Cerita di Balik Gagahnya Gunung Tidar

Gunung Tidar merupakan salah satu situs budaya yang berada di Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Gunung Tidar bukanlah seperti gunung pada umumnya, kadang Gunung Tidar lebih pantas dikatakan Bukit Tidar atau Lembah Tidar. Dengan ketinggian kurang dari 1000 meter, gunung ini sangat layak didaki baik bagi orang dewasa termasuk orang yang sudah berumur.

Menurut beberapa sumber, kata “Tidar” memiliki banyak makna, salah satu yang paling dikenal masyarakat yaitu, “Tidar” berasal dari kata “Mukti” yang berarti berhasil dan “Kedadar” yang berarti ditempa, dan menghasilkan makna berhasil ditempa/diuji.

Gunung Tidar memiliki luas 701.674 meter persegi (m2) atau sekitar 70,1 hektar (ha). Akademi Militer TNI Angkatan Darat menjadi salah satu kawasan yang terletak di kaki gunung Gunung Tidar. Akademi Militer TNI AD menempati lahan seluas 654,44 hektar untuk dijadikan kompleks kemiliteran. Menurut salah satu sumber, sejak 31 Oktober 1945 kawasan Lembah Tidar dijadikan pusat pendidikan militer untuk menggembleng calon perwira TNI. Oleh karena itu, Gunung Tidar tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan militer karena banyaknya kegiatan Akademi Militer (Akmil) yang dilakukan di gunung tersebut. Maka mungkin suatu kebetulan bahwa asal nama “Tidar” pada Gunung Tidar menggambarkan proses pendidikan yang ditempuh para siswa AKMIL TNI AD.

Sejak dinyatakan sebagai kawasan Kebun Raya pada 12 Januari 2021, Gunung Tidar dikembangkan dengan vegetasi utama pohon pinus, diselingi pohon – pohon langka, dan tanaman perdu, sehingga tampak alami, rindang, dan sejuk. Gunung Tidar dapat dikatakan jantungnya Kota Magelang karena menyalurkan sumber udara bersih yang dapat menangkal polusi. Sementara itu, fauna yang menghuni Gunung Tidar yang paling terkenal yaitu monyet ekor panjang.

Suasana yang sejuk membuat Gunung Tidar seringkali menjadi pilihan masyarakat untuk berolahraga, atau hanya sekadar mendaki di pagi hari untuk mendapat udara segar. Hal ini didukung dengan fasilitas Gunung Tidar yang dapat mempermudah pengunjung, yaitu anak tangga permanen yang dilengkapi besi pembatas yang dibangun secara bertahap mulai 2014 sampai 2017, dilakukan sebagai peringatan Hari Olahraga Nasional 2017. Dikatakan pada salah satu informasi di internet, bahwa jumlah anak tangga pada Gunung Tidar sebanyak 1.002 anak tangga.

Kemudahan akses yang disediakan, seperti anak tangga menjadikan Gunung Tidar seringkali ramai dipadati pengunjung khususnya pada weekend atau saat diadakan event – event tertentu. Pada hari Sabtu atau Minggu biasanya Gunung Tidar didatangi pengunjung untuk berolahraga, seperti jogging. Hanya dengan tiket seharga Rp. 3.000 pengunjung dapat menikmati segarnya suasana Gunung Tidar. Selain itu, acara seperti Grebeg Suro, Selamatan Gunung, Pagelaran Seni Budaya, Ziarah Makam, Latihan Taruna AKMIL, dan acara lainnya juga turut meramaikan kawasan Gunung Tidar. Dibukanya Gunung Tidar sebagai wisata religi inilah yang membuat banyak dari penduduk sekitar bermata pencarian pedagang. Kita dapat melihat pedagang ini menjajakan dagangannya di pintu masuk Gunung Tidar, perjalanan menuju puncak Gunung Tidar, dan ada pula yang menjajakan dagangannya di Puncak Gunung Tidar. Sebagian besar dari mereka menjual makanan dan minuman ringan, cenderamata, oleh- oleh khas Magelang, pakaian adat Jawa, seperti blangkon, bahkan ada pula yang menyediakan jasa sewa toilet.

Selain menjadi wisata alam dan area pendidikan militer, Gunung Tidar juga menyediakan wisata religi. Ada beberapa makam atau petilasan tokoh spiritualis Jawa yang cukup terkenal.

“Makamnya cuma ada 2. Makam Syekh Subakir dan Kyai Sepanjang. Kalau yang atas yang Mbah Semar itu bukan makam tapi kayak tempat doa saja,” kata Kak Neno selaku narasumber dari salah satu media sosial. 

Sebagian besar pengunjung dari luar Kota Magelang mengunjungi Gunung Tidar dengan niat berziarah ke makam yang ada disitu. Terutama saat memperingati malam suro, suatu daerah di sekitar Gunung Tidar, Trunan, Tidar Selatan, biasanya mengadakan kegiatan tradisi masyarakat Jawa untuk mendoakan dan memperingati leluhur yang sudah meninggal atau biasa disebut sadranan.

Menurut salah satu narasumber yang bertempat tinggal di Tegalsari, sekitar Gunung Tidar, bernama Andini, mengatakan bahwa ada pula cerita tentang perjuangan perebutan kekuasaan antara Syekh Subakir dan Eyang Semar. Menurut cerita yang ia dengar, Syekh Subakir saat itu akan menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan mengalahkan perang yang melawan Eyang Semar yang digambarkan sebagai raja jin yang menguasai tanah Jawa. Perang tersebut menggunakan senjata tombak yang dinamakan Kyai Sepanjang. Perang tersebut berlangsung selama 40 hari dengan hasil tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah pula, akhirnya perang tersebut menghasilkan perjanjian “Islam boleh masuk ke tanah Jawa dengan syarat orang Jawa tidak lupa dengan Jawanya” (“Wong Jawa ora lali karo Jawane”). Sekarang di Gunung Tidar terdapat gundukan tanah yang berisi tombak Kyai Sepanjang yang biasanya peziarah akan mendoakan tombak tersebut.

Tak hanya tokoh spiritualis Jawa yang dimakamkan di Gunung Tidar, ada makam Cina seorang yang dulunya adalah bos pemilik pabrik cerutu merek Panama – Ster. Pada tahun kejayaannya, diketahui bahwa pabrik cerutu ini mengekspor hasil produksinya sampai ke Eropa. Dia adalah Ko Ko Kwat le, dia pendiri pabrik cerutu “Ko Kwat le & Zonen Sigarenfabriek”. Masyarakat menyebut makam Ko Kwat le sebagai makam Bong Pitu karena ukurannya paling besar. Konon menurut media informasi online, dahulu sebagian besar kawasan Gunung Tidar adalah makam Jawa dan Cina dan umumnya yang dimakamkan disitu adalah tokoh yang berpengaruh yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat dan juga orang yang termasuk “mampu”.

Banyak cerita yang tersebar dari mulut ke mulut atau telinga ke telinga, salah satunya yaitu cerita mengenai bangunan tugu yang berada di puncak Gunung Tidar. Terdapat 3 (tiga) bangunan tugu yang masing – masing memiliki cerita tersendiri. Tugu yang paling terkenal yaitu Tugu “Sa” yang menjulang sekitar 2 (dua) meter. Tugu “Sa” ini dikelilingi dengan pagar dan dilengkapi tempat untuk berdoa dan meletakkan sesajen. Disebut Tugu “Sa” karena ada simbol aksara Jawa “Sa” pada 3 (tiga) sisinya. Banyak mitos yang tersebar di kalangan umum tentang Tugu “Sa” ini, salah satunya yaitu maksud dar “Sa” di setiap sisi. Menurut salah satu narasumber, Kak Neno, tugu ini bermakna “Sopo Salah Seleh” yang artinya “Siapa yang salah, maka akan kalah”. Konon, Tugu “Sa” menyimpan mitos bahwa tugu ini merupakan “Pakunya Tanah Jawa” yang mana tugu “Sa” menjaga keseimbangan pulau Jawa. Banyak yang mengatakan bahwa jika tugu tersebut tercabut maka pulau Jawa akan tenggelam. 

Dari kedua narasumber, didapat informasi yang berbeda, bahwa di puncak Gunung Tidar terdapat 3 tugu yang berbeda. Menurut Kak Neno, tugu “Sa” adalah tugu yang memiliki hubungan dengan adanya AKMIL. Menurutnya, tugu “Sa” ini dibangun oleh alumni AKMIL pada sekitar tahun 1980-an. Namun, menurut Andini, tugu yang berkaitan dengan AKMIL adalah tugu yang lebih besar dan menjulang lebih tinggi dari tugu “Sa”. Tugu tersebut dikatakan sebagai tanda memperingati pentingnya lokasi tersebut sebagai bagian dari sejarah berdirinya AKMIL. 

Selain kedua tugu tersebut, terdapat satu tugu yang dibangun beberapa tahun terakhir. Tugu ini terletak bukan di tengah puncak Gunung Tidar melainkan di pojok sudut puncak Gunung Tidar. Menurut berita pada salah satu media, tugu ini dibangun atas permintaan klien yang tidak disebutkan namanya kepada salah satu pengrajin kerajinan tembaga asal Boyolali. Tugu ini memiliki 4 kaki dengan obor yang mengambang. Material yang digunakan pada tugu tersebut adalah tembaga dengan ketebalan 0,8 mm, dengan rangka besi holo di dalamnya serta finishing hitam kombinasi mengkilap tembaga.(*)

Oleh Layuna Zulfaaisya