Wujudkan Generasi Emas, Mahasiswa S2 BK UNNES Beri Penguatan Resiliensi bagi Pengurus OSIS SMK Dr. Tjipto Semarang

SEMARANG – Dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), mahasiswa Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar layanan psikoedukasi intensif bagi kelompok siswa yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Kegiatan yang mengusung tema “Menjadi Remaja Tangguh: Internalisasi Resiliensi Skills di Era Disrupsi” ini bertujuan untuk membekali para pemimpin muda dengan kemampuan bertahan dan bangkit dari tantangan mental maupun sosial.

Fokus Utama: Membangun Ketangguhan Mental

Di tengah tingginya tekanan akademik dan dinamika media sosial, remaja seringkali rentan terhadap stres. Mahasiswa S2 BK UNNES hadir memberikan intervensi psikoedukasi yang mencakup beberapa aspek penting resiliensi, antara lain:

  • Regulasi Emosi: Kemampuan mengelola perasaan di bawah tekanan organisasi.
  • Efikasi Diri: Keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah.
  • Optimisme Realistik: Membangun sudut pandang positif namun tetap berpijak pada fakta.

“Resiliensi bukan sekadar bertahan, tapi bagaimana remaja mampu ‘melenting’ kembali setelah menghadapi kegagalan. Sebagai pengurus OSIS, mereka adalah peer group yang akan menjadi teladan bagi siswa lainnya,” ujar mahasiswa S2 BK UNNES.

Kontribusi Nyata terhadap SDGs

Layanan ini bukan sekadar pemenuhan tugas akademik, melainkan manifestasi nyata dari poin-poin pembangunan berkelanjutan:

  1. SDGs 3 (Good Health and Well-being): Menjamin kesehatan mental remaja. Dengan memiliki resiliensi yang baik, risiko gangguan mental pada usia sekolah dapat ditekan secara signifikan.
  2. SDGs 4 (Quality Education): Pendidikan tidak hanya soal kognitif. Kesejahteraan emosional (well-being) siswa adalah fondasi utama agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan efektif dan inklusif.

Metode Psikoedukasi yang Interaktif

Berbeda dengan seminar searah, kegiatan ini menggunakan pendekatan Experiential Learning. Para siswa diajak melakukan simulasi penyelesaian konflik, diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion), dan sesi refleksi diri.

Pihak sekolah menyambut baik inisiatif ini. Menurut mereka, kehadiran mahasiswa pascasarjana dengan pemahaman teori bimbingan konseling yang mutakhir sangat membantu guru BK di sekolah dalam memetakan potensi dan hambatan mental siswa.

Melalui langkah kecil ini, UNNES terus membuktikan komitmennya sebagai kampus konservasi yang tidak hanya menjaga alam, tetapi juga menjaga “ekosistem mental” generasi muda Indonesia agar tetap tangguh menghadapi masa depan.

Penulis: Hana Rizqiani Khoirunnisa