Pada saat aku berumur 8 tahun, waktu itu aku masih duduk di bangku sd. Keluargaku terdiri dari empat orang yaitu Abi, Umi, Kakak dan Aku. Di kala itu ada liburan panjang . Aku dan keluargaku memutuskan untuk menghabiskan waktu berlibur ke Jakarta. Kami ke Jakarta dengan menaiki mobil Yaris, abi dan umiku duduk di tempat duduk depan sedangkan aku dan kakakku duduk di belakang.
Sehabis berlibur kami melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah, yang tidak lain adalah Kudus. Kami melewati beberapa kota untuk bisa sampai ke kota Kudus. Kami melakukan perjalanan dimulai pada siang hari, aku menghabiskan waktuku di dalam mobil dengan keadaan yang sangat bosan.
Tidak lama kemudian aku tertidur, aku bangun ternyata kita sudah sampai di kota Batang. Di situ aku menyadari bahwa mobil yang aku kendarai sedang berhenti di pom bensin. Aku melihat ke arah tempat duduk depan ternyata aku tidak melihat kedua orang tuaku. Aku berpikir mungkin mereka ke toilet, dan ternyata aku juga ingin buang air kecil.
Saat itu waktu menujukkan tengah malam di mana di kota tersebut sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas. Kemudian aku izin kepada kakakku. “Kak, aku mau ke toilet dulu ya,” kataku dengan mata yang masih mengantuk, lalu kakakku menjawab, “Ya, Ci,” dengan setengah sadar juga menjawabnya.
Dengan kondisi mata yang masih mengantuk tadi aku turun dari mobil untuk menuju toilet menyusul kedua orang tuaku, aku turun melalui pintu belakang. Aku berjalan menuju toilet, lalu aku menemukan tulisan tolet dilengkapi dengan kata “Maaf toilet ini rusak”.
Di situ aku langsung ingin kembali menuju mobil. Saat aku melihat ke arah belakang dan aku seketika terkejut melihat mobilku sudah melaju dengan perlahan. Aku berusaha untuk mengejar mobilku sambal menangis tersedu-sedu, namun naasnya aku tertinggal jauh dan mobilku sudah melaju dengan sangat kencang sehingga aku tidak bisa mengejarnya.
Saat aku mulai menyerah dengan kejadian tersebut, aku terkejut karena aku diberhentikan oleh seseorang lelaki yang tidak aku kenal. Namun, ternyata ia berasal dari bus yang terparkir di sebelah pom bensin. Ia memberiku teh gelas karena ia melihatku menangis dengan tersedu-sedu.
“Adik kenapa? tanyanya kepadaku yang berjalan sambal menangis.
Lalu aku menjawab “Ditinggal orang tua saya, Pak” dengan nada terisak-isak sambil menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi.
Setelah itu aku melihat wajah lelaki tersebut kebingungan dan sepertinya ia bertanya-tanya “Kenapa bisa terjadi?”
Aku dibawa ke sebuah tempat disebelah pom bensin tersebut yang ternyata itu adalah puskesmas. Di puskesmas tersebut ada seorang satpam yang sedang berjaga. Lelaki tersebut kemudian meminta tolong satpam tersebut untuk membantunya mencari solusi untuk aku bisa bertemu kedua orang tuaku.
Aku ditanya-tanyai oleh satpam tersebut bagaimana kejadiannya. “Bagaimana ceritanya, Dik? Apa yang terjadi?” tanya satpam tersebut kepadaku.
Aku menjelaskan sambil menangis tersedu-sedu mengingat diriku yang masih kecil ini berhadapan orang yang tidak dikenal. Kemudian satpam tersebut kembali bertanya “Berapa nomor telepon orang tua yang kamu tahu, Dik?” ujarnya, lalu aku sempat kebingunan karena sebelumnya aku belum pernah diberi tahu nomor telepon orang tuaku.
Aku berpikir dan terus mengingat nomor telepon kedua orang tuaku, kemudian aku sedikit teringat nomornya dan aku segera bicara kepada satpam yang menanyaiku tadi.
“Nomornya 081*********, Pak,” kataku yang sedikit yakin bahwa itu nomor orang tuaku, namun setelah dicoba untuk dihubungi ternyata salah sambung.
Seketika aku pun terdiam sambil memikirkan apa yang sedang terjadi denganku saat itu.
Lalu satpam tersebut berinisiatif untuk melaporkan kejadian tersebut pada polisi terdekat dan segera menghubungi polisi tersebut. Kami menunggu polisi tersebut datang ke puskesmas, kami menunggu sekitar 30 menit. Dan setelah 30 menit berlangsung polisi tersebut datang ke puskesmas, mereka datang berdua dan langsung menghampiri kami. Polisi tersebut langsung menanyai apa yang terjadi. Lalu aku diajak ke kantor polisi terdekat untuk dimintai keterangan dan dicarikan solusi saat sudah sampai di kantor polisi.
Aku digandeng kedua polisi tersebut dengan posisi aku ditengah mereka disebalah kanan dan kiriku. Saat menuju mobil polisi yang terparkir diluar gedung puskesmas samar aku melihat orang berlari menuju arah kita dan ternyata yang aku lihat tersebut adalah umiku.Aku langsung memeluk umiku karena aku sudah sangat takut pada saat itu. Dan tidak lama datang dua orang dengan mengendarai motor lalu mereka berhenti tepat di depanku dan pak polisi. Lalu aku menyadari bahwa itu adalah abiku dan seseorang yang asing dimataku. Disusul dengan kakakku yang setengah sadar menghampiri kami. Lalu kami berpelukan berempat dan segera kedua orang tuaku berterima kasih kepadaku orang-orang yang sudah menolong dan menjagaku pada dini hari itu.
Lalu kami segera melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Kudus dan aku duduk didepan bersama umiku, tidak lama kemudian aku tertidur pulas. Dan akhirnya kami sampai di Kudus dengan selamat.(*)
Oleh Rossi Regida Ramadhani