Waktunya Meliar pada Konser MCPR

Oleh Ahmad Alim Mabruri

Hai, perkenalkan, namaku Ahmad Alim Mabruri, namun orang-orang terdekatmu biasa memanggilku Elbi. Aku seorang remaja laki-laki dari daerah yang sering diberi label negatif di Jateng. Yup, aku berasal dari Pati. Aku memiliki ketertarikan di bidang musik, namun aku tidak bisa memainkan instrumen musik. Maka dari itu, aku menyalurkan kegemaranku pada musik melalui nonton konser. 

Pada bulan Oktober terdapat event musik yang diselenggarakan oleh salah satu merek rokok di Kabupaten Pati. Event ini diadakan di lapangan yonif 410/Alugoro Pati. Event ini mengundang dua bintang tamu yang merupakan band punk rock dari kota Solo dan Yogyakarta, yaitu MCPR dan Rebellion Rose. Ketika mengetahuinya, aku langsung berencana menghadiri acara ini. 

Sebenarnya aku sudah pernah menonton kedua bintang tamu di acara itu, namun karena tiket masuk ke event ini tergolong murah, aku tetap berangkat untuk menonton kedua band. Aku berangkat bersama kakak sepupu, yaitu Kak Taka, dan dua temanku, yaitu Bowo serta Anam. Aku berangkat dari rumah sekitar jam 18.15 wib, tepat setelah maghrib. Aku berangkat dari rumah menuju Pom Stadion Joyokusumo bersama Kak Tada dan Anam untuk menjemput Bowo terlebih dahulu. Karena kami menilai Bowo dan Anam yang masing-masing membawa motor tidak akan efektif ketika parkir di tempat acara, kami memutuskan meninggalkan motor Anam di Alfamart Pom. Anak pun kemudian berboncengan dengan Bowo menuju tempat acara. 

Baru selesai memarkirkan motor, kami dikejutkan dengan teriakan dari seberang jalan. Terlihat beberapa orang marah-marah sambil berusaha menghentikan sebuah mobil berwarna putih. Terlihat beberapa orang juga melempari mobil tersebut dengan botol air. Karena suasana memang sudah ramai, mobil tersebut sulit bermanuver sehingga dapat terkejar dengan mudah. Ternyata di dalam mobil tersebut ada calo tiket yang menipu beberapa orang sebelumnya. Setelah itu, terlihat beberapa pihak keamanan dari acara berusaha mengamankan mereka.

Setelah itu, kami pun masuk ke area pembelian tiket. Ternyata di sana suasana sudah amat ramai. Karena tiket tidak tersedia online, aku harus membeli tiket offline terlebih dahulu di tempat acara tersebut. Pihak penyelenggara menyediakan 3 loket tiket untuk para penonton. Kami langsung mengantre di loket tiket pertama. Di loket ini suasana sangat tidak teratur, antrean sangat semrawut dan begitu banyak yang berdesak-desakan. Belum sampai di depan loket, ternyata tiket sudah habis. Seketika kami lari ke loket kedua dimana disana pun ternyata telah ramai orang yang hendak menonton.

Di loket kedua ternyata kami juga kehabisan tiket. Kami langsung pindah ke loket ketiga, di mana kali ini anak berhasil menerobos antrean dan mendapatkan tiket. Ternyata, ketika membeli tiket, kami juga mendapat produk rokok yang menyelenggarakan event ini. Singkat cerita, kami segera memakai tiket yang berupa gelang kertas di tangan masing-masing. 

Ketika akan masuk, kami dicek oleh pihak keamanan terlebih dahulu. Anam yang menyembunyikan vape di celana akhirnya harus merelakan hapenya disita oleh pihak keamanan. Setelah berbagai rintangan, akhirnya kami berhasil masuk ke area konser. Di MCPR sudah memainkan tiga lagunya. Sebenarnya aku cukup kecewa, namun aku berusaha mengikhlaskan karena sebelumnya pun aku sudah pernah menonton MCPR. 

Aku masih kebagian beberapa lagu favoritku seperti “Rindu Liar”, “Cinta Adalah Perang”, hingga “Rayakan Pertemanan”. Tepat di lagu “Rindu Liar”, kerumunan orang di bagian tengah lapangan membentuk lingkaran moshpit. Begitu vokalis MCPR mulai menyanyikan liriknya, kerumunan penonton tersebut langsung tumpah ruah saling senggol-menyenggol di arena moshpit. 

Tidak lama kemudian, MCPR menyanyikan lagu terakhirnya, yaitu Rayakan pertemanan. Di bagian ini semua bernyanyi dan berangkulan bersama. Sesuai sekali dengan makna lagu ini yang menggambarkan sebuah pertemanan yang begitu bersih, tanpa ada motif tertentu, hanya sebuah pertemanan yang tidak membedakan satu dengan yang lain. Suasana begitu akrab, begitu banyak orang dari berbagai latar belakang berangkulan mengesampingkan perbedaan tiap individunya. 

Setelah MCPR menyanyikan lagu “Rayakan Pertemanan”, tibalah waktu jeda antara performer. Jeda ini kami manfaatkan untuk membeli minuman, karena memang kami habis-habisan bernyanyi pada malam itu. Ketika sedang membeli minuman, tak disangka aku bertemu dengan nisanku yang juga ikut menonton di malam itu. Kami mengobrol sebentar sebelum kembali merapat ke tengah lapangan untuk menyaksikan Rebellion Rose. 

Rebellion Rose membuka malam itu dengan lagu berjudul “Bermalam bintang”, lagu yang memang langsung memanaskan suasana pada malam itu. Sebagai informasi, lagu ini memang sering digunakan untuk backsound mospith di tiap konser Rebellion. Rebellion kemudian menyanyikan lagu Peluru Cinta yang merupakan lagu kolaborasi dengan Jerinx Superman Is Dead. Meski Jerinx tidak dapat hadir pada malam itu, suasana tetap menyenangkan. 

Setelah beberapa lagu dibawakan, tibalah di lagu terakhir, yaitu Aku, Kamu, dan Samudra. Lagu yang paling populer sekaligus menjadi anthem dari para pendengar rebellion. Di lagu ini langit seketika merah. Tak terhitung jumlah penonton yang menyalakan flare di malam itu. Semua kembali berangkulan bersama menyanyikannya. Aku sempat naik ke pundak Anam dan bernyanyi dengan lantang sambil menikmati suasana tersebut. 

Selesai penampilan Rebellion, sekaligus menjadi penutup pada konser malam itu. Kami kemudian berfoto bersama terlebih dahulu sebagai kenang-kenangan pada malam itu. Selesai foto, kami memilih menunggu di area konser sebentar agar tidak terjebak macet di jalan menuju parkiran. Kurang lebih 15 menit kami menunggu. Kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah karena melihat situasi yang mulai tidak terlalu padat. (*)