan. Rumahnya yang sederhana selalu terbuka untuk siapa pun, tak pernah sepi dari tamu yang datang silih berganti.

Kompi Balong dikenal karena pelestariannya. Ia menyambut setiap orang yang datang dengan senyum tulus dan jamuan sederhana. Terkadang hanya singkong rebus atau air nira, tapi ketulusan hati membuat semua orang merasa dihormati. Ia tak pernah memilih-milih siapa yang boleh singgah di rumahnya. Semua diperlakukan dengan sama baik tetangga, musafir, hingga pedagang yang lewat. Oleh karena itu, kampung tempat tinggalnya dikenal sebagai kampung yang “murah, meriah, dan ramah”. Tiga kata itu, yang awalnya hanya sebuah ungkapan, lama-lama menyatu dalam percakapan sehari-hari. Dari situlah, kata “Meruya” lahir.

Nenek bilang, nama Meruya adalah cerminan dari nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi masyarakatnya. Ia bukan nama buatan pemerintah atau hasil rapat-rapat resmi, melainkan lahir dari sifat dan perilaku orang-orang di sana, terutama Kompi Balong. Nama itu tumbuh dari akar kehidupan, dari kasih sayang yang nyata, dan dari semangat gotong royong yang mengalir alami dalam kesekharian.

Waktu pun terus berjalan. Wilayah yang dulunya hanya dikenal sebagai Kelurahan Meruya Udik mulai berkembang seiring dengan pertumbuhan penduduk. Pada sekitar tahun 1980-an, wilayah ini mengalami pemekaran. Pemerintah memutuskan membagi wilayah menjadi dua kelurahan baru: Meruya Utara dan Meruya Selatan. Keduanya kemudian masuk ke Kecamatan Kembangan. Meskipun demikian, warga lama tetap lebih nyaman menggunakan nama-nama lama seperti Meruya Ilir dan Meruya Udik. Nama-nama itu masih hidup dalam percakapan sehari-hari, dan hingga kini tetap abadi sebagai nama jalan utama: Jalan Meruya Ilir Raya dan Jalan Meruya Udik.

Nenek juga sering bercerita tentang bagaimana Meruya dahulu hanyalah hamparan sawah yang luas. Pagi-pagi terdengar suara ayam berkokok dan burung-burung bernyanyi. Di malam hari, suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan menemani langit yang dipenuhi bintang. Udara masih segar, dan kehidupan berjalan lebih lambat namun terasa damai. Kata nenek, anak-anak dulu berlarian di pematang sawah, bermain lumpur tanpa khawatir akan kendaraan atau gedung tinggi.

Namun perubahan tak terhindarkan. Sawah-sawah yang dulunya menghijau satu demi satu berganti menjadi perumahan dan pusat kegiatan ekonomi. Muncullah kompleks perumahan seperti DPR, DPA, Depkeu, serta kampus, bengkel, pertokoan, dan tempat usaha lainnya. Jalanan diperlebar, kendaraan bermotor semakin ramai, dan suasana desa berganti menjadi suasana kota. Meski begitu, dibalik semua perubahan itu, masyarakat Meruya tetap berusaha mempertahankan nilai-nilai lama keramahan, keterbukaan, dan semangat saling membantu.

Kisah tentang Kompi Balong dan asal-usul nama Meruya terus hidup dalam ingatan para orang tua. Tidak ada yang menuliskannya dalam buku sejarah resmi, tapi cerita itu diwariskan melalui lisan diceritakan kembali di ruang-ruang tamu, di acara kumpul keluarga, atau saat malam takbiran. Nama Kompi Balong menjadi semacam legenda lokal, bukan hanya karena kepribadiannya, tapi juga karena ia adalah simbol dari masa ketika nilai-nilai kebaikan begitu nyata di tengah kehidupan masyarakat.

Bagi nenekku, Meruya bukan hanya tempat tinggal. Meruya adalah ruang kenangan, tempat di mana manusia hidup berdampingan dengan alam dan saling menyayangi tanpa pamrih. Nama Meruya adalah warisan dari seseorang yang hidup dengan hati, dan dari masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Ketika aku mendengarkan kisah itu, rasanya seperti menatap kembali masa lalu yang penuh warna, seolah-olah aroma sawah dan suara tawa anak-anak masih menggema di udara.

Itulah cerita nenekku. Tentang seorang perempuan penuh kebaikan, tentang kampung yang perlahan menjelma menjadi kota, dan tentang sebuah nama yang lahir dari cinta, kasih sayang, dan kebersamaan. Kisah ini menyadarkan bahwa setiap tempat punya sejarah, dan setiap nama membawa kisah yang layak dikenang. Meruya bukan sekedar nama di peta, namun adalah cerita hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.(*)

Oleh Athaya Irdina Zafreen