Sendang Kanoman di Desa Pancur, Kecamatan Mayong, Jepara, adalah sebuah mata air yang sangat terkenal karena dipercaya memiliki khasiat awet muda. Konon, air sendang ini tidak pernah surut meskipun musim kemarau panjang melanda desa tersebut. Setiap tahun, terutama pada malam 1 Sura, ribuan orang dari berbagai daerah datang berbondong-bondong untuk mandi dan membasuh muka di sendang ini demi mendapatkan berkah.
Menurut sejarah, Sendang Kanoman erat kaitannya dengan Empu Supo Anom atau Raden Djoko Supo, seorang tokoh sakti yang mengabdi di Kerajaan Demak. Empu Supo mendapat tugas mencari Sendang Pengasihan dan menemukan Sendang Pancuran yang kini dikenal sebagai Sendang Kanoman. Di tempat ini, Empu Supo melakukan ritual suci, bersuci, dan bersujud sehingga sendang tersebut dianggap sakral dan penuh kekuatan magis. “begini lho ceritanya, Nak,” terjalin erat dengan sejarah desa dan kehadiran sosok yang sangat dihormati yaitu orang tua zaman dahulu
“Dulu kala,” begitu biasanya cerita dimulai, “nama Pancur itu sendiri berasal dari sendang ini, Sendang Pancuran namanya.” Konon, kedatangan Empu Supo, seorang murid kinasih Sunan Kalijaga, membawa berkah tersendiri bagi sendang ini. “Empu Supo itu lho, yang ilmunya tinggi,” lanjut sang tetua, “sering menggunakan air sendang ini untuk wudhu sebelum menempa keris-keris pusaka yang sakti mandraguna.” Masyarakat percaya bahwa kesucian air sendang turut menyerap energi spiritual dari sang Empu. “Tidak hanya itu saja,” sambung cerita yang lain, “pada zaman dahulu, waktu kerajaan Demak masih jaya-jayanya, Sendang Pancuran ini menjadi tempat penting.” Para prajurit yang gagah berani, setelah menempuh perjalanan jauh, akan singgah di sendang ini untuk beristirahat dan meminum airnya yang segar. “Mereka bilang, air sendang ini bisa mengembalikan semangat dan tenaga yang hilang,” ujar seorang ibu sambil tersenyum. “Yang paling menarik,” timpal seorang bapak dengan nada misterius, “banyak yang percaya kalau air Sendang Kanoman ini punya khasiat yang luar biasa.” Ada yang bilang bisa membuat awet muda, ada juga yang percaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. “Makanya, dulu banyak orang dari jauh datang ke sini hanya untuk mengambil air sendang ini,” tambahnya.
Sendang Kanoman juga pernah menjadi tempat istirahat tentara Demak dan lokasi penempaan senjata di daerah yang disebut Lemah Duwur. Untuk melindungi warga dan tentara dari serangan musuh, Empu Supo memasang azimat atau orang tua hebat yang zaman dahulu di jalan menuju sendang, yang dikenal dengan nama Kali Wuluh dan Kali Panean sebagai penangkal musuh. Dari sinilah asal nama Desa Pancur yang berasal dari kata “Pancuran” yang berarti tempat keluarnya air.
Menurut orang tua zaman dahulu yang masih hidup salah satu nya nenek saya, masyarakat Desa Pancur meyakini bahwa air di Sendang Kanoman adalah air abadi yang tidak pernah kering. Kepercayaan ini membuat sendang selalu ramai dikunjungi, terutama saat malam 1 Muharram, saat ribuan orang rela berdesak-desakan demi mandi dan membasuh muka dengan air sendang. Mereka percaya air tersebut membawa keberkahan, melancarkan rezeki, dan membuat wajah tampak awet muda.
Menurut oarang tua di sana Desa Pancur sendiri dulunya dikenal sebagai desa yang kramat dan penuh misteri karena banyak orang yang meninggal secara misterius. Namun, setelah kedatangan tokoh spiritual seperti Syekh Subakir dan Mbah Ronggo Jiwo, desa ini menjadi lebih aman dan berkembang pesat. Makam para tokoh tersebut kini menjadi tempat ziarah dan bagian penting dari sejarah desa.
Keberadaan azimat atau orang tua hebat yang zaman dahulu di sekitar sendang menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu menjaga tempat ini dengan penuh kesakralan. Azimat atau orang tua hebat yang zaman dahulu tersebut dipercaya mampu meluluhkan dan menangkal musuh yang hendak mengganggu keamanan desa dan sendang. Hal ini menambah aura mistis dan keistimewaan Sendang Kanoman di mata warga dan pengunjung.
Sendang Kanoman bukan hanya sekadar sumber air biasa, tetapi juga simbol spiritual dan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan leluhur dan kekuatan alam. Tradisi mandi di sendang ini menjadi cara masyarakat menjaga warisan leluhur sekaligus mencari keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Ritual ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Pancur.
Selain itu, Sendang Kanoman juga menjadi daya tarik wisata religi di Jepara. Banyak pengunjung dari luar daerah yang datang tidak hanya untuk mandi, tetapi juga untuk mengenal sejarah dan budaya setempat. Keunikan dan keistimewaan sendang ini menjadikannya ikon penting bagi Desa Pancur dan sekitarnya.
Dengan segala keunikan dan mitos yang melekat, Sendang Kanoman tetap menjadi tempat yang dihormati dan dikunjungi banyak orang. Kisah Empu Supo dan keberadaan azimat menambah nilai sejarah dan spiritual yang kuat bagi warga Pancur. Sendang ini menjadi bukti bagaimana tradisi dan kepercayaan lokal terus hidup dan diwariskan hingga kini.(*)
Oleh Farah Hana Azzahra