Pelantang Suara: Teman Musik yang Bisa Jadi Musuh Telinga

Sekarang hampir semua orang pakai pelantang suara, terutama anak muda. Mau di jalan, di kampus, bahkan waktu lagi santai di kamar benda kecil ini selalu menempel di telinga. Mendengar musik udah menjadi kebiasaan yang bikin terasa lebih hidup ketika kita sedang melakukan sesuatu. Namun di balik serunya mendengar lagu kesukaan menggunakan earphone atau pelantang suara, banyak yang tidak sadar kalau pemakaian pelantang suara terlalu sering justru bisa pelan-pelan merusak pendengaran kita. Apalagi kalai volumenya tinggi dan dipakai dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat, hal tersebut dapat menyebabkan telinga tidak sepeka dulu

Terkadang kita tidak sadar bahwa mendengar musik kenceng lewar pelantang suara itu bikin telinga capek banget. Awal nya akan biasa saja, tapi kalau terus-terusan, pendengaran bisa pelan-pelan menurun tanpa terasa. Sangat berbahaya jika jadi susah mendengar Cuma gara-gara kebiasaan kecil seperti ini. Selain itu penggunaan pelantang suara juga bisa membuat kita lupa sekitar, seperti lagi kumpul sama teman atau orang lain, tapi malah sibuk di dunia sendiri. Lama-lama, kebiasaan ini bisa bikin hubungan sosial renggang karena kita terlalu nyaman tenggelam dalam musik daripada ngobrol langsung

Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari satu miliar remaja di dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran karena penggunaan pelantang suara yanh tidak aman. Di indonesia, data dari kementrian kesehatan menunjukkan sekitar 25 perse mendengarkan musik di atas 85 desibel yang dimana itu sudah melampaui batas aman bagi telinga

Peneltian dari Nurul Syakila (2018) di Universitas Syiah kuala juga menemukan bahwa sekitar 17 persen mahasiswa mengalami gangguan pendengaran akibar kebiasaan memakai pelantang suara lebih dari 3 jam per hari dengan volume tinggi. Sementara itu, riset oleh Marron (2014) menyebut pengguna yang mendengarkan musik lewat pelantang suara lebih dari 8 jam per minggu cenderung memiliki kualitas pendengaran yang buruk.

Cara mencegah risiko dalam penggunaan pelantang suara yang berlebihan itu tidak susah, cukup mulai saja dengan hal kecil, seperti menurunkan volume dan ngasih waktu istirahat buat telinga setelah mendengar musik lama. Para ahli pun sudah menyarankan yang dikenal 60/60 yaitu mendengarkan musik dengan volume maksimal 60 persen selama tidak lebih dari 60 menit. Serta pilih jenis pelantang suara yang menutupi telinga daripada yang lansung masuk kedalam, karena lebih aman buat gendang telinga

Pelantang suara memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun ada kalanya kita perlu sadar dan lepas lalu dengerin suara di sekitar, atau sekadar ngobrol sama orang di dekat kita. Telinga juga butuh istirahat bukan terus- terusan disuguhi oleh suara. Kita harus bijak dalam penggunaan teknologi dan harus tahu kapan harus berhenti sebelum kebiaasaan kecil berubah menjadi masalah besar

Oleh Abhipraya Sheva Padantya