Oleh Rizki Febrian
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti Desa Wisata Serang, Purbalingga. Udara dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan semangatku untuk berdiri di barisan terdepan, menantikan dimulainya Festival Gunung Slamet. Aku merasa beruntung bisa hadir di sini, di mana tradisi dan alam menyatu dalam harmoni yang magis. Bau kemenyan dan wangi bunga mawar mulai tercium, menandakan ritual agung akan segera dimulai di tanah para leluhur ini.
Mataku tertuju pada iring-iringan warga yang membawa gunungan hasil bumi yang menjulang tinggi. Sayur-mayur segar hasil panen lereng Slamet ditata begitu rapi. Sebagai penonton yang datang dari jauh, aku merasa terhanyut dalam rasa syukur yang mereka pancarkan. Mereka tidak hanya membawa makanan, tetapi juga membawa doa-doa untuk keselamatan dan keberkahan tanah ini.
Prosesi pengambilan Air Suci Sikopyah menjadi momen yang sakral. Aku mengikuti langkah para tetua adat yang berjalan dengan tenang menuju sumber mata air, sebuah perjalanan spiritual yang sangat sunyi namun sarat makna. Ada getaran aneh yang kurasakan saat melihat air bening itu dimasukkan ke dalam bambu-bambu kecil. Bagiku, ini bukan sekadar air, melainkan simbol kehidupan yang harus dijaga kesuciannya hingga generasi mendatang.
Acara Grebeg Gunungan menjadi puncak yang paling ditunggu-tunggu. Aku ikut berdesakan di tengah kerumunan warga yang bersiap memperebutkan hasil bumi dari gunungan yang telah didoakan. Meskipun suasana sangat ramai dan penuh tawa, tidak ada kekacauan yang terjadi, melainkan rasa sukacita yang meluap-luap.
Di sudut lain, aku mencium aroma gurih mendoan yang semerbak di udara, seketika membangkitkan seleraku yang sempat hilang karena suhu dingin. Aku bergabung dengan warga lokal untuk menikmati hidangan tradisional tersebut secara bersama-sama. Keramahtamahan mereka membuatku merasa seperti bagian dari keluarga besar Desa Serang, bukan lagi sekadar orang asing yang datang berkunjung.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, akan dilakukan prosesi Perang Tomat. Perang Tomat bukan sekedar aksi saling lempar buah, melainkan sebuah ritual modern yang syarat akan makna mendalam. Tradisi ini biasanya menjadi bagian wajib dari rangkaian syukur atas hasil panen yang melimpah.
Alunan musik gamelan kemudian mulai memecah kesunyian, mengiringi langkah para penari yang bergerak lincah di tanah lapang. Aku terpaku melihat gerakan tangan mereka yang gemulai namun penuh tenaga, mencerminkan ketangguhan masyarakat pegunungan. Setiap ketukan kendang seolah beresonansi dengan detak jantungku, membuatku tak henti-hentinya mengagumi kekayaan budaya yang masih terjaga erat di Purbalingga. Cahaya matahari yang mulai meninggi menyinari kostum warna-warni mereka, menciptakan pemandangan yang tak terlupakan.
Tiba-tiba, suasana menjadi semakin riuh saat pertunjukan tari Ebeg dimulai di tengah lapangan. Aku menyaksikan para penari kesurupan dengan gerakan yang tak terduga, sebuah manifestasi kekuatan spiritual yang membuat bulu kudukku meremang. Meski ada rasa ngeri, aku tak bisa memalingkan wajah karena daya tarik magisnya begitu kuat. Di sini, aku belajar bahwa tradisi lokal memiliki sisi misterius yang menuntut penghormatan mendalam dari siapa pun yang menyaksikannya.
Suasana festival semakin hangat saat musik kontemporer mulai berpadu dengan instrumen tradisional di panggung utama. Aku melihat anak-anak muda desa ikut bernyanyi dan menari, menunjukkan bahwa tradisi ini tidak akan punah dimakan zaman. Ada rasa lega yang menyelinap di hatiku melihat estafet budaya ini berjalan begitu natural di kaki Gunung Slamet. Festival ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masa depan dibangun di atas fondasi akar yang kuat.
Ketika festival perlahan berakhir dan orang-orang mulai membubarkan diri, aku memilih untuk tetap duduk sejenak di tepi ladang stroberi. Aku menatap puncak Gunung Slamet yang berdiri kokoh di balik awan, seolah sedang tersenyum melihat anak-cucunya merayakan kehidupan. Pengalaman itu telah memberiku perspektif baru tentang arti sebuah penghormatan kepada bumi yang kita pijak. Aku merasa lebih tenang dan memiliki koneksi yang lebih dalam dengan alam sekitarnya.
Lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu saat aku melangkah menuju kendaraan untuk pulang. Di dalam tas, aku membawa oleh-oleh hasil bumi dan di dalam hati, aku membawa kenangan akan indahnya kebersamaan di Festival Gunung Slamet. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa ikut kembali merayakan harmoni di Desa Serang. Purbalingga malam itu terasa begitu damai, meninggalkan jejak kekaguman yang akan terus kusimpan dalam ingatan.(*)