Randudongkal merupakan nama sebuah kecamatan di daerah Pemalang yang menyimpan banyak kisah menarik di balik namanya. Kecamatan ini berada di bagian selatan Kabupaten Pemalang dan memiliki udara yang relatif sejuk. Ia berjarak sekitar 30 Km dari pusat kota Pemalang dan menjadi salah satu kawasan yang cukup berkembang di wilayah tersebut. Sebagaimana lazimnya nama sebuah daerah atau tempat, tentu saja tak lepas dari cerita sejarah dan legenda yang hidup di tengah masyarakat, begitupun dengan Randudongkal.
Zaman dahulu, ketika Pemalang masih berupa hutan dan ladang luas, daerah selatan wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang hidup sederhana. Mereka bertani, beternak, dan menjalani hidup dengan rukun. Tapi, ada satu hal yang selalu bikin mereka resah yaitu pohon randu raksasa yang tumbuh di tengah kampung.
Pohon itu bukan pohon biasa. Besar sekali, batangnya mungkin bisa dilingkari oleh lima orang dewasa sekaligus. Akarnya mencuat ke mana-mana dan daunnya begitu lebat hingga membuat jalan setapak di bawahnya terasa gelap dan lembap. Warga percaya pohon itu angker, tempat bersemayam makhluk halus.
Pada suatu sore, saat matahari mulai terbenam, empat orang warga berkumpul di bale desa. Ada Pak Sastro, yang dituakan, Mas Gito si petani muda, Mbok Rini si penjual jamu, dan Pak Karim, tokoh masyarakat yang disegani.
”Pohon randu itu, kalau tidak ditebang, lama-lama bisa makan rumah orang,” keluh Mas Gito sambil mengipasi wajahnya dengan daun pisang.
Pak Sastro mengangguk pelan. “Benar. Tapi tak bisa sembarangan. Itu pohon bukan pohon biasa. Banyak yang lewat situ merasa merinding, bahkan ada yang sakit mendadak.
”Mbok Rini menimpali, “Waktu itu si Mbah Karyo lewat situ malam-malam, katanya dengar suara perempuan menangis dari atas pohon. Padahal nggak ada siapa-siapa.”
Pak Karim yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang tapi dalam, seperti sedang membaca kitab tua. “Kalau kalian setuju, tiga hari lagi kita lakukan penebangan. Tapi sebelumnya, kita harus menaruh sesaji. Jangan asal tebang. Kita harus sopan sama penunggunya.”
Semua setuju. Selama tiga hari berturut-turut, warga menaruh sesaji di bawah pohon randu berupa bunga tujuh rupa, bubur merah putih, dan kelapa muda. Tak ada yang berani berbicara saat melintas di bawahnya. Anak-anak dilarang bermain dekat situ. Malam menjelang, suasana kampung terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tibalah hari penebangan. Pagi-pagi, warga sudah berkumpul. Awan cerah, tapi entah kenapa angin mulai berhembus lebih kencang dari biasanya. Pak Karim berdiri di depan pohon, menatapnya dalam-dalam. Di belakangnya, para lelaki membawa kapak dan gergaji.
Baru saja kapak pertama diayunkan, tiba-tiba angin berputar hebat. Daun-daun beterbangan, debu menari di udara, dan langit mendadak menghitam. “Pak Karim! Lihat! Awan gelap datang dari arah barat!” teriak Mas Gito. Belum sempat Pak Karim menjawab, pohon randu mulai bergetar hebat. Akar-akarnya mencuat, tanah retak, dan dengan suara keras BRAAAK!, pohon itu tercabut dan terlempar beberapa meter dari tempat semula. Semua terdiam. Lalu perlahan, satu suara terdengar, “Randune dongkal!” Disusul yang lain, “Randune dongkal! Randune dongkal!”
Teriakan itu makin nyaring, makin ramai, seperti lagu kemenangan. Artinya? Pohon randunya roboh! Dan dari bekas tercerabutnya pohon tersebut, muncul genangan air jernih. Lama kelamaan, air itu tidak surut, malah menjadi kolam yang dalam. Warga kemudian menamainya Sumur Bayur. “Aku nggak nyangka, tempat angker itu sekarang jadi sumber air,” kata Mbok Rini sambil menimba air dari sumur. “Bisa buat mandi, bisa buat nyuci, bahkan buat siram sawah,” tambah Mas Gito, senang bukan main. Pak Karim tersenyum. “Lihatlah, kadang sesuatu yang awalnya dianggap mengganggu, justru membawa berkah.”
Sejak saat itu, kawasan tempat pohon randu roboh itu dikenal dengan nama Randudongkal. Nama yang awalnya hanya seruan spontan, kini jadi identitas daerah. Masyarakat hidup lebih nyaman, dan Sumur Bayur menjadi simbol keberanian dan persatuan warga dalam menghadapi tantangan, meski dari hal yang sesederhana pohon randu.(*)
Oleh Faiq Rifaddien Falakhi